Review Cinderella (2015)

Well, saya akan membuat sebuah kategori baru di blog saya, yaitu “Movie Review” atau yang saya singkat dengan [MR]. Sebenarnya pemikiran ini sudah ada sejak beberapa hari yang lalu, tapi saya baru bisa membuat postnya sekarang. Saya tidak ikut trend review ini atau itu, semua ini murni karena saya memiliki hobi menonton film (kecuali horror). Mungkin ke depannya saya akan membuat review mengenai buku juga. And my first movie review is “Cinderella (2015)”.

Tidak ada alasan khusus mengapa “Cinderella” menjadi film pertama yang saya review. Walaupun mama sering membacakan ceritanya sewaktu saya masih kecil, dan walaupun saya sudah menonton film sejenis ini beberapa kali (mulai dari opera jaman SD, “Ever After” Drew Barrymore, “Into The Woods” Meryl Streep, dan juga “A Cinderella Story” Hillary Duff), saya tidak memasukkan “Cinderella (2015)” di waiting list saya. Saya malahan sudah menunggu “Frozen Fever” sejak akhir 2014 (forgive me, saya memang senang menonton film kartun) 😀

Sampai saya melihat poster ini

Cinderella_2015_official_poster
Cinderella 2015 Official Poster

dan saya jatuh cintaaaaaa………….

Saya bukan jatuh cinta dengan Lily James, tapi jatuh cinta dengan gaun biru yang dia kenakan! Hahaha.. Saya sangat menyukai warna biru, apapun itu, dan rasanya gaun itu simple yet beautiful di mata saya yang tidak mengerti soal fashion ini 😀 Ketika filmnya sudah diputar di bioskop, saya mengajak anak-anak kost untuk menonton film ini, termasuk si blogger seberang kamar bernama ci Dewi 😀 Pucuk dicinta, ulam pun tiba. They said yes, dan kami memutuskan untuk ke bioskop di tanggal 14 Maret 2015. Ah, senangnya hati ini…

Kesan pertama, saya senang bisa duduk di seat E middle (thanks to Michelle!) sebab layarnya pas di depan mata saya. Haha.. The rest was story. Saya begitu terkesima dengan jalan cerita film ini, terkesima dengan pemain-pemainnya, dan tentu saja terkesima dengan si gaun biru, apalagi ketika Ella berjalan pelan menuruni tangga istana 😀 Saya tidak tahu bagaimana tanggapan orang lain mengenai film ini, tetapi saya salute dengan pihak produksinya sebab mereka membuat sebuah cerita oldies menjadi sangat layak untuk ditonton, plus dengan moment-moment yang saya rasa begitu pas..

Mulai dari moment Ella yang begitu dicintai kedua orangtuanya, moment dansanya dengan sang ayah di taman, moment dia berbicara dengan hewan-hewannya, dia bertemu dengan Kit di dalam hutan, dia bertemu dengan ibu dan saudara tirinya untuk pertama kali, moment dia harus survived tanpa kedua orangtuanya lagi, sampai bertemu Fairy Godmothernya, moment dansanya dengan Kit, dan semuanya… Efek-efeknya juga bagus, mulai dari labu raksasanya, tikus-tikusnya, kadalnya, bebeknya. Ciamik. Apik. So lively!

Walaupun saya bukan seorang fashionista (dan memang tidak mengerti dunia begituan), saya benar-benar terkesima dengan gaun birunya. Bukan hanya dengan si biru, saya juga terkesima dengan gaun yang dipakai Cate Blanchett ketika bertemu Ella pertama kali, dan terkesima juga dengan gaun pengantinnya Ella. Saya menyempatkan diri untuk googling setelah pulang dari acara nonton bersama itu. Rasa penasaran sudah memenuhi kepalanya saya, hehe.. Ternyata desainernya itu si Sandy Powell. Nah, buat yang belum tahu Sandy Powell itu siapa, beliau adalah seorang desainer handal yang karyanya sudah memenangkan banyak penghargaan dunia, termasuk Academy Award. Selain “Cinderella (2015)”, beliau juga membuat kostum di film “Shakespeare in Love” Gwyneth Paltrow dan film “The Aviator”nya Di Caprio. Saya sudah nonton “Shakespeare in Love” tapi saya lupa sudah nonton “The Aviator” atau belum.

Berikut ini informasi seputar si gaun biru dari sumber yang saya bacaThe ball gown was inspired by the Disney animated film in its color and shape; “The gown had to look lovely when she dances and runs away from the ball. I wanted her to look like she was floating, like a watercolor painting.” The dress was made with more than a dozen fine layers of fabric, a corset and a petticoat. Nine versions of the Cinderella gown were designed, each with more than 270 yards of fabric and 10.000 crystals. It took 18 tailors and 500 hours to make each dress.

The wedding dress was another difficult project. “Creating the wedding dress was a challenge. Rather than try to make something even better than the ball gown, I had to do something completely different and simple… I wanted the whole effect to be ephemeral and fine, so we went with an extreme-lined shaped bodice with a long train”, said Powell. It took 16 people and 550 hours to complete the silk-organza, hand painted dress. 

Kalau yang ini untuk sepatu kacanya 😀

For the glass slipper, Powell took inspiration from a 1950s shoe she saw in a museum. Since glass does not sparkle, they decided to use crystal instead. Swarovski partnered with Disney to make the famous shoe. Powell went directly to Swarovski headquarters in Austria to meet the product developers. It took 6 digital renderings of the shoes until they found the right one for the film. Swarovski made eight pairs of crystal shoes for the film, though none were actually wearable since it was made of crystal. Consequently, the leather shoes James wore on set had to be digitally altered into crystal. Alongside the slipper, Swarovski provided more than 7 million crystals that were used in costumes and 100 tiaras for the ball scene.

See? Bagaimana saya tidak jatuh cinta dengan si gaun biru itu? Proses pembuatannya saja begitu rumit. Kalau sudah begini ceritanya, Sandy Powell berhak dinominasikan kembali untuk Academy Award loh 😀 Saya dukung deh, dukuung… Demi si biru! Haha..

Film ini bagus untuk ditonton oleh keluarga, termasuk anak-anak. The good part of this film, si ibu dan saudara tiri Cinderellanya tidak ditonjolkan sebagai pribadi yang benar-benar menakutkan. Karakternya lebih ke arah ‘nyebelin’ saja, jadi anak-anak seharusnya tidak mengalami rasa takut setelah menonton film ini.

Another good partnya, menurut saya (ini menurut saya pribadi ya), adegan jatuh cintanya Lily James dengan Richard Madden jauh lebih bagus dan terkesan alami daripada adegan jatuh cintanya Dakota Johnson dengan Jamie Dornan di “Fifty Shades of Grey”. Sampai saat ini, saya masih merasa kecewa dengan film FSoG itu sebab saya sudah membaca bukunya dari 1st ’til 3rd, dan ternyata filmnya benar-benar tidak memenuhi ekspektasi. Saya sempat ketiduran di 20 menit pertama ketika menonton film tersebut. Haha..

Overall, “Cinderella (2015)” adalah film yang layak untuk ditonton. Di dalamnya juga terdapat nilai-nilai yang dapat diajarkan ke anak-anak. Even Rotten Tomatoes pun memberikan persentase yang baik, yaitu 84% approval rating. Saya juga senang yang jadi Cinderella itu Lily James bukannya Emma Watson apalagi Gabriella Wilde 😀 Peran Helena Carter sebagai Fairy Godmothernya juga atraktif, sama seperti perannya sebagai Madame Thenardier di “Les Miserables” dan Bellatrix Lestrange di “Harry Potter”.

Lagu-lagu yang diputar dalam film ini juga bagus. Akhir-akhir ini, saya lagi sering dengarin “A Dream Is A Wish Your Heart Makes” dan “Lavender’s Blue”.

A dream is a wish your heart makes / When you’re fast asleep / In dreams you will lose your heartache / Whatever you wish for you keep/
Have faith in your dreams and someday / Your rainbow will come smiling through / No matter how your heart is grieving / If you keep on believing / The dream that you wish will come true ..

Lavender’s blue, dilly, dilly, lavender’s green / When I am king, dilly, dilly, you shall be queen / Who told you so, dilly, dilly, who told you so? / ‘Twas my own heart, dilly, dilly, that told me so.

Call up your men, dilly, dilly, set them to work / Some to the plough, dilly, dilly, some to the fork / Some to make hay, dilly, dilly, some to cut corn / While you and I, dilly, dilly, keep ourselves warm.

Lavender’s green, dilly, dilly, Lavender’s blue / If you love me, dilly, dilly, I will love you / Let the birds sing, dilly, dilly, And the lambs play / We shall be safe, dilly, dilly, out of harm’s way.

I love to dance, dilly, dilly, I love to sing / When I am queen, dilly, dilly, You’ll be my king / Who told you so, dilly, dilly, Who told you so? / ‘Twas my own heart, dilly, dilly, I told me so.

Ada yang sudah nonton “Cinderella (2015)” juga?

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

6 Comments

  1. telat komen nii gue, huehuehue..
    gue pun kesengsem sama blue gownnya win, keren ditambah glass slippernya pun ciamikkkkk!!
    eniwei, lo ada novel fsog win? mau donk pinjemmmm, gue donlot versi ebooknya tapiiii mata perih kelamaan baca, hahahaha

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s