SunWien – A Matter Of

Post ini dibuat bukan untuk diumbar-umbar melainkan supaya saya dan S memiliki sesuatu untuk diingat nantinya 🙂

“SunWien” merupakan gabungan antara nama saya dan S. Inisial “Sun” diberikan oleh mantan bosnya di kantor lama, sedangkan nickname saya memang “Wien” dari kecil. Ceritanya mantan bos S dulu suka memberikan inisial ke karyawan dan inisial tersebut diucapkan untuk memanggil masing-masing karyawan, salah satunya si S yang sering dipanggil “Sun”. Setelah dipikir-pikir, dua nama itu cocok untuk mewakili kami berdua. #maksadikit 😛

Awalnya saya dan S ingin married di tanggal 17 September 2016 karena tanggal tersebut jatuh di hari Sabtu. Selain itu, 17 September merupakan tanggal jadian kami dan 2 sahabat saya married di tanggal 15 September yang dekat dengan 17 September. Alasan ketiga hanya alasan candaan, kan seru kalau 3 sahabat bisa merayakan anniversary di tanggal yang sama #maksabanget, tetapi akhirnya saya dan S memutuskan untuk tetap menikah di tanggal 5 November 2016 sesuai perhitungan “orang pintar / peramal”.

7

Iya, kami berdua datang ke rumah “orang pintar” atas suruhan kedua mama kami yang masih sangat percaya dengan tradisi “tanggal baik”. Katanya elemen saya dan S sama-sama panas jadi harus menikah di musim dingin supaya rumah tangga selalu sejuk.

Bulan yang berakhiran ‘ber’ merupakan bulan yang katanya cocok dan kami diberikan dua jenis tanggal yaitu 5 November 2016 dan 17 September 2016. Tuh kan boleh married di tanggal 17 September 2016!

Tapi kedua mama tetap keukeuh memilih tanggal 5 November 2016 karena itu adalah pilihan pertama. Yawis, katanya sebagai anak kudu nurut sama orangtua terutama mamak.

Tema yang kami usung adalah “casual” karena kami berdua tidak mau perayaan yang meriah apalagi mewah. Hal yang lebih menggalaukan kami adalah soal warna untuk temanya. Saya sempat bahas disini kalau warna kesukaan S merah dan oranye sedangkan favoritnya saya biru dan hitam. Hitam sudah pasti tidak mungkin dipakai sih jadi beberapa pilihan kami adalah warna biru royal-emas, warna biru royal-soft pink, warna biru langit-soft pink, warna biru tiffany-kuning soft, warna biru tiffany-oranye, warna biru royal-putih susu, dan hasilnya? Warna merah-emas hahaha.. Iya warna merah dan emas menjadi pilihan karena diminta oleh kedua mama, dan kami tidak boleh menggunakan warna biru atau putih. Katanya dua warna itu berhubungan dengan dukacita. #nangisbombay

Bicara soal prewedding, saya dan S sempat kepikiran mau sewa lapangan Gelora Bung Karno (GBK) sebagai lokasinya. Itu pikiran jaman masih pacaran dulu sih, alasannya ya karena kami berdua ini suka dengan sepakbola – terutama S – jadi sempat kepikiran mau foto pakai baju bola di lapangan bola dan jadi bolanya. S bahkan sempat mengatakan kalau foto preweddingnya mungkin akan lebih epic kalau tiba-tiba turun hujan. Ya kali becek-becekan haha. Tapi kog yah semakin kesini kami berdua semakin malas mengeluarkan dana untuk sewa GBK yang mahal, malas bayar lebih mahal ke fotografer, malas bawa outfit dan pernak-pernik sendiri, dan malas sewa jasa make-up artist (MUA). Faktor malas itu benar-benar sesuatu deh. Benar kata orang, malas itu salah satu musuh besar manusia 😛

Ada teman yang sempat menawarkan DSLR dan tripodnya supaya kami bisa foto sendiri menggunakan timer kamera – seperti yang dilakukan teman kami yang lain – tetapi saya menolak karena ya itu, ribet. Ceritanya tahun lalu ada 1 teman kami yang sengaja keliling beberapa kota di Indonesia dengan calon suaminya sambil nenteng kamera DSLR, tripod, gaun, jas pria, sandal jepit, dan sneakers masing-masing untuk foto prewedding sendiri pakai timer kamera. Niat banget yah mereka. Saya salut sekali dengan usaha mereka itu. Sepertinya keren dan asyik tapi lagi-lagi malas haha.. Akhirnya saya dan S memutuskan untuk foto prewedding indoor di dua tempat berbeda, di Ricky L menggunakan voucher dari Groupon dan foto di Bianca karena merupakan bridal kami dan sedang ada promo khusus.

Sewaktu acara lamaran dan tunangan, saya dan S juga tidak ada outfit khusus, hanya diminta (lagi-lagi) orangtua untuk mengenakan pakaian yang ada warna merahnya. S mengenakan kemeja Batik Keris bercorak yang masih ada aksen merahnya, celana joger Uniqlo abu-abu, dan sepatu Skechers Go-Walk biru. Saya mengenakan dress merah polos selutut Eprise yang sudah ada belt hitamnya, dan wedges Crocs pink. Sempat mau beli dress merk lain tapi Eprise sedang promo buy one get one saat itu jadi pilihan dompet lebih condong ke Eprise haha.. Sedangkan outfit keluarga kami semuanya casual.

1

Bicara soal perhiasan pasti tidak jauh-jauh dari mas kawin dan cincin nikah. Kalau di keluarga saya tambah 1 jenis barang, yaitu bros cicak emas (ini diluar kalung yang matanya ada gambar naga dan burung merak atau biasa disebut “lenghong”). Ada sebuah toko perhiasan di gedung Chandra Glodok yang menjadi langganan keluarga S, namanya Toko Mas Menteng. Still and all, kami berdua tetap menyempatkan waktu untuk survey di beberapa toko perhiasan di gedung yang sama bahkan di pameran dan mal, namun tetap saja hati kami kembali ke Menteng karena pelayanannya paling oke, harganya paling masuk akal, modelnya cocok, dan tokonya selalu ramai haha. After servicenya juga oke. Saya dan S lebih suka warna emas kuning daripada emas putih. No special reason sih, hanya suka saja 🙂

5

Sedangkan bros cicak emas merupakan tradisi orang Tionghoa di kota Pontianak, dan 6biasanya diberikan dari orangtua mempelai wanita ke mempelai pria, disematkan ke jas saat teapai.

Bros cicak emas dilambangkan sebagai simbol kemakmuran sebab katanya cicak asli selalu berjalan ke atas tidak pernah ke bawah, jadi maknanya supaya S dapat memimpin keluarga kami ke atas (semakin baik) bukan ke bawah (semakin buruk).

Itu sih katanya ya dan biarlah tradisi ini menjadi wujud doa dan harapan baik. Mama saya membeli bros cicak emas di toko perhiasan temannya.

Untuk alas kaki di hari H, saya dan S tidak mau membeli alas kaki yang hanya bisa dipakai satu kali. Sayang duitnya bok. Jadi S membeli sepatu pantofel Crocodile hitam sedangkan saya membeli wedges Charles & Keith cokelat karena selain sepatu teplek, saya memang suka dengan wedges daripada heels.

Entah S dapat angin surga dari mana, ketika sedang meeting dengan klien di Mal Puri Indah, dia melihat wedges Crocs kesukaan saya sedang promo dari 1,2 jutaan menjadi 250 atau 300 ribu tapi warnanya hanya pink dan ungu, tidak ada biru. Satu hari dia bawa saya kesana katanya mau cari barang, nyatanya dia minta saya membeli wedges Crocs itu supaya saya bisa memakainya di acara makan meja keluarga. Jadi saya memakai wedges Charles & Keith cokelat dari pagi sampai sore hari, dan memakai wedges Crocs pink di malam hari. Saya juga memakai wedges Crocs ini di acara lamaran dan tunangan.

Laters!

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

22 Comments

  1. Sama kayak kita pas mau married dan cari tanggal baik juga dibilang nya karena kita sama sama panas mesti kawin di musim ujan yg berakhiran ber. Trus dpt tanggal awal November. Tp berhubung kelamaan jd kita maksa married bulan maret. Tp ternyata pas kita married ujan. Jd pas tuh… Hahaha

    Like

    1. Hahaha pas banget yah hujannya turun waktu hari H-nya ko Arman. Kita berdua percaya semua tanggal itu sebenarnya baik cuma karena hormatin dua mama jadinya kita nurut deh hahaha..

      Like

  2. Kalau dibolehin ama keluarga casual mah enak banget win…. untung kamu ga kawin ama orang Batak..kalau nggak ya udah kebayaan pake songket2an segala…hihihi tapi tiap suku tuh menarik kok. Aku baru denger ttg filosofi cicak. Menarik…!

    Like

    1. Mba Jo orang keberapa yang ngomong begitu : “untung lu engga kawin sama orang Batak”. Kenapa Batak sering menjadi salah satu indikatornya? Hahaha.. Dulu aku pernah ke kawinan teman orang Batak yang super komplit mba, benaran ribet si hahahaha..

      Like

          1. Nah gak tahu juga tuh Wien kenapa.. kayaknya semuanya serba simpel, karena weddingnya sama org medan yang gede di jakarta, plus sodaranya semua tinggal di States, jadi udah lebih ga ikut2 tradisi lagi..

            Like

              1. Iya.. padahal masih banyak yang senior2 juga lho.. cuma pada bisik2, ga gede2 omongnya, tapi as WO nya kita pada ngerti sih mereka ngomong apa, cuma yah ikutin yang pengantinnya mau deh.. Secara dah dibahas dr awal, apakah ada tradisi atau ngga..

                Like

  3. Hai wien, salam kenal ^^ boleh tau beli bros cicaknya dimana? soalnya susah banget cari yng kecil, rata” gede” 6.5 cm, jadinya kaya buaya bukan cicak hiks T_T

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s