Anak Kost

Sewaktu memutuskan untuk melanjutkan studi di Jakarta, ngekost tidak pernah masuk dalam listnya orangtua saya, terutama si mami. Tapi karena satu dan hal lainnya, akhirnya saya diijinkan untuk ngekost di wilayah kampus. Beberapa tahun kemudian, saya memutuskan untuk pindah kost setelah dinyatakan lulus sidang tesis S2. Kalau dihitung-hitung, saya sudah ngekost hampir 9 tahun, dan sudah hampir 3 tahun terakhir ini saya ngekost di tempat yang sekarang 😀

Menurut saya pribadi, jadi anak kost itu susah-susah gampang. Susah kalau kamu bukan tipikal orang yang bisa hidup bersosialisasi dengan orang lain, dan gampang jika sebaliknya. Waktu masih ngekost di tempat yang lama, saya hampir tidak kesulitan untuk bersosialisasi sebab mayoritas penghuninya seumuran dengan saya. Bagaimana dengan kondisi di tempat yang baru?

To be honest, awalnya saya kurang mengenal penghuni di tempat yang baru, padahal saya sudah tinggal 2 tahun lebih, haha.. Saya tahu nama mereka tapi tidak pernah spent time buat ngobrol lebih lanjut, hanya sebatas say “hi” saja. Mungkin karena penghuninya tergolong cukup sedikit, hanya sekitar 15 orang. Mungkin juga karena faktor kami sudah bekerja, bukan mahasiswa lagi. Jangankan ngobrol, ketemu saja jarang sekali. Kehidupannya benar-benar menganut asas “gue elu” banget deh.

Sampai suatu hari ada seorang penghuni kost (cukup) baru yang minta tolong untuk direferensikan kerjaan di kantor saya, sebut saja namanya Ren. Saya merasa agak weird sewaktu Ren minta referensi sebab saya belum mengenal karakternya seperti apa, tapi karena saya baik hati dan tidak sombong saya pikir yawis coba bantu referensi tapi selanjutnya tergantung usaha dan doa sendiri. Dari situ perlahan-lahan ada intensitas obrolan antara saya dengan beberapa penghuni kost yang lain, dua di antaranya si Mich dan ciDew, tapi masih sebatas basa basi saja. Sampai akhirnya, si banjir tahunan – yang tidak diharapkan – datang kembali di awal tahun ini. 

DSC_1455
Penampakan banjir di kompleks kami, foto diambil dari lantai dua kost
DSC_1459
Penampakan banjir di kompleks kami, foto diambil dari lantai satu kost

Engga ngantor, susah cari makan, trus napain? Karena malas juga stay di dalam kamar terus, akhirnya beberapa penghuni kost keluar kamar sambil ngobrol satu sama lain. Obrolan itu ternyata berlanjut ke acara “pembersihan isi kulkas” yang berakhir dengan “memasak nasi goreng wuenak” seperti foto di bawah ini 😀

DSC_1478
Nasi goreng wuenak

Di balik talkativenya, si Ren itu ternyata pintar masak. Selera masakannya cocok di lidah saya, Mich, ciDew dan suaminya. Cuma yah, cuma mereka ini, mereka ini selera pedasnya benar-benar pedas mampussssss… Ini sih namanya banjir membawa nikmat. Hahaha.. Apa itu saja masakannya? Tentu tidak. Malam harinya, Mich mengeluarkan laksa instan yang dimasak dengan tampilan seperti di bawah ini 😀

DSC_1488
Laksa instan

Kalau dipikir-pikir, banjir tahun ini membawa berkah sekali karena obrolan di kala banjir itu berlanjut sampai keesokan harinya, lanjut lagi ke minggu depannya, disambung lagi ke bulan-bulan setelahnya, bahkan sampai sekarang 🙂

Tempo hari ada satu penghuni kost bernama Mon yang hobinya masak juga. Bersama Ren, dia rela pagi-pagi masakin makanin ini buat kita semua. But nothing is eternal, Mon memutuskan untuk pindah kost karena alasan pekerjaan.

DSC_1880
Mau? Mau? Mau?

Tentunya cerita seputar kost tidak hanya berakhir di meja makan tetapi berlanjut ke acara nonton bersama. Hahaha.. Sampai sejauh ini, kami semua sudah spent-our-quality-time (cieee) untuk nobar dua kali, yaitu Cinderella dan Furious 7. Our next plan is nobar Final Liga Champion 2015! Haha.. Semoga terwujud yah 😛 (meskipun MU tidak lolos ke UCL tahun ini, saya tidak akan bersedih karena ada aa’ Neuer di Muenchen! *loh*)

DSC_1906
Nobar Cinderella

Eh, si Ren so sweet sekali. Saya, ciDew, Mich, dan Mon dapat gantungan kunci dengan warna kesukaan dan nama kita masing-masing. So lovely..

DSC_2100

Tapi karena kami semua hobinya makan, jadi hidup engga seru tanpa mencoba makanan rame-rame yah, hahaha..

DSC_2886
Kue cubit greentea
DSC_2920
Bakmi singkawang
DSC_2922
Nasi campur
DSC_2927
Manhattan fish market
DSC_2942
Ayam kuluyuk, cah caisim, bandeng pepes sambal hijau, mun tahu @ Manise
Tokyo Ramen Tabushi
Cold Stone
Left to right : Ren, ciDew, Mich, Mon, saya

Apakah kami hanya melakukan hal-hal di atas? Oh, tentu tidak… Sebentar saya bikin list dulu 😛 Ada group di Whatsapp, beli botol minum yang sama tapi beda warna, beli kalung yang sama tapi beda warna, bahas problematika hidup (cieee) dari bahasan paling ringan sampai paling berat (kalau kata ciDew, dari yang awalnya berdiri terus melipir ke arah tangga dan duduk ngedeprok disitu, haha), kutekan dan Tsum-Tsum bersama (ini hanya antara ciDew, Mich, dan Ren, hahaha), sampai ke acara kerokan bersama 😛

Anyway, ada satu hal menarik di antara saya, ciDew, dan Mich. Kami bertiga adalah anak sulung, dan “somebody”nya kami itu anak bungsu! Kebayang donk gimana serunya kalau lagi membahas soal “somebody” itu? Hahaha… Bedanya ciDew sudah married, sedangkan saya dan Mich belum 😛

Saya tidak punya harapan yang muluk-muluk dengan semua ini karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok atau nantinya, just keep doing good things. Memang tidak ada hal yang abadi, tetapi segala sesuatu yang dilakukan dengan (tujuan) baik akan menjadi abadi (untuk orang lain) 🙂

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

33 Comments

  1. nama gue dibawa2 lagi, lain x bayar royalti ya wien :p

    nobar bola uda jaminan c koko yang ikut, gue tidorrr aja dah, wkwkwkwk..
    setuju wien, qta jalanin aja selama itu baik tokh hasilnya nanti juga akan baik 😀 just let it flow (not let it go) *u know what i mean, hahahahaha..

    Like

    1. Kalau gitu lu yang duluan bayar royalti soalnya lu yang duluan posting ci, hahaha..
      Ah kamu gitu deh *mewekmewek*
      Iya, apa yang ditanam baik akan berbuah baik. Kalau mau ‘let it go’ kudu pakai dressnya Elsa Frozen dulu ci :p

      Like

  2. jaman ngekos emang banyak seru2nya ya…
    jadi inget sama ngekos jaman kuliah yg sering nonton TV bareng di lorong kosan sambil makan, ngemil, gegoleran, tidur siang, sampai baca komik bareng.
    kangeennnn

    Like

  3. Katanya, kalau mau menghindari homesickness, mesti membuat keluarga baru di tempat perantauan. Saya pikir sudah tercapai banget ya untuk cerita ini, Wien, sudah kuat banget ikatannya, hampir sama dengan keluarga. Seru banget kalau asas elu gue elu gue itu tidak begitu berlaku karena yah, pada hakikatnya manusia itu kan makhluk sosial, ya?

    Like

  4. Astaga Wien baca ini aku jd ngitung2. Ternyata udah tinggal di luar rumah 9 tahun alamakkkk. Ngekostnya 6 tahun di antara 9 itu. Duluuu nemu temen tinggal yang cocok susah banget 😦 terus nemu dan tapinya bubaran krn pada pul kam, hehehe.

    Like

    1. Haha, iya ni engga berasa sudah masuk tahun kesembilan *nasibanakkostmengejarsekarungberlian* 😀
      Dulu saya pernah sekamar dengan orang lain juga tapi ternyata kurang cocok jadi sekarang engga mau sharing room lagi, haha..

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s