meNYEPI di BALI ( 3A )

March 29, 2014.. I got my spirit! Yeah.. Based on the itinerary, we went to Sungai Ayung (Ayung River), the longest river in Bali. What did we do? Well, we went there for rafting!

Yes, r-a-f-t-i-n-g…!! Hooraaaay (*goyangdombret*)

Rafting atau arung jeram merupakan salah satu aktivitas olahraga yang saya suka karena sangat menantang, memicu adrenalin, dan butuh kekompakan team supaya tidak ada anggota yang jatuh ke dalam air atau luka karena menyenggol batu-batu karang besar. Sebelum di Bali, saya pernah melakukan rafting di wilayah Sukabumi. It was fun!

Selama ini saya mengenal Sungai Ayung sebagai lokasi rafting yang paling terkenal di Bali, tetapi setelah berbicara dengan Bli Wayan, saya baru tahu bahwa masih ada sungai lainnya yang cukup sering digunakan sebagai lokasi rafting, namanya Telaga Waja. But well, kami akan rafting di Sungai Ayung. I was so happy, so excited 🙂

100_1641

Terdapat beberapa penyedia jasa rafting di Sungai Ayung, antara lain Mega Rafting, Sobek Rafting, dan Bali Adventure Rafting. Kami mendapatkan kesempatan untuk ‘mencicipi’ pelayanan dari Mega Rafting. Nantinya ketika sudah selesai, saya baru sadar bahwa jarak rafting yang diberikan Mega Rafting lebih jauh daripada jarak penyedia jasa lainnya, sekitar 10 km. Apa mungkin turis lain memilih jarak lebih pendek daripada kami?

100_1642

Untuk mencapai Sungai Ayung, kami harus menuruni anak tangga yang sangat banyak, sekitar 400 anak tangga. Anak tangganya tinggi-tinggi dan kebanyakan sudah berlumut, jadi harus ekstra hati-hati sekali. Baru kali ini saya merasakan capenya menuruni anak tangga. Saya tidak bisa memotret anak tangganya sebab semua barang elektronik, tas, dan dompet kami sudah disimpan di dalam waterproof bag yang akan dibawa oleh tour guide kami.

Tour guide yang saya maksud disini adalah guide kami selama rafting nanti. Saya lupa namanya, Bli Made kalau tidak salah ingat. Satu hal yang saya ingat tentang beliau, postur tubuhnya kurus tetapi tenaganya kuat. Haha.. Oya, sebelum menuruni anak tangganya, kami semua sudah memakai helm dan life jacket. Paddlenya pun sudah diberikan kepada kami. Nah, sesampainya di tepi Sungai Ayung, saya mengaitkan sandal crocs saya di life jacket supaya tidak jatuh ke dalam air.

Perahu kami berisi 6 orang; saya, dua partner-in-crime, dua orang Rusia, dan si guide. Orang Rusia? Yes, the Russians, satu pria dan satu wanita. Selama tiga hari ini, saya sempat melihat beberapa papan di tepi jalan dengan tulisan “menerima kursus Bahasa Rusia”. Bli Wayan mengatakan bahwa orang Rusia mulai mengenal dan mendatangi Bali tetapi orang Rusia pun dikenal sebagai kaum yang kurang mahir berbicara dalam bahasa Inggris.

Kalau bicara tentang Russians, saya jadi ingat lagunya Sting dengan judul yang sama. “We share the same biology, regardless of ideology, believe me when I say to you, I hope the Russians love their children too( Sting – Russians ) Saya engga berharap dua orang Rusia ini akan mencintai saya yang wujudnya masih seperti anak kecil ini ( hoekk ), tapi saya berharap mereka berdua bisa berkomunikasi dengan kami walaupun mungkin harus menggunakan bahasa isyarat.

Nah, kalau si guide punya postur yang kurus, tidak dengan para penghuni perahunya. Saya sendiri plump dan 2 partner-in-crime saya tinggi besar seperti raksasa. Ternyata oh ternyata, badannya si pria Rusia jauh lebih raksasa lagi, dan saya harus-kudu-wajib duduk di belakang dia supaya perahunya seimbang! Sebelum perahunya didorong ke dalam air, saya berdoa ( dan terus berdoa ) semoga si pria Rusia ini tidak jatuh terjungkal ke belakang 😐

Kekhawatiran itu pun terjadi… Duo Rusia tersebut kurang bisa menanggapi perintah dari si guide, terutama si pria, dan hal tersebut sempat membuat si guide kesal. Ketika bertemu dengan pusaran arus yang cukup deras, entah bagaimana ceritanya si pria Rusia tersebut jatuh terjungkal ke belakang, dan saya pun ikutan jatuh!

OH NOOOO…. >_<

Bersyukurnya kami berdua jatuh di dalam perahu bukan di luar perahu, hanya saja kaki saya sempat perih-perih gimana gitu karena ‘diduduki’ oleh pantat si pria Rusia. ( Oh tidakkk, kaki saya dinodai.. Hiks hiks hiks.. )

Di luar kejadian-kejadian tersebut, saya tetap menikmati perjalanan ini. Sungai Ayung tidak memiliki aliran air yang deras sehingga acapkali kami bisa menikmati keheningan dari alam sekitarnya. Setelah selesai kuliah, saya tidak pernah lagi menjelajahi hutan ataupun sekadar camping and hiking sehingga saya begitu merindukan hal-hal seperti ini, dan semua ini tidak bisa saya temukan di Jakarta. Bunch of thanks, My Lord 🙂

Nah, di dalam perjalanan, kami sempat membasahi diri di air terjun, sempat melihat pahatan100_1665 tulisan “Mahabharata” di salah satu sisi sungai, sempat bertemu dengan turis di penyedia jasa rafting lainnya, sempat break sebentar ( nah, si pria Rusia sempat-sempatnya merokok waktu breakhate it ), dan sempat bertemu dengan para tukang bangunan yang sedang membangun villa/hotel di tepian atas Sungai Ayung.

Selain sibuk membangun, para tukang bangunan tersebut juga punya ‘kesibukan’ lain, yaitu menggoda para turis wanita. Dari si guide, saya mengetahui bahwa para tukang bangunan bukan penduduk asli Bali.

Sesampainya di titik akhir, kami diberikan minuman, handuk bersih, dan barang-barang titipan dari Bli Wayan. Pihak Mega Rafting sempat menawari foto-foto kami selama rafting dan juga menawari makan siang di pondok mereka, namun kami menolak karena harga foto per lembarnya tergolong cukup mahal dan kami sudah punya jadwal makan siang dari hotel. Jadi kami memutuskan untuk langsung mandi.

By the way, toiletnya bersih sekali loh. Sabun mandi dan sampo juga sudah disediakan di dalam toilet. Jadi untuk kalian yang mau rafting disini, kalian cukup membawa 1 set baju bersih dan kamera, tentu saja 😀 Oya, jangan lupa untuk memberikan sedikit tips kepada si guide 🙂

100_1683
Final Point Mega Rafting
100_1684
There are so many hibiscus trees in Bali
100_1682
Beautiful path stone to toilet
100_1681
Red Hibiscus on the washbasin
100_1674
Pair of red hibiscus in my toilet
100_1724
Dolphin hanger

Setelah selesai mandi, kami pun bergegas untuk kembali ke atas. Yes, ke atas-atasnya anak tangga yang jumlahnya ( buju buneng ) banyak sekali itu. Rasanya hari ketiga di Bali ini merupakan hari penurunan berat badan, hahaha.. Tapi engga apa-apa, kan habis ini mau makan siang 😀

Jadi, kemanakah kami akan berlabuh untuk makan siang?

– bersambung – to be continued 

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s