Kenapa Kamu Nikah

Harus diakui, tiga kata yang menjadi judul post ini sempat menguasai pikiran saya untuk waktu cukup lama. Entah berapa lama pokoknya lama saja haha.. Saya tidak tahu bagaimana pendapat orang lain ( khususnya kaum wanita ) mengenai pernikahan dan pernak-perniknya, tapi saya bukan orang yang menganggap bahwa pernikahan itu hal paling utama dalam hidup.

Beberapa sahabat mengaku merasa kaget sekali ketika mengetahui kabar tentang rencana pernikahan saya sebab ya itu tadi, mereka tahunya saya ini bukan orang yang peduli dengan pernikahan meskipun saya berpacaran dengan seseorang ( tentunya laki-laki ya haha ). Wajar sih mereka berpikiran seperti itu karena saya memang lebih memilih karir dan studi daripada urusan nikah dan printilannya. Ada beberapa teman yang sempat mengutarakan kekecewaan mereka sebab saya lebih memilih jalur pernikahan daripada teken kontrak beasiswa untuk studi di luar negeri. Satu hal yang pasti, saya sudah mempertimbangkan keputusan ini dengan matang dan – tentunya – saya pun memiliki alasan tersendiri. Di post kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai S.

Kalau dihitung secara resmi, S adalah pacar keenam saya dan saya adalah pacar ketiganya. Saya kenal dia ketika melanjutkan studi S2 di tahun 2010 dan mulai berpacaran di tahun 2011. Sebagian besar orang mungkin beranggapan jika durasi 5 tahun itu sudah lama tapi saya merasa 5 tahun itu masih terbilang singkat; masih seperti anak kecil yang baru lulus TK dan masih belajar banyak hal baru.

Sejujurnya saya juga tidak tahu mengapa saya bisa menetapkan hati untuk S ( atau sebaliknya ) sebab kami berdua memiliki perbedaan cukup signifikan. Sifat S cenderung introvert dan sensitif, saya cenderung ambivert dan cuek. Warna kesukaannya merah dan oranye, saya suka biru dan hitam. S bercita-cita ke RRT, saya bercita-cita ke Jerman. S fans sejati AC Milan, saya DFB dan Manchester United. S menyukai eksakta, saya suka literatur. S lebih suka stay at home daripada jalan-jalan, lebih suka musik Chinese lawas daripada musik barat ( dia bingung mengapa saya suka sekali dengan Coldplay dan Adele ), dan tidak suka kehidupan malam ataupun media sosial. Mungkin persamaan kami hanya terletak di sifat keras kepala yang serupa, kecintaan terhadap dunia bola dan renang, penikmat produk kayu dan batik, serta kebiasaan mengonsumsi air putih dalam jumlah banyak.

Hubungan saya dan S bukanlah hubungan mulus nan lancar selama 5 tahun lebih ini. Ibarat jalan, hubungannya ada pertigaan, perempatan, gang-gang kecil, salah putar balik, salah belok, batu kerikil, lubang dalam, you name it. Semua itu sebenarnya bisa membantu kami untuk belajar lebih mengenal pribadi satu sama lain jika dilihat dari segi positif, tapi namanya manusia ada masa-masa down yang membuat segala bentuk pikiran negatif pun bergentayangan dengan bebasnya. Saya bisa berpikir “kenapa sih harus sama dia?” dll ketika fase itu datang. Mungkin S juga pernah memikirkan hal serupa.

Meskipun saya dan S bukan kaum religius atau fanatik tetapi kami berdua percaya jika Tuhan itu selalu baik. Salah satu masalah yang pernah kami hadapi adalah soal agama yang kami anut. Sempat menjadi masalah pelik, persoalan tersebut mampu membuat kami beralih kepada pihak lain daripada mempertahankan hubungan yang sudah terjalin lama. Tapi saya dan S sadar dengan “rasa” yang masih ada, dan hal itu yang membuat kami sepakat untuk membahas berbagai macam hal kembali.

Berkaca pada kondisi bahwa Tuhan tidak pernah memaksakan seseorang untuk memeluk suatu agama, lantas mengapa saya dan S harus memaksakannya satu sama lain? Kami masih memiliki Tuhan yang sama dan keyakinan serupa, perbedaan hanya terletak pada nama. Pihak lain mungkin beranggapan kami ini sok idealis tapi ya itu tadi, saya dan S menganggap agama itu suatu privasi antara Tuhan dan umatNya, sifatnya demokratis dan tidak boleh dipaksakan. Masalah agama ini bukan menjadi satu-satunya masalah yang dihadapi oleh saya dan S, tapi saya bersyukur semuanya bisa diselesaikan dengan baik dan bisa menjadi pelajaran baru untuk kami berdua. Fase kejujuran dan komunikasi merupakan hal paling penting untuk menyelesaikan semuanya. Kalau memang ga mau ya bilang ga mau, kalau ga suka ya bilang ga suka 🙂

Saya dan S tidak masalah jika ada pihak yang berkomentar semacam “lu orang kan masih muda jadi wajar kalau masih bisa mikir kayak gitu” dll karena memang nyatanya kami memang masih muda 😛 Sebenarnya kami cuek bukan karena itu sih tapi kami hanya mencoba untuk bersikap realistis dengan kondisi yang dijalani saat ini. Kami juga tidak mau ambil pusing dengan komentar yang kurang supportif dari orang lain. Bukannya tidak menghargai tapi kami kasihan dengan otak yang harus menampung apa kata orang lain terus menerus. Tidak pernah ada habisnya juga kan? Semua orang berhak mengutarakan pendapatnya dan kami juga berhak untuk memilah pendapat tersebut.

Back to the topic. Kenapa kamu nikah? Karena memang sudah waktunya. Sometimes you will know when the time is right #sokbijaklagi. Kenapa kamu nikah dengan S? Selain karena masih ada “rasa” dan tujuan yang sama, saya dan S sama-sama sudah mengetahui dan mengenal sifat baik dan buruk yang kami miliki. Wish me luck!

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

35 Comments

  1. Pertama-tama, selamat ya..😀 Semoga lancar segala urusannya.. Kedua, orang du sekitar kita akan selalu punya komentar, terlepas dari apapun yg kita lakukan.. Jadi menurut saya, sepanjang kita yakin ini yg terbaik utk kita dan tidak mengganggu ketertiban bermasyarakat, ya jalani saja.. Semoga berhasil👍🏼

    Like

  2. Dan ketika kata sepakat di lakukan bersama, maka segala resiko akan di tanggung bersama.
    Karena berdua lebih baik dari pada sendiri.
    Selamat yaa dear.. apapun yang di jalani nanti ingatlah selalu apa yg kau tulis ini mengingat
    TUHAN ITU BAIK.

    with love,

    Like

  3. Wien, selamaatt ya menuju ke langkah selanjutnya. Petualangan yang tidak kalah serunya. Kamu 5 tahun masa2 perkenalan dan penjajakan merasa waktu yg sebentar, apa kabar yang 8 bulan ini ya (benerin jilbab haha). Beda sifat dan kesukaan itu justru seru Wien. Makin nambah pengetahuan dan sering debatnya (yg terakhir pengalamanku sih haha)

    Like

  4. Selamat ya, Wien. Jd nikahnya hari ini ya tanggal 5? Hari “bagus” tuh, banyak banget yang merit di Jakarta. Mungkin pertanyaannya bukan kenapa nikah, tapi kenapa nikahnya sama yang ini… Biar lbh seru… Hahahahaha… Enjoy your wedding day, and most of all, enjoy your marriage!

    Like

    1. Hai ci, sorry baru sempat balas. Iya tanggal 5 ci hehe. Iya juga banyak yang bilang itu hari “bagus”. Sejujurnya saya dan S menganggap semua tanggal itu baik hanya saja kami nurut sama orangtua yang minta “hitung tanggal” dan pilihannya jatuh di tgl 5 ini hehe.. Amen, thank you ci!

      Like

  5. Selamat yach Wien, semoga semua-muanya dilancarkan, Dan menjadi pernikahan yang diberkati dan memberkati banyak orang. Kemaren padahal pengen bangat menghadiri hari bahagia mu. Tapi apa daya.. hehehe. Yang pasti berbahagia selalu yach.

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s