Learn to decide

Kemarin saya dan beberapa hopeng (teman baik) terlibat dalam diskusi seru di WhatsApp Group, mulai dari ajakan untuk kuliah kembali di jenjang S2 atau S3, ajakan untuk membeli peralatan memasak yang sedang happening saat ini, curhatan ala-ala hopeng yang tidak bisa disampaikan semuanya ke suami, sedikit gosip-gosip, sampai akhirnya ada satu bahasan yang cukup ‘menggelitik’ saya, yakni soal learn to decide. Salah satu hopeng mengatakan kalau dia sedang keki dengan adiknya lantaran dianggap tidak punya pendirian untuk memilih jurusan di bangku kuliah, disuruh apa manut tanpa berani menentukan apa yang dia mau.

Pembahasan tersebut membawa saya teringat dengan apa yang saya alami sendiri. Terlahir dalam keluarga yang pernah merasakan dampak buruk dari bangkrutnya suatu usaha, saya ‘dibiasakan’ untuk tidak menentukan apa yang saya mau sebelum bertanya dulu ke orangtua saya, dalam hal ini mama saya. Bangkrutnya usaha keluarga membuat mama memiliki ketakutan pribadi kalau anak-anaknya akan salah pilih jalan yang nantinya bukan untung tetapi buntung. Jika dihadapkan dengan beberapa pilihan, saya ingat sekali kalau saya pasti akan minta waktu untuk bertanya ke mama. Mungkin istilah “invisible decision maker” cocok dengan kondisi mama saat itu. 

Apakah ada reward dan punishment untuk hal yang saya jelaskan di atas? Tentu ada. Jika saya membiarkan mama yang menjadi decision maker, saya akan dibilang “hosiok” yang dalam bahasa Indonesia kira-kira berarti “anak baik/penurut”. Sebaliknya, jika mama tidak menjadi decision maker, mama sudah pasti ngomel ke saya apalagi jika pilihan saya terbukti keliru atau salah (besar). Ujung-ujungnya disindir dengan kalimat “makanya jangan sok tahu, kamu itu masih kecil, belum tahu apa-apa”. Seriously, saya sama sekali tidak suka kalimat itu karena rasanya seperti mendiskreditkan seseorang.

Apakah hal tersebut salah? Well, saya tidak mengatakan hal seperti itu salah 100% karena saya paham dengan alasan yang melatarbelakangi mama untuk berbuat seperti itu. Saya menganggap ketakutan mama adalah hal yang manusiawi, apa yang mama lakukan semata-mata untuk menghindari kami dari jurang kesalahan yang sama, toh kasarnya siapa juga yang mau memiliki masalah dan trauma? Tapi semakin hari, saya sebagai objek pelaksananya merasa kalau hal ini kurang tepat untuk dilakukan apalagi saya ini dasarnya bukan anak manut, ada jiwa pemberontak di dalam diri yang tertutup lapisan lemak selama bertahun-tahun 😀

Ketika memutuskan untuk kuliah di Jakarta, saya sempat merasakan kegelisahan karena tidak ada mama sebagai sosok decision makerYah, sebenarnya saya tinggal SMS (awal kuliah belum ada Blackberry, Android, dan iPhone seperti sekarang) atau telepon beliau tapi namanya juga sudah beda kota tentunya saya engga bisa seenak dewek seperti itu. Saya ingat kalau saya butuh waktu cukup lama untuk beradaptasi dengan kondisi tersebut tapi lama-kelamaan terbiasa dengan sendirinya. Terbiasa dalam artian masih belajar karena belum berhasil 100%.

Saya jadi mendadak ingat kalau saya punya tiga mantan manajer yang pernah mengatakan hal seperti ini ke saya : “lu pintar dan sering banyak akal tapi lu kadang sering bingung kalau disuruh milih…” Sejujurnya, dari hati terdalam, kata-kata itu ngena banget di saya, nancep cep cep cep haha. Bukan satu orang yang bilang seperti itu tapi tiga orang, manajer pula, padahal ketiganya tidak saling mengenal satu sama lain karena beda company. Saya sampai bilang ke S, kalau saya pindah company lagi, apa masih ada orang yang ngomong seperti itu ke saya? 😀

Bagi mereka yang sudah kenal dekat dengan saya mungkin tahu jika sehari-harinya saya selalu berusaha menghindari penggunaan kata “terserah” ketika berbicara dengan orang lain. Saya pun biasanya tidak malu untuk menegur lawan bicara yang senang sekali mengucapkan kata “terserah”. Kelihatan sepele yah tapi saya pernah baca di buku yang-saya-lupa-apa-judulnya dan pernah dikasih tahu oleh teman yang berprofesi sebagai psikolog kalau kata “terserah” mempunyai efek cukup tinggi untuk membuat seseorang bingung dalam menentukan pilihan. Efek bingung terjadi karena kemungkinan besar orang tersebut tidak melakukan apa yang ingin dilakukan, tidak melakukan apa yang dikehendaki, hanya menuruti apa maunya pihak lain. Jika direpetisi dalam jangka waktu lama, otak kita akan merekam (bukan mengingat lagi) penggunaan kata tersebut dan mengendalikan perilaku kita secara tidak sadar.

Semakin hari saya semakin merasa jika learn to decide itu sifatnya penting sekali dan memiliki banyak manfaat untuk pengembangan diri. Apakah saya sudah berhasil menerapkannya? Tentu belum, masih jauh dari kata sempurna, tapi saya tetap berusaha kecuali kalau otak saya lagi korslet haha. Baik saya maupun S pun berencana menerapkan hal ini kepada baby K nantinya dengan harapan dia dapat belajar untuk memilih sesuai keinginannya dan dapat mempertanggungjawabkan pilihan tersebut meskipun pilihannya bisa jadi kurang atau tidak tepat atau salah fatal. Jika pilihannya memang salah, kami berharap dia mau belajar punya hati lapang untuk menerima dan memperbaiki yang salah tanpa berusaha mengulangi lagi. Semoga dia juga tidak takabur jika pilihannya tepat. Intinya, learn to decide sesuai keinginannya bukan sesuai yang kami mau. 

Selamat hari Kamis!

Regards,

Wien

Advertisements

6 comments

  1. Tulisan yang menarik!

    Saya juga pernah dibilang orang yang tidak tetap pendirian dan paling susah buat keputusan cepat. Kalau boleh membela diri, semua ini saya lakukan karena saya orangnya hati-hati. Sangat malah.
    Mungkin persis seperti Mbak disini, masa lalu dan tekanan dari superior bisa membuat saya semakin binggung untuk membuat keputusan.

    Perlu waktu bagi saya untuk belajar mengambil keputusan segera dan berani ! Saya bahkan menggunkan metode paksa kalau perlu. Tapi masih menandai diri saya dengan selalu berhati-hati. Karena kalau tidak, kadang saya menyesal dan mempersalahkan diri kebanyakan.

    Saya jga bljar soal tanggung jawab. Entah itu memutuskan atau tidak, keduanya pasti akan memberi konsekwensi berupa tanggung jawab!. Jdi, saya biasanya akan mempwrtimbngkan mana dari berbagai pilihan yg tanggung jawabnya bisa saya selesaikan sampai akhir. Ribet ya ?

    Hoalaaa…kok saya malah kyak curhat gini…🤣🤣

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s