SunWien – The Matrimony

Saya menganut agama Kristen Katolik dan S menganut agama Kristen Protestan tetapi kami berdua memutuskan untuk melakukan pemberkatan pernikahan di gereja Kristen Katolik.

Pada umumnya gereja Kristen Protestan tidak menerima pemberkatan beda agama; kedua mempelai biasanya harus sama-sama beragama Kristen Protestan dan saya tidak mau pindah agama. Sedangkan gereja Kristen Katolik menerima pemberkatan beda agama selama salah satu mempelai beragama Kristen Katolik.

Khusus untuk pemberkatan pernikahan antara Kristen Katolik dan Kristen Protestan, gereja Kristen Katolik memandangnya sebagai pernikahan beda gereja bukan beda agama. Beda agama berlaku apabila mempelai yang beragama Kristen Katolik menikah dengan mempelai yang beragama Islam / Hindu / Budha / Konghucu / agama lainnya.

5
Suasana kapel waktu gladi bersih kami

Pemberkatan pernikahan kami dilangsungkan di Kapel Santa Theresia Lisieux di Gereja Maria Bunda Karmel Jakarta. Banyak pasangan yang menikah di tanggal 5 November 2016 sehingga kami diberikan dua opsi waktu yang tersisa :

  • pemberkatan di gereja utama pukul 08.00 pagi atau pukul 12.00 siang
  • pemberkatan di kapel pukul 08.00 pagi atau pukul 14.00 siang

Dalam tradisi pernikahan Tionghoa terdapat sebuah sesi mempelai pria harus menjemput mempelai wanita untuk masuk ke rumah mempelai pria. Nah, sesi ini biasanya juga memiliki “hitungan waktu baik untuk masuk ke rumah”, dan si “orang pintar” – yang menghitung tanggal pernikahan kami (klik disini) – mengatakan “waktu baik” saya untuk masuk ke rumah S adalah pukul 09.00 sampai 10.30 siang.

Mau tidak mau waktu pemberkatan kami harus setelah sesi tersebut karena kedua mama kami sangat peduli dengan perhitungan “masuk rumah” itu. Saya dan S akhirnya memilih jadwal pemberkatan di kapel pukul 14.00 siang karena tidak mungkin pukul 08.00 pagi. Mengapa kami memilih kapel bukan gereja utama? Sebab harga pemberkatan di kapel lebih murah daripada harga pemberkatan di gereja hahaha..

FYI, harga sewa kapel sudah termasuk dekorasi untuk altar dan catatan sipil sehingga kami hanya perlu menambah sedikit dana untuk bunga persembahan Bunda Maria, stipendium romo, dan angpao untuk para petugas yang membantu kami di hari H. Sedangkan harga sewa gereja utama hanya meliputi catatan sipil, belum termasuk dekorasi dan lainnya. Kami tidak mau munafik kalau hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama. Pertimbangan lanjutannya karena jumlah tamu undangan tidak terlalu banyak – hanya sekitar 60 orang – dan akan timpang dengan bangunan gereja utama yang besar itu.

4
Dekorasi altar dan bangku mempelai

Setelah memilih jadwal dan melunasi pembayaran, saya dan S mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan (KPP) sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan gereja. Biaya administrasi KPP adalah Rp 300.000,- per pasangan, dan nilai ini diluar pembayaran sewa kapel. Kami mengikuti KPP dari tanggal 29-31 Juli 2016. Hari pertama membahas tentang hukum dan moral perkawinan Katolik serta spiritualitas perkawinan. Hari kedua membahas tentang komunikasi dan relasi suami istri serta ekonomi rumah tangga. Hari ketiga membahas tentang seksualitas dalam perkawinan, keluarga berencana alamiah, panggilan menjadi orang tua, pembagian sertifikat, dan ditutup dengan misa di kapel.

Selain saya dan S, ada 49 pasang lain yang ikut KPP di jadwal tersebut jadi totalnya ada 100 orang peserta. Saya masih ingat bagaimana awalnya semua orang di ruangan semangat mengikuti KPP ini tapi lama-kelamaan semangat itu akhirnya kendur juga, mungkin karena cape dan ngantuk. Hari pertama dan kedua mulai dari pukul 16.15 sampai 21.30 malam, dan hari ketiga mulai dari pukul 07.15 pagi sampai 16.00 sore. Oya, sertifikat yang diberikan merupakan tanda bahwa saya dan S sudah mengikuti KPP, dan sertifikat ini dibutuhkan di tahap penyelidikan kanonik.

1
Romo Kris, S, dan saya

Setelah mengikuti KPP dan melengkapi berkas yang diwajibkan, kami berdua mengikuti penyelidikan kanonik di awal bulan September 2016.

Romo yang bertugas adalah Romo Paulus Kristianto Puji Sutrisno atau yang biasa disapa Romo Kris. Saya dan S harus menghadirkan dua orang saksi sebab S tidak menganut Kristen Katolik.

Para saksi adalah umat Katolik yang benar-benar mengenal pribadi S dan bukan anggota keluarga kandung S. Romo Kris dan saksi kami di penyelidikan kanonik ini nantinya menjadi romo dan saksi di pemberkatan pernikahan kami juga.

Saksi pertama adalah mantan manajer saya di kantor lama yang memang kenal S dan nyambung diajak bicara apa saja termasuk bola. Beliau juga seorang Milanisti seperti S. Saksi kedua adalah mantan senior saya di senat mahasiswa dulu yang ternyata teman baik S sejak SMA sampai sekarang.

Setelah menyelesaikan KPP dan Kanonik, saya dan S melengkapi berkas untuk catatan sipil karena akan diurus oleh pihak gereja. Setelah itu kami harus membuat draft buku misa pemberkatan yang akan diperiksa Romo Kris, mencari lektor (pembaca kitab suci) dan paduan suara, serta membeli barang yang diperlukan untuk pemberkatan nanti. Perihal paduan suara, kami sangat beruntung sebab mantan teman sekantor saya – yang merupakan aktivis gereja – berbaik hati menawarkan bantuan untuk bernyanyi bersama vocal groupnya yang bernama Mass D Solafida Choir.

Teman saya ini juga mengenalkan temannya yang merupakan salah satu lektor terbaik gereja untuk membantu di pemberkatan saya dan S. Kurang beruntung apa coba kami ini! Vocal groupnya sangat bagus meskipun hanya berjumlah 5 orang. S, mama saya, dan beberapa teman saya sampai takjub mendengar suara mereka berlima.

Saya dan S juga dibantu oleh seorang koster gereja bernama Pak Muji yang bertugas untuk memandu gladi bersih serta menyiapkan segala sesuatu di hari H. Kami juga membeli bunga persembahan untuk Bunda Maria lewat Pak Muji. Sisanya kami tinggal membuat buku misa – setelah draft disetujui oleh Romo Kris – dan membeli salib, rosario, Alkitab pernikahan, dan cincin nikah untuk diberkati pada hari H.

6
Bunga Bunda Maria

Kerusuhan yang terjadi di wilayah Penjaringan pada tanggal 4 November 2016 malam nyatanya tidak membuat takut dan ciut para tamu undangan untuk hadir di pemberkatan kami. Saya dan S sangat bersyukur sebab seluruh proses pemberkatan berjalan dengan lancar tanpa kendala. Cukup banyak pihak yang khawatir dengan acara kami sebab kerusuhan dan penjarahannya parah sekali bahkan ada teman yang menyuruh saya untuk menunda acaranya. Saya dan S berusaha tenang dan tetap berdoa, the show must go on, dan kami serahkan semuanya ke Tuhan karena Dia yang membuka semua jalan ini maka Dia akan mengaturnya. Tidak semua hal di dunia ini dapat dikontrol oleh manusia sekalipun manusia tersebut adalah orang yang paling berkuasa. #sokbijak

Saya dan S sempat khawatir dengan jadwal yang kami susun ketika masih sibuk mengurus semuanya. Meskipun sama-sama berada di daerah Barat, perjalanan dari hotel ke gereja atau dari gereja ke restoran tetap “makan” waktu hampir 1 jam karena macet parah. Kami sengaja spare time 1 jam lebih awal untuk tiba di gereja (dari hotel) supaya tidak terjebak macet. Seperti yang saya bilang di atas – maka Dia akan mengaturnya – jalanan dari hotel ke gereja hari itu sangat lancar! Kami tiba di gereja sekitar pukul 12.30 siang karena tidak macet sama sekali, mungkin karena efek kerusuhan di Penjaringan. Hal serupa juga terjadi ketika kami hendak berangkat dari gereja ke restoran, jalanan lancar jaya banget deh pokoknya, sebaliknya jalanan menuju gereja mulai macet.

Penandatanganan berkas catatan sipil dilakukan setelah sesi pemberkatan dan foto-foto, disaksikan oleh masing-masing orangtua dan kedua saksi kami. Setelah acara selesai, semua tamu undangan yang hadir diberikan suvenir pernikahan kami dan nasi bakar ayam woku milik Nasi Bakar Pangestu yang sengaja dipesan oleh saya dan S. Sudah pernah mencoba nasi bakar ini? 😀

Kami tidak menggelar acara pelepasan balon karena dilarang oleh pihak gereja, dan tidak mau melepas burung juga karena faktor kasihan dengan burungnya. Satu hal yang pasti, saya dan S senang berhubungan dengan pihak sekretariat gereja yang ramah dan sopan sekali dalam membantu kami sejak awal hingga akhir.

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

7 Comments

  1. Dulu gereja Katolik juga ga mau lho Win ngawinin beda Kristen, ini kejadian di kakak ku jadi nya tau 🙂
    kl Protestan keknya tergantung gereja nya ya, ada yg ketat peraturannya, ada juga yg lbh ringan.

    Syukurlah lancar ya padahal pas demo itu ya Win? Duh jd pengen nasi ayam bakar, tanggung jawab ! :-))

    Liked by 1 person

    1. Wah saya baru tahu mba. Akhirnya kakaknya mba gimana? Iya mba, bersyukur sekali tempo hari lancar tanpa kendala berarti. Tunggu mba pulang dulu ya, kalau dikirim ke Belgia tar jadinya busuk wkwkwkwkw

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s