meNYEPI di BALI ( 2C )

Lama-lama saya bisa bosan dengan judul blog saya sendiri ni. Haha.. Perasaan dari kemarin bikinnya part two terus, but well these blog will be the last of part two, I can guarantee you! Haha.. For the part two-A and part two-B, please click this and that 🙂

Okeh.. Kalau disesuaikan dengan itinerary dari pihak hotel, seharusnya saya dan para partner-in-crime diantar ke Dreamland, Padang-Padang, Pura Uluwatu, dan dinner di Melasti Jimbaran. Akan tetapi, ada suara-suara yang mengatakan untuk tidak perlu singgah ke Dreamland dan Padang-Padang karena – menurut suara itu – kondisi lingkungan kedua pantai tersebut sudah tidak secantik dulu. Ini katanya loh ya 😀

And yes, saya memanfaatkan kesempatan ini untuk bertanya ke Bli Wayan, apakah dia tahu jalan ke Blue Point. Thanks God, he knew it! Kata Bli, Blue Point letaknya engga jauh dari Dreamland dan Padang-Padang. Bli pun lebih merekomendasikan kami untuk ke Blue Point. Nah, curiosity saya semakin menjadi-jadi deh.

Blue Point Beach atau Pantai Suluban terletak di wilayah Uluwatu, Pecatu. Disini terdapat sebuah villa mewah dengan nama yang sama, Blue Point Bay Villas ( untuk lebih lengkapnya, silahkan masuk kesini ). Saya lebih mengenal villa tersebut sebagai salah satu well-known wedding venue ketimbang sebagai villa, haha.

I still remember, kalimat pertama yang keluar dari mulut saya adalah “ini benaran Blue Point? Bli, kita engga salah jalan kan?”. Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut saya karena saya sangat kaget dengan parkir motor yang dipenuhi dengan bule-bule Western. Where’s the Indonesians? Is it Bali? Is it Indonesia? Saya benar-benar surprised. Ada dua orang Indonesia yang saya temui di parkiran, tapi dua-duanya penjaga rumah makan.

100_1592
I really love the sun!

Untuk sampai ke pantainya, saya dan para partner-in-crime harus menuruni anak tangga yang sangat banyak. Saya tidak hitung berapa banyak anak tangga tersebut, yang jelas banyaaak sekali, dan sejujurnya saya sempat beberapa kali tidak fokus ketika menuruni anak tangganya karena mata saya ikutan sibuk melihat para bule Western yang ‘bertengger’ di cafe-cafe sepanjang anak tangga.

Anyway, saya menemukan cafe yang menggunakan iMac untuk akses internet dan printingSalute! *thumbsup*

Tebing Blue Point
Tebing Blue Point

Sebelum sampai di pantai, saya dan para partner-in-crime sering berpapasan dengan para bule Western yang membawa surfing board mereka. Mereka membawa surfing board berukuran besar (yang tentunya tidak ringan) sambil berlarian menuruni anak-anak tangga yang terjal. Untuk kesekian kalinya, saya takjub banget! Kog bisa-bisanya mereka seperti itu, apa tidak takut jatuh? Sedangkan saya harus terus-terusan fokus melihat anak tangganya. Hahaha..

Dari awal saya sudah berniat untuk melepaskan sandal crocs saya jika dua kaki ini ‘bertemu’ dengan pasir pantai. Tapi sayangnya saya tidak bisa melakukan hal itu disini karena pantai ini dipenuhi dengan batu dan karang besar. Jika tidak hati-hati, kaki kita bisa lecet atau bahkan luka parah. Tapi ya, si bule-bule Western yang ganteng itu tidak menggunakan sandal loh. Pokoke mereka topless dan hanya berlarian sambil membawa surfing board mereka. Huwah.. *envy.com*

Ngomong-ngomong soal topless, saya sempat bilang ke salah satu partner-in-crime saya bahwa sepertinya kami salah kostum. Sepanjang mata memandang, para Western ladies hanya mengenakan bikini, dan para Western men hanya mengenakan celana pendek. Sedangkan saya dan para partner-in-crime berpakaian lengkap 😀 😀 😀

Blue Point dapat digolongkan sebagai pantai yang sepi. Saking sepinya, saya melihat banyak sekali bule yang sunbathing beralaskan selendang tipis sambil membaca buku.

Seru banget yah baca buku sambil dengar deburan ombak (*daydreaming*).

Satu hal yang pasti, ombak disini merupakan salah satu surga untuk para surfer. Ada juga bule Western yang memilih untuk berendam di pantai daripada surfing atau membaca buku.

Untuk menikmati keindahan pantainya, kami harus melewati kolong dinding batu yang menjulang tinggi dan gagah sekali.

Okeh, I will come back again my darling Blue, and I will have my precious sunbathing time at here,

only with you..

Belum puas bermain di pantai tersebut, kami harus naik ke atas lagi untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum naik ke mobil Bli, kami mencuci kaki di rumah makan yang ternyata juga merupakan homestay untuk para pengunjung.

Saat itu, si pemilik homestay rupanya sedang asyik membuat bunga sesajen untuk upacara Melasti. Hanya saja saya engga sempat menanyakan apakah itu termasuk canangsari atau bukan, karena saya belum pernah melihat rangkaian bunga seperti itu.

Bli Wayan sempat menawarkan kepada kami untuk ke Padang-Padang karena lokasinya tidak terlalu jauh dari Blue Point, dan kami menyanggupi. Ternyata oh ternyata, akses menuju Padang-Padang sudah ditutup karena ada upacara Melasti, jadi mobil kami terpaksa putar balik ke arah Jimbaran. Ada keinginan untuk melihat upacara tersebut, namun Bli mengatakan bahwa kadang-kadang upacara tersebut tertutup untuk kalangan luar.

Dalam iring-iringan tersebut, para wanita membawa gebongan dan para pria mengenakan udeng. Tentunya mereka menggunakan pakaian khas Bali. Hal yang menarik perhatian saya, Bali sebagai sebuah provinsi yang sudah dikenal dunia tetap menjaga tradisinya dengan sangat baik. Penduduk asli tetap menjalankan upacara sesering mungkin, dan adat istiadat tetap dipelihara dengan baik.

Udeng - Taken from Google
Udeng – Taken from Google
Gebongan - Taken from Google
Gebongan – Taken from Google

Menyadari bahwa upacara Melasti mungkin akan dilaksanakan di banyak tempat, kami pun menunda perjalanan kami ke Pura Uluwatu. Bli pun mengendarai mobilnya ke Jimbaran. Dinner time, dudes 🙂

100_1615

Makan malam kami hari ini dilakukan di Melasti Kedonganan Restaurant di wilayah Jimbaran.

Sounds romantic yah, dinner di tepi pantai sambil ditemani sunset, live music, dan pesawat-pesawat yang take off atau landing di Bandara Ngurah Rai 😀

Thanks to you, my Lord 🙂

Well, ini menu makan malam kami

100_1626

Saya engga tahu berapa harga dari menu ini, semuanya sudah termasuk dalam paket yang kami bayarkan ke pihak hotel. But well, it was good enough, setidaknya kami merasa kenyang dan puas dengan pelayanannya. Rasanya tidak mau beranjak pergi dari restoran ini.

Such a beautiful masterpiece of God

100_1624

Ada juga yang mancing disini

100_1627

100_1628

Dan tentunya, saya tidak akan melewatkan pemandangan yang satu ini, canangsari!

100_1618
Canangsari – Jimbaran beach

Selama saya di Bali, keberadaan canangsari cukup menarik perhatian saya karena saya selalu menemukannya di setiap tempat, baik itu di teras rumah, teras toko, hotel, dalam mobil, pura, pantai, jalan, bahkan di trotoar. Dalam kepercayaan masyarakat Bali, memulai hari dengan doa tidak akan lengkap tanpa sesajen berupa bunga yang disebut canangsari ini.

Jika menemukan barang ini, sebisa mungkin jangan diinjak karena masyarakat Bali percaya bahwa injakan tersebut akan mendatangkan musibah, kecuali jika dilakukan secara tidak sengaja. Tujuan dari sesajen ini sendiri adalah itikad bersyukur, pencarian berkah, pencarian keberuntungan, dan penolakan hal-hal sial.

Kalau menurut Bang Wiki, canangsari mempunyai beberapa bagian sebagai berikut :

Canangsari has some parts, there are peporosan, ceper, raka-raka, and sampian urasari. Peporosan or the core material is made from betel leaf, lime, gambier, prestige, tobbaco, and betel nuts. Material of peporosan is symbolize the Trimurti, three major God in Hinduism. Shiva symbolized by lime, Vishnu symbolized by betel nut, and Brahma symbolized by gambier.

Canangsari are covered by ceper (a tray made from palm leaf) as a symbol of Ardha Candra. Raka-raka is topped with sampian urasari, which are in turn overlaid by flowers placed in a specific direction. Each direction symbolizes a Hindu God (deva):

  • White-colored flowers that point to the east as a symbol of Iswara
  • Red-colored flowers that point to the south as a symbol of Brahma
  • Yellow-colored flowers that point to the west as a symbol of Mahadeva
  • Blue or green colored flowers that point to the north as a symbol of Vishnu

A canangsari is completed by placing on top of the canang an amount of kepeng (the coin money) or paper money, which is said to make up the essence (the “sari”) of the offering.

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

2 Comments

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s