Nano Nano Hari Jumat

Lihat kalender meja rasanya waktu berjalan cepat sekali yah, bulan Februari tahun ini akan segera berakhir kurang dari satu minggu padahal rasanya kita baru merayakan pergantian tahun dari 2017 ke 2018.

Bicara soal tahun 2017, well menurut saya tahun itu salah satu tahun nano-nano yang penuh cerita, mulai dari soal pulpitis dan urticaria yang saya alami, orangtua saya yang didera depresi akut dan stroke ringan, soal S yang menjadi korban politik kotor dari segelintir pihak, sampai soal kehamilan saya. Kalau dipikir-pikir, ada beberapa hal yang rasanya surreal untuk dijalankan sebab terus terang awalnya saja sudah berasa suram tapi saya terus merapalkan mantra “this too shall pass”. Satu hal yang pasti, kondisi kesehatan orangtua saya belum benar-benar membaik 100% sampai saat ini. Kalau saya analisis, semua itu sebenarnya lebih ke diri mereka sendiri, namun memang keduanya sama-sama keras kepala, susah banget dibilangin, dan rasanya kalimat “semakin tua semakin seperti anak kecil” itu ada benarnya. Jujur dari lubuk hati terdalam, saya dan S tidak mau menghabiskan masa tua kami nantinya dengan cara seperti itu.

Mari tinggalkan cerita di atas. Saya baru habis ngobrak-ngabrik file foto dan menemukan cukup banyak foto makanan yang rasanya sayang untuk dinikmati sendiri saja jadi saya iseng mau berbagi di postingan ini. Engga semuanya foto baru sih, ada foto lama juga tapi belum lama-lama banget. Meskipun masih memendam cita-cita untuk tinggal di negeri orang tetapi saya dan S masih senang tinggal di Indonesia karena keanekaragaman makanan dan bumbu yang dimiliki, dan diberkatilah orang-orang yang hobi makan haha 😀

1

Mengapa sashimi dipilih sebagai foto pertama? Sebab saya sudah hampir 9 bulan tidak mengonsumsi makanan asal Jepang ini karena sedang hamil si baby K haha. Rasanya sungguh menyakitkan #lebay. Saya sampai bilang ke S kalau hal pertama yang ingin saya makan setelah melahirkan nanti adalah sashimi, and red wine I think 😀 Di atas adalah foto sashimi salmon di Ippeke Komachi, salah satu restoran Jepang favorit saya sejak beberapa tahun silam, dan saya bisa menghabiskan semua sashimi di foto tersebut dalam sekejap mata saja. Oh sashimi, I miss you so much!

  • Martabak Bandung Jaya – Pluit Sakti. Jenis martabak di foto adalah martabak Nutella dan martabak keju, so pasti bukan pesanan saya dan S. Kami berdua lebih suka martabak kacang cokelat wijen tanpa susu kental manis.
  • Es krim Koiyaki – PIK Avenue. Salah satu es krim kesukaan dengan rasa teh hijau dan hojicha.
  • Es oyen Manise – Sunter. Salah satu es kesukaan juga, tentunya tanpa susu kental manis.
  • Nasi goreng petai udang – QQ. Kalau lagi kepingin makan nasi goreng petai tapi S lagi malas bikinin dan nasi goreng Guan Tjo terlalu jauh untuk dijangkau dengan ojek online, saya pasti pesan disini.
  • Nasi goreng petai buatan S. Engga tahu kenapa, saya suka banget dengan nasi gorengnya ini. Mungkin ada peletnya LOL.
  • Kepiting – Fresh Market PIK. Saya lupa waktu itu pesan kepiting di foto itu pakai sambal apa, yang jelas rasanya asam pedas tapi enak sekali.
  • Iga penyet – Warung Leko. Saya pasti pesan menu ini kalau ke Warung Leko. Sambalnya minta yang pedas (satu level di bawah super pedas) dan minta tambahan lalapan daun kemangi + timun.
  • Tahu cina goreng buatan S. Sebenarnya saya pecinta tempe, kalau S baru pecinta tahu, namun entah mengapa saya doyan sekali makan produk tahu selama hamil ini terutama tahu cina goreng. Makan nasi putih hangat dengan tahu cina goreng yang dicocol sambal bu Rudy (gambar sebelahnya) sudah nikmat rasanya! Hidup anak tahu!
  • Sambal Bu Rudy – Surabaya. Tahukah kamu jika nama sebenarnya dari peracik sambal ini adalah Lany Siswadi? Diberkatilah beliau yang menciptakan sambal enak nan pedas ini haha.
  • Serabi Solo Noto Kromo – Sunter. Saya doyan makan serabi apalagi disajikan hangat, rasanya sungguh nikmat. Serabi ini dijual di tepi jalan tapi peminatnya banyak jadi jangan heran kalau pembuatnya sudah siap-siap pulang sebelum pukul 17.00 sore.
  • Es krim Angi – Pontianak. Salah satu es krim favorit saya sejak kecil dan S pun menyukainya sejak saya ajak berkunjung langsung ke lokasi. Rasa senangnya bertambah ketika saya menerima paket dari teman berupa 1 kotak es krim rasa cokelat dan 1 kotak es krim rasa nangka karena dua rasa tersebut memang rasa favoritnya S. Ini mah siapa yang ngidam, siapa yang doyan 😀
  • Foto ini dan foto selanjutnya itu combro dan misro di Dapur Solo. Correct me if I’m wrong, kalau engga salah combro itu dibuat dari oncom dan singkong, sedangkan misro isinya gula jawa jadi rasanya manis. Kalau ke Dapur Solo, saya dan S suka nyemil kedua makanan itu.
  • Nasi campur Bunhiang – Taman Palem. Kalau foto setelahnya itu nasi kari di tempat yang sama. Ceritanya Bunhiang ini dulu cukup terkenal di Pontianak tapi ternyata pemiliknya pindah ke Jakarta, for a better life katanya. Awalnya saya tidak tahu alamat mereka di Jakarta sampai dikasih tahu oleh teman kantor, dan ternyata lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Sejak kecil saya lebih suka makan nasi kari, beda dengan S yang lebih suka nasi campur dan menurutnya nasi campur disini enak sekali. Kami berdua juga suka dengan kuah kentalnya karena dimasak dengan bawang putih. Yes, kami berdua pecinta bawang putih hehe. FYI, nasi campur di Pontianak lebih dikenal dengan sebutan nasi ayam meskipun isinya ada daging babi.
  • Soto betawi daging Rumah Soto Pontianak – Taman Palem. Ceritanya restoran ini milik keluarga teman saya. Pusatnya ada di Jalan M. Sohor Pontianak, dan saya dapat info kalau mereka expand ke Jakarta tepatnya di Taman Palem. Saya dan S suka dengan menu soto dan empek-empek disini jadi kami langsung menyempatkan waktu untuk makan di cabang Taman Palem.
  • Baso Sapi Singkawang 28 – Pademangan. Saya ini penggemar olahan daging sapi tapi dagingnya saja tanpa dalemankulit, atau yang lain. Salah satu olahan yang saya gemari adalah baso gepeng. Saya senang makan di Baso Sapi PSP ketika masih tinggal di Pontianak, dan selalu menyempatkan diri untuk makan disana kalau pulang kampung. Saya juga suka dengan Baso Solo Samrat (kalau engga salah ini gara-gara Twitter Mas Dani, Puji, dan Kak Christa haha) tetapi saya lebih suka Baso Sapi Singkawang 28. Kalau makan disini, saya dan S suka minta tambahan kacang kedelai dan bawang putih.
  • Devil food cupcake dan red velvet cupcake – Cupcake Momma G. Ini bukan ajang promosi tapi saya dan S beneran suka dengan cupcake buatan Kak Joice ini. Kalau buka PO lagi jangan lupa info-info ya kak, kan ternyata kita tetanggaan haha.
  • Rujak air Siapakira – Sunter. Saya belum pernah menemukan rujak air selama tinggal di Jakarta dan sepertinya orang-orang disini juga banyak yang engga tahu soal rujak air ini. Jadi sewaktu S iseng ke Siapakira, saya senang donk bisa menemukan menu rujak air disana.
  • Gado gado Manise – Sunter. Saya senang makan sayuran rebus atau cenderung mentah tapi saya kurang suka dengan saus kacang, cuma kog rasanya sayang melewatkan gado-gado ini begitu saja. Perfect blend deh pokoknya.
  • Kengci kwetiau – Pademangan. Makanan satu ini ditemukan secara tidak sengaja oleh S ketika dia melewati wilayah Pademangan. S tahu saya gemar makan kengci kwetiau (katanya karena saya orang Pontianak haha), dan kami berdua punya rumah makan favorit di Pontianak yang kengci kwetiaunya dimasak di atas arang. Kwetiau ini termasuk halal dan disebut kengci karena hanya digoreng dengan caisim, tauge, telur, lada, dan kecap asin. Kecap asin digunakan sebagai bahan utama, disajikan agak basah, dan saya lebih suka jika telurnya digoreng terpisah dari si kwetiau. 
  • Sup jagung kepiting – Restoran Mutiara. Restoran ini merupakan salah satu restoran Chinese lama yang cukup terkenal di Jakarta dan menu ini merupakan salah satu menu andalan mereka. Sejak buka cabang di Pluit, kami jadi cukup sering makan disana karena lokasinya tidak jauh dari rumah.
  • Mie sop Cita Rasa Medan – Taman Palem dan Greenville. Saya tahu restoran ini dari teman, katanya saya harus cobain mie sop disana. Belum kesampaian ke lokasi pusatnya di Taman Palem, saya dan S singgah ke cabang di Greenville karena cukup sering lewat jalan itu. Rasanya? Enak!
  • Tekwan Sari Sanjaya. Menurut saya dan S, kuah tekwannya ini enak banget! Selain empek-empek dan pindang tentunya yah.
  • Rujak juhi Wang 69 – Sunter. Bumbu dan isi rujaknya itu benar-benar sesuai. Kalau doyan juhi, silahkan dicoba.
  • Foto yang ini dan foto setelahnya sebenarnya foto penting engga penting haha. Dua-duanya hasil karya saya, yang satu puding cokelat susu kedelai dengan cranberries sebagai fillingnya dan satunya lagi kue cokelat yang dibuat dengan rice cooker. Saya cukup sering membuat keduanya sebelum hamil tapi entah mengapa saya engga ada niat sama sekali untuk membuat keduanya selama hamil, that’s why saya bilang kedua foto tersebut penting engga penting. Penting untuk ingatin saya supaya mau buat keduanya lagi tapi sebenarnya engga penting-penting banget untuk dipajang disini haha.

Nah kalau foto terakhir di bawah ini termasuk makanan favorit saya dan S juga kalau berkunjung ke Ikan Bakar Cianjur, terdiri dari tumis pucuk labu, ikan varian apa saja, dan nasi liwet.

20171208_175552

Foto makanannya cukup sampai disini dulu yah, kapan-kapan baru disambung lagi haha. By the way karena masih dalam periode penanggalan tahun baru Cina jadi saya mau mengucapkan “Selamat Tahun Baru Imlek” kepada pihak yang merayakan.

20180218_195617
Wishing you and your family a paws-perous new year

Tempo hari saya ada bahas di Twitter soal kalimat ucapan untuk perayaan Imlek dan saya coba bahas ulang disini yah. Jadi ceritanya waktu hari pertama Imlek kemarin, saya sering mendengar banyak pihak mengucapkan “kiong hi, gong xi fa chai” secara bersamaan seolah-olah maknanya berbeda padahal sebenarnya makna kata “kiong hi” dan “gong xi” itu sama. “Gong xi” itu pengucapan dalam bahasa Mandarin sedangkan “kiong hi” dalam bahasa Hokkian, tapi keduanya memiliki makna yang sama yakni “selamat”. Kalau diucapkan dalam satu kalimat utuh jadinya “gong xi fa chai” atau “kiong hi huat chai” yang bermakna “selamat dan semoga makmur”, bukan bermakna “selamat tahun baru”. Kalau “selamat tahun baru” beda lagi, pengucapannya “xin nian kuai le”. Semoga info ini bermanfaat yah 🙂

Menutup postingan hari ini, saya mau menyampaikan keluhan (asyik kata-katanya, ke-lu-han) kepada siapa saja yang suka main HP di jalan raya. Sejujurnya dari hati saya yang terdalam, saya ini suka bingung dengan orang-orang yang gemar main HP di jalan sambil berkendara, entah itu motor atau mobil atau bajaj atau truk atau lainnya. Sama halnya juga dengan pejalan kaki yang sedang naik turun tangga di fasilitas publik atau sedang menyeberangi jalan. Apalagi jika hujan sedang turun deras-derasnya. Bingung karena orang-orang seperti itu lebih pentingin HP daripada keselamatan mereka sendiri padahal jelas-jelas aplikasi yang mereka pantengin itu engga jauh-jauh dari media sosial. Please jangan main HP di jalan karena HPmu engga bisa beli nyawamu tapi nyawamu bisa beli HPmu. Selain itu, penyesalan tidak pernah datang di awal-awal kan? 🙂

So, selamat hari Jumat!

Regards,

Wien

Advertisements

8 comments

  1. wiiieennn….ini postingannya beneran bikkin ngiler!!!
    oia xin nian kuai le, semoga di thaun ini banyk kemakmuran dan rejeki ya….
    lancar terus kehamilannya….

    Like

  2. Wah postingan makanannya langsung aku copy paste ke HP, masukin bucket list buat kapan2 dicoba hahahaha….
    Gong xi fa chai Wien dan keluarga. Semoga berlimpah rejekinya di tahun ini ya, sehat sehat ya sampe lahiran nanti 🙂

    Liked by 1 person

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s