A Piece of Story

Huwaaaaaah, saya rindu ngeblogHow are you?

Semoga semuanya selalu selalu selalu baik dan sehat. So well, saat ini saya sedang berusaha menyeimbangkan kehidupan pribadi di rumah as a wife and a mother of course and social life di luar rumah, mostly (masih) sebagai karyawan teladan. Baby K sedang lucu-lucunya sekarang, semoga tambah lucu dan selalu lucu sampai nanti, jadi saya benar-benar sedang menikmati setiap moment yang ada. Sejak kembali bekerja di kantor setelah melahirkan baby K, saya harus rela bangun jam 04.50 pagi untuk memulai rutinitas seperti biasa dan baru (ter)tidur kembali di jam 23.00 atau 24.00 malam.

Cape ga Wien? Yes, of course! Saya kan manusia bukan robot jadi tentu ada rasa capenya juga apalagi saya ini tipikal orang yang suka tidur, dan menahan kantuk tidak masuk dalam list favorit saya. Tidak jarang saya akan tantrum jika capenya sudah mencapai level tinggi sampai meneteskan air mata di depan S hahaha. But honestly, I do enjoy it because I always consider that being a mother is both a privilege and a blessing. Kalau bahas soal ini, jadi ingat cuitan mba Deny soal “ngeblog bisa menunggu, kebersamaan dengan anak yang tidak akan terulang, nikmati setiap detiknya”. Nuhun mba! *kecup*

Jujur dari hati terdalam, saya benar-benar kangen ngeblog. Apa daya waktu belum memungkinkan karena saya tidak mau menomorduakan baby K. Sekarang ini aktivitas saya benar-benar mengikuti jadwal dari pagi sampai ketemu pagi lagi. Diawali dengan cuci muka dan gosok gigi setelah bangun tidur, saya akan lanjut dengan pumping ASI. Setelahnya ya mandi, beberes, sarapan, dan “berperang” kembali dengan kemacetan Jakarta pagi hari demi sekarung berlian haha. Biasanya saya baru tiba kembali di rumah jam 18.30 sore jika tidak ada kemacetan yang berarti atau keperluan tertentu. Sesampainya di rumah, saya segera beberes dan makan malam dan mandi malam dan ngurusin baby K sampai dia tidur lagi. Di sela-sela jam kerja dan jam ngurusin baby K biasanya saya menyempatkan waktu untuk pumping ASI lagi. Jangan heran jika saya lama membalas pesan di WhatsApp atau Instagram atau e-mail. Mau aktif kembali di Twitter pun belum terlaksana karena saya butuh fokus disana, apalagi ngeblog dan membaca buku hahaha. That’s why, saya selalu salut dengan ibu-ibu di luar sana yang nampaknya mampu melakukan banyak hal padahal harus mengurus rumah dan anaknya sudah 2 atau 3 orang. 

Postingan kali ini akan membahas beberapa hal random yang masih saya ingat. Oya, sebelum lupa, saya mau kasih info kalau blog ini tidak akan berganti tema menjadi blog soal bayi dan printilannya. Saya tetap akan membahas apa saja yang ingin saya bahas. Kalaupun bahasan saya berkaitan dengan kehamilan dan printilan baby K, hal tersebut semata-mata supaya saya tidak lupa dengan apa yang sudah terjadi. Wahai teman-teman blogger budiman, percayalah kalau otak saya ini semakin lemah untuk mengingat sesuatu 😀

Seperti sekarang ini, saya akan membahas proses melahirkan baby K. Terima kasih sebelumnya jika postingan ini dibaca. Jika tidak dibaca pun, terima kasih sudah mampir ke blog ini 🙂

Seperti yang diketik di postingan sebelumnya, baby K lahir melalui proses c-section. Saya ini bukan orang yang fanatik dengan suatu jenis proses melahirkan, mau normal, c-sectiongentle birth, apa saja boleh sebab hal terpenting bagi saya adalah keselamatan si ibu dan bayi. Ketika masih hamil, saya sering ditanya “mau melahirkan lewat cara apa?” dan saya pasti menjawab “kalau bisa secara normal ya normal, kalau mesti c-section juga tidak apa-apa”. You know what, beberapa orang ngocehin saya untuk normal saja karena melahirkan lewat cara c-section itu artinya belum benar-benar sah jadi seorang ibu. Saya senyum kecut saja deh soalnya waktu itu saya masih hamil dan belum pernah melahirkan sebelumnya. Kalau saya mendengar kalimat seperti itu lagi sekarang, rasanya saya bakal engga segan untuk ngoceh balik ke orang itu, terutama orang-orang kepo yang belum pernah hamil sebelumnya. 

Sejak kontrol kehamilan yang pertama, dr. Asril sudah mengatakan sepertinya baby K akan besar, kemungkinan besar di kepala mengikuti bentuk kepala orangtuanya. Deteksi awal beliau bermula dari pertanyaan ukuran topi yang dipakai oleh saya dan S. Lantas saya jawab kalau saya tidak suka pakai topi karena sering tidak menemukan size yang pas, dan S juga tidak terlalu sering pakai topi.

Beliau terus terang menjelaskan kalau saya mungkin harus melahirkan lewat metode c-section jika kepala baby K memang besar sebab sepertinya saya CPD dan badan saya tidak tinggi, namun beliau juga fine-fine saja jika saya tetap ingin mencoba persalinan normal. Beliau mengatakan kalau hal ini baru feeling saja dan akan terus dipantau sampai beberapa bulan ke depan. Pada akhirnya lingkar kepala baby K bertambah besar seiring perut saya yang bertambah besar juga, tetapi saya bersyukur karena baby K tumbuh dengan baik di dalam perut saya tanpa kendala berarti.

Keraguan sempat menghampiri pikiran saya, apakah dr. Asril merupakan dokter yang tepat untuk menangani proses lahiran saya nanti. Meskipun beliau seorang yang good listener dan sudah berpengalaman di bidangnya, namun saya kurang suka menunggu lama setiap kali check-up. “Jam karet” beliau ternyata sudah terkenal di kalangan staf rumah sakit dan pasien. Jadi misalkan jadwal praktek beliau mulai dari jam 17.00 – 20.00, beliau pasti baru datang sekitar jam 18.00 – 19.00 dan antrian pasiennya tidak pernah sedikit. Sejak awal check-up, saya sering mendapat nomor antrian 5. FYI, durasi 1 pasien antara 20-40 menit, jadi tidak heran saya bisa menyempatkan waktu untuk tidur sambil menunggu giliran dipanggil suster. Tidur itu sungguh nikmat kawan, apalagi untuk ibu hamil 😀

Tiga hal yang saya ketahui soal “jam karet” beliau yakni pertama karena beliau bertugas di 2 rumah sakit swasta (dari yang seharusnya 3 atau 4 rumah sakit), kedua karena beliau cukup sering pulang pergi Jakarta-Padang untuk mengurus madrasah yang didirikan oleh kakeknya Syekh Ibrahim Musa, dan ketiga karena kemacetan Jakarta yang semakin parah dan unpredictable. Keraguan soal “jam karet” beliau sempat menjadi bahan pikiran saya, bahkan saya hampir berpindah ke dokter lain tetapi S tidak terlalu setuju karena track record dokter tersebut kurang berkenan untuk diandalkan, dan kami tidak mau pindah rumah sakit mengingat horornya macet jalanan Jakarta. Hal lain yang – akhirnya – membuat saya tetap stay dengan dr. Asril adalah ketaatannya terhadap sholat dan beliau bukan dokter yang “mata duitan” atau komersil. Saya menganggap diri saya lebih spiritual daripada religius tetapi saya menghargai pihak yang berusaha taat dengan waktu ibadahnya meskipun dia harus kehilangan sesuatu (dalam hal ini pasien).

Ketika sudah memasuki bulan kedelapan, dr. Asril kembali menyarankan saya untuk memilih jalur c-section karena lingkar kepala baby K fix lebih besar 2 minggu dari seharusnya. Beliau sempat mengatakan bahwa sarannya bukan supaya feenya semakin tinggi tetapi semata-mata untuk keselamatan saya dan baby K. Meskipun posisi kepala baby K sudah ke jalur lahir, namun beliau cukup khawatir jika saya tidak kuat ngeden. Beliau sampai membuat kalkulasi rumus matematika untuk membuktikan hal ini. Please don’t ask me further about the math formula, I have forgotten about it haha..

“Lebih baik bayar 1x untuk c-section daripada bayar 2x untuk normal plus c-section“, itu kata-kata si dokter yang masih saya ingat sampai sekarang. “C-section itu engga se-menakutkan kata banyak orang dan engga haram. Biasanya yang bilang ngeri itu yang belum pernah c-sec tapi kemakan omongannya orang lain”, lanjut si dokter. Beliau bicara seperti itu tanpa saya minta, seolah-olah untuk memantapkan hati saya memilih jalur c-section.

Meskipun saya tidak pro metode kelahiran apapun tetapi hati saya sempat bergumul untuk memilih jalur c-section sebab saya takut jarum suntik, takut infus, takut lihat darah, takut dengan adegan operasi hahahaha.. Serius loh ini, meskipun saya suka dengan Grey’s Anatomy dan The Resident tetapi saya benaran merasa horor harus mengalami semua itu, wong saya saja nangis sambil tertawa sama S waktu darah saya diambil untuk tes lab pas masih hamil baby K, dua kali pula! Suster-suster di lab pun ikut tertawa nyengir ketika saya bertanya apa ada pasien seperti saya, dan mereka geleng-geleng.

Setelah menandatangani surat persetujuan c-section, saya berkata kepada S, mimpi apa saya semalam sampai harus bertemu meja operasi hahaha. Boleh engga Karev saja yang in-charge ketika saya operasi? Atau Derek deh, eh tapi Derek sudah meninggal. Ya sudah, Jackson atau Nathan saja kalau begitu huhahaha. Efek kebanyakan nonton Grey’s Anatomy nih hahaha.. And you know what, saking tegang dengan suasana operasi yang akan saya jalani, saya mencret-mencret donk! Jadwal operasi saya hari Senin, 5 Maret 2018 dan saya sudah mulai mencret-mencret dari tanggal 1 Maret 2018 malam.

Dokter sempat menyarankan saya minum norit atau new diatabs atau makan apel tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar mampu menghentikan mencretnya saya. Saya sampai berhenti mengonsumsi air kelapa untuk sementara waktu. Selain itu perut saya mendadak gatal sekali sejak tanggal 1 Maret itu. Kata mertua, baby K sedang asyik kelitikin saya menggunakan rambutnya karena kepanjanganBelieve it or not yah karena baby K lahir dengan kondisi rambut hitam lebat sampai-sampai beberapa suster di paviliun bersalin senang mengganti model rambutnya setiap habis mandi.

Oleh sebab intensitas mencretnya saya sudah terlalu sering (bisa mencret 1-2 jam sekali), dr. Asril mencoret jadwal minum obat pencahar dari daftarnya. Entah bagaimana caranya akhirnya si mencret ini berhenti juga ketika saya mulai di-CTG dan diinfus di kamar perawatan sebelum dipindahkan ke kamar operasi. Tidak lama setelahnya, dokter konsultan anestesi datang menemui saya untuk menjelaskan prosedur anestesi. Serius deh, membayangkan saya akan dianestesi dan masuk kamar operasi itu benar-benar tegang mampus daripada melihat adegan darah bercucuran dari kamar operasi di Grey’s Anatomy atau di The Resident. Satu hal lagi yang saya benci dari kamar operasi, suhu ruangannya terlampau dingin. Saya suka dingin tapi kali itu benar-benar dingin!

Jadwal operasi molor sekitar 30 menit karena dr. Asril telat datang. Ceritanya beliau baru pulang dari Padang dan langsung ke rumah sakit untuk memimpin operasi saya. Semuanya berlangsung dengan cepat. Anestesi saya berlangsung dua kali karena badan saya menolak suntikan yang pertama. Saya mungkin bisa menganggap diri saya beruntung sebab hanya perlu disuntik dua kali untuk proses anestesinya sebab saya sering mendengar cerita orang lain yang harus disuntik minimal empat atau lima kali oleh dokter anestesi. That’s why saya bakal ngocehin orang yang bilang melahirkan lewat cara c-section itu artinya belum benar-benar sah jadi seorang ibu.

Mengeluarkan baby K dari dalam perut saya hanya perlu waktu sekitar 15-20 menit, sisa waktu sekitar 2 jam digunakan dr. Asril untuk finishing. Dari beberapa orang pasien yang ngobrol dengan saya kala menunggu antrian, dr. Asril juga dikenal sebagai dokter yang telaten dan tidak mau buru-buru ketika “menjahit” bagian tubuh yang dioperasi. Saya juga bersyukur memilih jalur c-section untuk melahirkan baby K sebab kepalanya ternyata pindah ke posisi atas, bukan di posisi jalur lahir lagi. Cukup tidak terbayangkan apabila saya tetap mencoba jalur normal untuk melahirkan baby K yang posisinya sungsang. Setelah mengeluarkan baby K, dr. Asril sempat berkelakar kalau dia hampir jatuh karena air ketuban saya banyak sekali. Saya ingat kalau saya hanya nyengir karena masih dalam kondisi setengah sadar.

Saya tidak bisa tidur di 24 jam pertama setelah melahirkan baby K, ada rasa tidak nyaman yang menghampiri. Saya juga minta infus dilepas setelah lewat 24 jam itu karena tangan kiri saya rasanya tidak enak untuk digerakkan. Kalau sedang tidak menyusui baby K, saya membagi waktu untuk tidur dan belajar beberapa hal, mulai dari duduk bersila, turun dari ranjang, ke toilet sendirian, dan juga mandi. Awalnya memang terasa sakit sekali meskipun sudah diberi pain killer tapi kan katanya “practice makes perfect” apalagi saya bukan orang yang bisa duduk diam tanpa melakukan apapun. Saya juga minta pulang lebih awal daripada jadwal seharusnya karena saya benar-benar tidak betah di rumah sakit.

Pulang ke rumah dan mulai menjalankan new role sebagai seorang ibu itu rasanya agak surreal, antara percaya engga percaya kalau sudah ada baby K sebagai penghuni baru di rumah kami. Dibilang mudah ya engga, dibilang sulit juga engga, so so saja, sampai akhirnya saya harus bergelut dengan eksim kering yang mulai muncul sekitar 1 minggu setelah saya pulang dari rumah sakit. Kali ini rasanya sungguh menyakitkan sampai entah berapa kali saya menangis di depan S karena sudah tidak tahan dengan gatalnya.

Saya pernah divonis menderita urticaria yang pernah saya ceritakan disini, namun eksim adalah barang baru untuk saya. Awalnya saya tidak tahu kalau saya menderita eksim, saya hanya merasakan gatal yang tidak wajar. Perut merupakan area pertama yang gatal dan lama kelamaan “menjalar” ke seluruh badan kecuali wajah dan kulit kepala. Di saat saya masih belajar untuk beradaptasi dengan jam tidur baby K, saya pun harus belajar menerima dan berdamai dengan keadaan kalau saya tidak bisa tidur karena gatal yang semakin menjadi-jadi dari hari ke hari. Saya juga harus belajar menerima si pusing dan si demam yang datang mendadak di kala baby K masih belajar menyusui. Hampir empat minggu pertama setelah melahirkan menjadi hari-hari yang overwhelmed untuk saya. Acara tantrum dan menangis di depan S sempat menjadi daily habits selama sebulan itu.

Saya sampai merasa jijik dan geli melihat kondisi kulit saya waktu itu. Told you that I’m not a religious person tapi saya tetap berdoa seperti biasa untuk minta penyembuhan secepatnya. Saya sampai bilang dalam doa kalau saya tidak masalah dengan kondisi kulit saya jika harus berubah seperti saat itu asalkan gatal-gatalnya berhenti karena sangat menyakitkan. Segala upaya saya lakukan supaya gatalnya hilang karena saya khawatir kalau baby K akan mengalami gatal-gatal juga, mulai dari pantang seafood dan kacang, lap badan dan mandi menggunakan arak putih atau rebusan daun sirih, serta tetap mandi air dingin seperti biasa meskipun saya merasa sakit seperti ditusuk jarum.

Saya konsultasi dengan dr. Dwi Ro Santi, dr. Hendrik Kunta Adjie, dan dr. Budi Widjaja. Ketiganya mengatakan saya alergi tapi hanya dr. Budi yang mengatakan kalau saya menderita eksim kering. Saya sempat mengira kalau saya menderita PUPPP tapi beliau menggelengkan kepala. “Hanya eksim kering kog, saya suntik dan kasih obat racik ya”. Yes, hanya dr. Budi yang memberikan suntikan ke saya (selain obat), dua dokter sebelumnya hanya memberikan resep obat.

Saya sempat merasa bersalah dengan baby K karena harus mengonsumsi obat dokter di kala dia masih belajar menyusui. Meskipun ketiga dokter tersebut mengatakan bahwa kandungan obat dari resep mereka ringan namun awalnya saya tidak mau minum obat-obat itu sampai S dan 1 teman baik saya menyarankan saya untuk tetap minum karena kalau kondisi saya semakin memburuk pasti akan memberikan bad impact ke baby K juga. Sebagai ganti, saya menambah asupan air putih, buah, dan sayur jauh lebih banyak daripada biasanya.

Saya juga kembali mengonsumsi air kelapa dan disarankan teman apoteker untuk mengonsumsi lebih banyak kalsium, salah satunya CDR. dr. Budy juga mengatakan salah satu pemicu terjadinya eksim kering ini karena baby K mengambil “stok” kalsium dari badan saya. Pemicu lainnya karena saya malas menggunakan lotion setelah mandi. Sejak saat itu, saya kembali menggunakan lotion QV, tetap mandi menggunakan sabun bayi, rutin minum air kelapa 4-5 kali dalam seminggu, dan rutin minum CDR 1 kali 1 hari. Konsumsi keju, susu pasteurisasi / susu kedelai, yoghurt, dan rebusan juga tidak berhenti karena memang sudah menjadi staple food sejak dulu.

Kesedihan saya sempat bertambah di waktu itu karena saya belum bisa makan sushi, sashimi, dan seafood!! Sedihnya itu benaran sedih banget apalagi ketika teman atau saudara mengirimkan foto tiga makanan itu ke saya hahaha. Saya belum bisa makan ketiganya karena saya bertekad pantang selama eksim saya belum sembuh total. Jahe, arak, dan wine pun tidak saya sentuh karena sifatnya panas. Padahal saya sempat ketik disini kalau hal pertama yang ingin saya makan setelah melahirkan nanti adalah sashimi and red wine. 

Kalau ingat semua kejadian itu saat ini, saya pasti akan senyum-senyum sendiri tapi saya tetap bersyukur sudah melalui semuanya. Namun yang pasti, saya akan terus mengingat satu kalimat yang sering dibilang alm kakek saya dulu, “bukan soal bisa atau tidak bisa, tapi mau atau tidak mau”. Memang easier said than done tetapi jika dirapalkan terus menerus pasti akan terjadi dengan sendirinya. Okayback to my real life dulu yah, nanti disambung lagi kapan-kapan haha. Thank you for reading this post, see ya 🙂

Regards,

Wien

Advertisements

10 comments

  1. Wien, seneng deh baca ceritamu. Ikut merasakan kamu menikmati proses sebagai Ibu dengan pembelajaran yang tak berhenti. Dan suka dengan kalimatmu bahwa blog ini tak akan berganti menjadi blog yang bercerita tentang bayi dan printilannya.
    Semoga kalian sehat sekeluarga ya Wien dan sakit eksim kamu berangsur membaik. Selamat menikmati momen2 bersama si kecil

    Like

  2. Hehehe, tenang aja, sashimi n seafood lainnya nggak akan kemana-mana kok, akan terus ada disitu. Tinggal sabar aja tungguin. Kalau sempet, nulis yang ringan2 di sini, biar bikin relax pikiran juga. Btw, cici baru tau loh ada dokter nyaranin C section gara-gara ukuran lingkar kepala. Biasanya lebih ke alasan medis kan, kayak terlilit tali pusar atau placentra previa atau preeclampsia.

    Like

    • Hai Leony, numpang komen. Saya termasuk yg disuruh sesar krn kepala anakku besar, trus kata dokter krn saya orang asia, suami western tinggi gede, kuatir bayinya nyangkut saat lahiran normal. Pas habis sc dibilang klo bayiku lehernya kelilit tali pusar.

      Like

    • Iya ci, berusaha cari waktu untuk nulis disini biar isi otaknya berkurang sedikit haha.. Iya ci, ada beberapa dokter yang menyarankan begitu. Tempo hari teman saya juga disarankan begitu oleh dokternya dengan alasan serupa.

      Like

  3. Selamat ya Wien buat kelahiran baby K. Kalau dokter kasih obat dan tahu kita punya baby, pastilah isinya ga pengaruh ke bayi ko, termasuk tuh pil kb ada yg untuk ibu menyusui, setelah ga kaish asi lagi, nanti dikasih pil kb lainnya, klo pil ya sbg alat kontrasepsi.
    Sejak punya anak saya salah satu bloger yg suka nulis anak dan prtilinannya, biarinlah walalu dinilai receh ga berbobot, ga penting kali gitu yaa, yg penting apa yg ada dikepala, apa yg bikin hati senang dituangkan dalam tulisan itu yg saya lakukan 😉 .

    Like

    • Hai mba Nella, thank you untuk ucapannya. Iya mba, seharusnya dokter jauh lebih tahu mana yang lebih baik untuk kita yah, tapi aku seringnya suka cari info tambahan soal obatnya lewat Google juga. Soal isi blog, jika memang sudah jadi pilihanmu memang nda perlu pusingin apa kata orang lain, yang penting hati happy ya mba hehehe

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s