meNYEPI di BALI ( 2B )

Okeh sodara-sodara. Mari kita melanjutkan cerita di hari kedua part B.

FYI, hari kedua part A bisa dibaca disini ya kakak 😀

Udah lapar belum? Udah donk soalnya tenaga sudah dikuras untuk main banana boat dan berpelesir (ceilee kata-katanya) ke Pulau Penyu. Bli Wayan yang tahu dengan “kondisi-lapar-tak-tertahankan” kami pun menyetir mobilnya ke arah Garuda Wisnu Kencana atau GWK. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan diri untuk beli air minum di salah satu minimarket. Panasnya ampun kakak, menyengat sekali. Padahal saya sudah sengaja memakai dress kemben selutut dan selendang, tapi teriknya matahari membuat saya seolah-olah ingin mengenakan selendang saja. UPS! Maaf 😀

Sesampainya kami di GWK, Bli Wayan sibuk mencari tempat parkir mobil dan mengurusi tiket masuk kami. Kalau tidak salah ingat, harga tiket masuk untuk orang dewasa ( baca yah, saya sudah de-wa-sa, haha ) sekitar IDR 30.000 atau IDR 40.000 per orang, yang jelas harga tiket untuk turis internasional lebih mahal 2x lipat daripada turis domestik seperti kami ( walaupun dibilang turis dari China, tapi kami tetap nasionalis kakak 😀 )

100_1505

Ada beberapa patung yang menarik perhatian kami di bagian ticketing, sayangnya tidak ada patung dengan nama saya, so patung Dewi Shinta pun jadi objek senderan tangan saya 😀

Saya langsung tertawa setelah melihat hasil foto ini. Kenapa? Soalnya saya serba pink banget! Dari ujung kepala sampai ujung kaki saya ( minus warna kulit dan warna rambut tentunya ) berwarna pink semuanya. One thing for sure, I do not like pink, and my name is not Shinta 😀

Masuk ke dalam GWK, saya dan partner-in-crime tidak mau jalan-jalan dulu. Maunya isi perut dulu, baru deh jalan-jalan ( sambil nyelam minum air, sambil jalan-jalan ngecilin perut habis makan 😀 ).

Kami dibawa Bli Wayan ke New Beranda Restaurant yang lokasinya terletak di dalam GWK. Saya suka fasad depan dari restoran ini ( bisa dilihat disini ) karena warnanya cokelat dan motifnya horizontal, feels like home.. Kesan pertama yang begitu menggoda.

Kesan kedua yang tak kalah menggoda adalah pelayanan yang sopan dan ramah plus dengan indoor venue yang sangat luas dan dipenuhi jendela. Saya bisa merasakan sirkulasi udara segar disini, dan mata pun ikutan segar karena kanan kirinya dihiasi tanaman hias atau pepohonan. Kami ‘disambut’ juga oleh patung ini, patung yang entah apa namanya karena tidak ada signboard namanya, haha..

100_1510

Hiasan di setiap meja dan desain lampu di dalam restoran ini pun ( menurut saya ) khas dan etnik sekali.

So Bali 🙂

100_1511

Untitled

Jadi, apa makanan kami sodara-sodara? Well, kami diberikan menu all you can eat, dan

100_1515sejujurnya saya kurang suka tipe menu seperti ini karena saya engga bisa makan banyak sekaligus, sedangkan insting ‘tidak mau rugi’ muncul terus di dalam otak. Hahahaha.. Jadi, saya ambil makanan ini saja. Wah, kelihatannya banyak tuh. 

Percayalah sodara-sodara, porsi makan para partner-in-crime saya jauh lebih banyak daripada porsi makan saya, itu hanya tumpukan lauk pauk kog 😀 😀 😀

100_1509

Urusan perut selesai sudah.

Kami pun melanjutkan perjalanan mengitari GWK. Di dalam perjalanan, saya menemukan capung berwarna merah di sekitar kolam bunga yang ada di GWK, tepatnya di sepanjang street theater. Habitat asli dari capung memang di sekitar kolam atau tanah yang lembab sebab larvanya berada di genangan air tersebut.

And honestly, saya belum pernah melihat capung berwarna merah, jadi capung ini berhasil membuat saya terkesima 😀

100_1527

Kami mengarah ke wilayah tertinggi di GWK, yaitu Plaza Wisnu. Di dalam agama Hindu, Wisnu dikenal sebagai dewa pemelihara dan mengendarai seekor burung garuda.

Untuk sampai ke statue area tersebut, kami harus menaiki cukup banyak anak tangga, but that was worth it karena patung ini nampak begitu indah, gagah, dan abadi.

100_1535

Langit hari itu begitu biru dan begitu cerah, dan saya sangat senang karena bisa mengambil foto Patung Wisnu dengan langit dan awan sebagai latar belakangnya.

Ketika ‘bertemu’ dengan patung yang belum utuh ini, saya teringat dengan artikel di salah satu surat kabar nasional yang menyatakan bahwa patung ini akan diselesaikan di tahun 2016 oleh pematungnya, I Nyoman Nuarta ( belum tahu tentang beliau? click here ).

Jika pembangunannya selesai, maka patung ini akan menjadi patung terbesar di dunia, mengalahkan Patung Liberty di USA. Patung ini juga direncanakan supaya bisa dilihat dari wilayah Kuta, Nusa Dua, dan Tanah Lot. Semoga rencana ini tidak hanya sebatas rencana tetapi benar-benar diwujudkan. Amin 🙂

Nah, di samping patung Wisnu ada area yang menarik perhatian saya. Parahyangan Somaka100_1534 Giri namanya. Menurut kepercayaan setempat, mata air ini merupakan berkat dengan kekuatan magis yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit apapun. Bahasa lainnya, mata air ini diyakini sebagai “air suci”.

Katanya lagi, mata air ini tidak pernah kering bahkan pada musim kemarau. Sayangnya hari itu tidak ada warga setempat yang melakukan sembahyang disana, jadi saya tidak bisa masuk atau melihat ke dalamnya. Penasaran ya? Banget! I will come here again next time 😉

Selesai ‘bercengkerama’ dengan si empu, saya meninggalkan para partner-in-crime100_1537 untuk menuju area berikutnya, yaitu area si Garuda. 

Yes, ( Kepala ) Garuda milik si Wisnu.

Di kelas sejarah, saya dulu diajarkan bahwa Garuda digambarkan memiliki tubuh emas seorang pria yang kuat, punya sayap merah, punya paruh burung elang, dan punya mahkota di kepala. Muka si Garuda digambarkan berwarna putih.

Mengapa Garuda dekat sekali dengan Wisnu? Sesuai pengajaran guru sejarah saya, Garuda digambarkan sebagai makhluk yang sangat berbakti dan rela berkorban untuk keselamatan ibunya dari perbudakan, dan untuk itu Wisnu melindunginya. Oleh karena itu, perlindungan Wisnu tersebut dianggap sebagai ‘bakti’ Garuda ke Wisnu.

Di depan si Garuda ada tebing tinggi, dan salah satu partner-in-crime saya melakukan ‘atraksi’ ( lebih baik dibilang atraksi daripada nekat ) dengan memanjat tebing tersebut.

100_1542
Yeah, I did it, babe!!
Taken from Google.com
Taken from Google.com

Nah sodara-sodara, jujur ya, sebenarnya saya masih mencari 1 patung di GWK, patung tangannya Wisnu. Tapi sodara-sodara, I didn’t find it..!! 😥 *kesalkeubunubun*lapingus*

Sepertinya saya tersesat di antara tebing-tebing Tirta Agung yang menjulang begitu tinggi, sampai-sampai patung ini menjadi invisible untuk saya! Huwah! Seperti sayur pakis tanpa terasi, rasanya perjalanan saya ini kurang lengkap tanpa foto (asli) tangannya Wisnu ( halah ) 😥

Mau cari si Tangan tapi hari sudah semakin sore. Hikshiks.. Wahai Tangan, aku akan kembali untukmuuuuuuuuuuuuu *kecupbasah*

Next, kami singgah di Lotus Pond. Kenapa? Karena saya suka bunga! Haha.. Anyway, saya tidak menggunakan kata ‘teratai’ atau ‘lotus’ karena keduanya berbeda, referensinya bisa lihat disini atau disini ; penggunaan kata “Lotus Pond” disesuaikan dengan nama di batunya.100_1567 100_1558

Love it? Yes, of course! They looked very beautiful and alive 🙂

Nah, (kembali ke kelas sejarah) Dewa Wisnu digambarkan selalu membawa Lotus di tangannya. So sweet banget yaaa 🙂

Next, kami singgah di Amphitheatre GWK. Outdoor area ini digolongkan sebagai area yang paling besar di GWK. Free of charge? Yes, soalnya biayanya sudah dimasukkan di tiket masuk 😀

100_1518

Sesuai dengan info dari penjaga pintunya, area ini mampu menampung kurang lebih 800 orang, dan area ini ditujukan untuk pertunjukkan budaya Bali, misalnya Barong atau Kecak. Kami tidak bisa menonton Kecak karena pertunjukannya baru dimulai sekitar pukul 18.30 malam 😥 *lagilagihikshikshiks*mupeng.com*

100_1559

100_1562 100_1564

Tapi lumayan, Barong dan Tari Balinya cukup mengobati rasa sakit ini ( prett ).

Cewe di foto adalah turis asal Jepang yang diajak untuk menemani si lakon dalam pertunjukan tersebut.

100_1566Last, kami singgah ke showroom GWK. Area ini cukup luas dan menjual banyak sekali suvenir khas Bali, mulai dari baju barong, celana barong, kain motif barong, gantungan kunci barong, topi barong, bahkan barongnya juga dijual seperti foto di samping. Ada yang tertarik untuk beli? 😀

Di toko ini, salah satu partner-in-crime saya sempat membeli topi dengan harga IDR 50.000.

Goodbye GWK. I will come back as soon as possible! 😀

GWK

Setelah tidak puas menjelajahi GWK, kami sempat singgah ke tempat wisata monyet, kalau tidak salah namanya hutan monyet Bali. Karena khawatir kalau kameranya diambil si monyet, saya hanya sesekali mengeluarkan kameranya, dan salah satu hasil fotonya seperti di bawah ini

100_1585
I love the sky!

Oya, salah satu partner-in-crime saya sempat bermain dengan seekor monyet. Bersama si monyet, dia menjadi objek foto dari beberapa turis asing, hahaha.. Selain itu, saya sempat bertemu dengan beberapa turis asing yang berjuang mengambil barang mereka dari tangan monyet-monyet disana. Bujuk rayu berupa pisang atau kacang tidak cukup ampuh untuk si monyet.

– bersambung – to be continued –

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s