meNYEPI di BALI ( 2A )

March 28, 2014.. Okeh, hari kedua sudah tiba. ( Hari pertamanya baca disini ya kakak 😀 )

Sebelum dijemput oleh driver yang sudah disiapkan oleh pihak hotel, saya dan partner-in-crime menyempatkan diri untuk sarapan dulu di resto hotel karena jadwal hari ini akan dimulai dengan water sportOn our way, saya sempat mengambil beberapa foto.

Garden and swimming pool ( morning view )
Garden and swimming pool ( morning view )
Temple ( Pura ) in the garden
Temple ( Pura ) in the garden

100_1295

100_1296

100_1301

Penasaran dengan bentuk restorannya? Monggo kursornya discroll ke bawah 😀

View from restaurant
View from restaurant

100_1281

IMG-20140331-02911

 Jadi, what’s the menu for our breakfast?

100_1277 100_1275

Sate Lilit ( Ikan )
Sate Lilit ( Ikan )

Sebenarnya masih banyak menu sarapan lainnya seperti foto sebelah kanan yang saya ambil di mbah Gugel, tetapi saya dan partner-in-crime tidak terbiasa makan banyak di pagi hari, yang penting perutnya sudah diisi dengan makanan dulu. By the way, foto dari mbah Gugel itu persis banget seperti tampilan asli di restorannya, termasuk lukisan-lukisannya. Haha..

Kelar sarapan, saya dan partner-in-crime kembali ke kamar untuk mengambil tas dan minuman sebab kami sudah ditunggu oleh driver di lobby hotel. Nah, drivernya kali ini bukan Pak Gin lagi, tapi penduduk asli Bali yang bekerja sebagai freelance tour guide + driver, namanya Bli Wayan. Orangnya ramah sekali, very talkative, dan disiplin dengan waktu. Kalau sudah janji berangkat jam 8 pagi, ya berangkatnya jam 8 pagi, bukan jam 8.15 pagi. Orangnya juga sangat informatif dan tahu seluk beluk tentang Bali. FYI, Bli Wayan berasal dari Tabanan.

So, our first destination was Tanjung Benoa di Nusa Dua. Kami mau main water sport disana sesuai dengan itinerary yang sudah disiapkan oleh pihak hotel. Untuk menempuh perjalanan ini, kami melewati Tol Bali Mandara yang baru selesai dibangun beberapa waktu yang lalu.

Sekilas mengenai Tol Bali Mandara, saya pribadi cukup mengikuti berita atau informasi mengenai tol ini. Mengapa? Karena bagi saya, tol ini begitu istimewa. Kata “istimewa” sebenarnya tidak begitu mengada-ada sebab tol ini merupakan tol pertama di Indonesia yang dibangun di atas laut – tepatnya di atas Teluk Benoa – selama kurang lebih 15 bulan.

Panjangnya kurang lebih 12,7 km dengan 10 km di atas laut. Istimewa lainnya karena tol ini merupakan maha karya anak bangsa, hasil konsorsium 7 BUMN ( kalau engga salah ) di bawah koordinasi PT Jasa Marga Bali, dan dibangun dengan konsep “Green, Strong, Beautiful“. Sekali-kali boleh donk bangga sedikit dengan negara sendiri, haha.. Kelebihan lainnya, tol ini dapat dilintasi oleh motor, tidak hanya oleh mobil. Nama “Mandara” sendiri merupakan singkatan dari MAju, amaN, DAmai, sejahteRA.

But well, setiap hal selalu memiliki dua sisi, sama halnya dengan tol cantik ini. Salah satu acara di TV swasta nasional pernah melakukan review. Beberapa kaum nelayan di Benoa menganggap pembangunan tol ini akan memberikan efek buruk untuk habitat ikan dan pertumbuhan mangrove disana. Belum lagi mengenai isu reklamasi Bali yang timbul sejak pembangunan tol ini. Semoga saja segala bentuk isu tersebut dapat segera diselesaikan oleh pemerintah kita karena bagaimanapun juga manusia harus tetap menjaga dan melestarikan alam supaya hidup manusia dan makhluk hidup lainnya bisa tetap seimbang.

Tapi asli, tolnya cantik sekali. Unsur dari Bali itu sendiri tetap ditonjolkan di tol ini.

Tol Bali Mandara
Tol Bali Mandara
Tol Bali Mandara
Tol Bali Mandara

Okeh sodara-sodara, lepas dari Tol Bali Mandara, sampailah kami di Tanjung Benoa. Bli Wayan mengarahkan kami ke salah satu penyedia water sport disana, namanya BMR.

100_1322

Benoa panas engga? Panas donk, tapi masih bisa ditolerir kog, yang penting jangan lupa pakai sunblock saja ( saya yang engga suka pakai lotion pun jadi wajib pakai deh )

Benoa cantik engga? Cantik donk, secara bisa melihat langit yang warnanya biru sekali dan tidak ada kabel listrik di pantainya, ya pasti tak bilang cantik.

100_1323 100_1324

Kamu main parasailing? Oh tentu tidak, saya kan takut ( baca : fobia ) dengan ketinggian jadi belum berani untuk main itu. Foto di atas cuma foto iseng saja 😀

Jadi kamu napain saja di Benoa? Emm, saya hanya ber-bananaboat kakak..

Kog hanya banana boat? Kan masih banyak yang lain, misalnya jet ski, flying fish, rolling donut, sea walker, and wakeboard.  Iya kak, soalnya pihak hotel hanya menyediakan banana boat untuk kegiatan water sportnya. Sebenarnya ingin coba sea walker si, cuma biayanya mahal. Next time deh 😀

100_1329

Kalau cuma banana boat, itu foto kapal apa? Nah, karena dimupengin oleh salah 1 partner-in-crime, saya jadinya kepikiran untuk ke Pulau Penyu di seberang sana. Partner-in-crime yang 1 lagi oke-oke saja, Bli Wayan juga oke dengan ide kami, tapi kami harus bayar biayanya sendiri karena tidak termasuk dalam budget pihak hotel. Yawis, ora popo, saya kan punya para partner-in-crime yang jago nawar 😀

100_1331 100_1332

Kalau foto yang di bawah ini adalah foto si Bli ( lagi-lagi, saya lupa nama Blinya siapa ) yang membawa kami ke Pulau Penyu. Lucunya, si Bli ini mengira saya dan partner-in-crime berasal dari Tiongkok ( bangga dikit 😀 ), dan dia cukup kaget ketika kami berbicara dalam bahasa Indonesia. Haha..

100_1340

100_1343
Lagi kasih makan roti ke ikan-ikannya. Kelihatan ikannya engga?

100_1350 100_1378

Hello Pulau Penyu!

100_1379 100_1380

100_1405
Dua penyu ini berusia di atas 50 tahun, dan salah satunya mempunyai tumor di telinga sebelah kiri. Kasihan ya 😦

100_1466 100_1396 100_1400 100_1402

Nah, di dalam Pulau Penyu isinya engga hanya penyu saja, tapi ada juga ayam, kelelawar, kadal, beberapa jenis burung, dan ular..

100_1412 100_1418 100_1422 100_1424 100_1426 100_1437 100_1444 100_1448 100_1450

Di Pulau Penyu ada semacam tempat makan yang bisa dipakai oleh para turis untuk melepas lelah sebentar. Nah, di dalamnya ada lapak-lapak penjual baju bali, celana bali, gantungan kunci, asbak dengan motif kerang atau penyu, dan hiasan seperti ini.

100_1454

Awalnya saya ingin membeli asbak dengan motif kerangnya ( saya lupa foto, sorry ), tapi engga jadi karena harganya mahal BANGET! Seriusan mahalnya. Saya dikasih harga IDR 400.000 untuk sebuah asbak kecil seperti itu, yang kata salah satu partner-in-crime saya, harganya hanya sekitar IDR 100.000 di toko dekat hotel kami.

100_1468 100_1469

And it’s time to leave the place. Saya baru ingat kalau saya belum punya foto pintu masuk “Welcome To Turtle Farm”nya, dan ketika saya mau mengambil fotonya, para penjaga pintu ikutan narsis, haha..

100_1471

Goodbye Bli, thanks karena sudah diantarin ke Pulau Penyu 🙂

CIMG3127

– bersambung – to be continued –

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s