Hoarders

Ada sebuah reality show di televisi yang menarik perhatian saya selama kurang lebih 2 tahun belakangan ini. Judul acara berdurasi 60 menit tersebut adalah “Hoarders” yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti “penimbun”. Setiap episode biasanya menampilkan 1 sampai 2 profil yang menjadi objek konseling acara ini, dan para objek tersebut akan berhadapan langsung dengan psikolog / psikiater, professional organizer, dan cleaning specialist.

Jika ditelusuri lebih lanjut, pihak-pihak yang menjadi bagian dari acara ini bukan sembarang orang melainkan mereka yang sudah terbiasa di bidangnya. Psikolog atau psikiater yang bertugas menjadi terapis dari si objek biasanya bergelar Psy.D (Doctor of Psychology) atau Ph.D (Doctor of Philosophy), bahkan ada juga yang bergelar LMFT (Licensed Marriage and Family Therapist). Begitu juga dengan professional organizer dan cleaning specialist di acara tersebut yang sudah memiliki sertifikasi sebagai Certified Professional Organizer atau Extreme Cleaning Specialist. 

1.jpg
via

Mungkin ada yang berpikir nimbun kan sifatnya seperti simpan barang, kog nimbun barang doank harus pakai terapis dan orang yang punya sertifikasi? Saya bisa mengetik seperti itu karena saya pernah memikirkan hal tersebut, karena saya sebelumnya tidak tahu menahu jika aktivitas penimbunan (hoarding) bisa berdampak buruk untuk kejiwaan seseorang.

Pada dasarnya, hoarding merupakan aktivitas yang biasa dilakukan oleh manusia atau hewan-hewan tertentu, dan hoarding yang dilakukan oleh hewan lebih dikenal dengan istilah cachingCaching pada hewan biasanya dilakukan untuk antisipasi terhadap perubahan musim, misalnya musim dingin yang membuat hewan kesulitan mencari makanan sehari-hari.

2
via

Jika hewan sudah melakukan caching sebelum musim dingin, kemungkinan mereka untuk hidup akan lebih besar karena makanan sudah tersedia. Dalam kasus manusia, hoarding biasanya dilakukan apabila terjadi peristiwa skala besar, misalnya bencana alam atau perang. (Alm) kakek saya selalu menyarankan anak dan cucunya untuk menimbun beras, air, telur, ikan kaleng, dan mie instan di rumah, katanya untuk jaga-jaga jika terjadi bencana alam seperti banjir besar.

Beberapa artikel yang saya baca mengatakan bahwa hoarding akan mulai berdampak buruk untuk kejiwaan apabila orang tersebut mulai merasa enggan / kehilangan kemauan untuk memilah dan membuang barang-barang yang sudah tidak dibutuhkan. Hal serupa juga dibahas di acara “Hoarders” tetapi kondisi tersebut bukan satu-satunya kondisi yang menjadi alasan utama hoarding.

3.jpg
via

Seseorang yang mengalami trauma terhadap suatu hal atau mengalami kejadian tidak menyenangkan (contohnya : korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), korban bully, korban perceraian) juga bisa memicu terjadinya hoarding di tingkat yang buruk. Mereka akan gemar mengumpulkan barang-barang yang sebenarnya sudah tidak dibutuhkan, misalnya majalah lama, surat tagihan lama, obat-obatan atau makanan yang sudah kadaluarsa, pakaian lusuh, bahkan sampah. Umumnya orang-orang ini dianggap sudah mengalami compulsive hoarding dan biasanya mereka akan beralasan bahwa mereka “memiliki keterikatan” dengan semua barang yang dimiliki sehingga mereka tidak boleh membuangnya. Bagi mereka, barang-barang tersebut memberikan rasa nyaman dan aman.

Dengan adanya penimbunan buruk seperti itu, biasanya tempat tinggal mereka menjadi sangat berantakan, entah itu area dapur yang tidak dapat digunakan untuk memasak, kamar yang sudah tidak dapat digunakan untuk beristirahat, atau area kamar mandi yang sangat kotor. Kondisi tersebut juga membuat mereka sulit untuk jalan dengan leluasa di dalam rumah mereka sendiri, dan tentunya orang lain akan kesulitan juga. Dalam kasus yang sudah parah, perilaku buruk tersebut bisa memicu terjadinya kebakaran karena akses masuk dan keluar rumah tertutup. Kesehatan yang buruk juga pasti menghantui mereka karena kondisi tempat tinggal tidak bersih sama sekali.

Compulsive hoarders ini mungkin sadar dengan hal buruk yang sudah mereka lakukan tetapi biasanya tingkat kesadaran tersebut lebih rendah daripada “keterikatan” mereka dengan barangnya. Mereka tidak akan senang jika barang tersebut dipindahkan atau dibuang. Mereka akan melakukan berbagai cara demi mempertahankan barang-barang tersebut.

Selama ini, compulsive hoarding dikategorikan sebagai salah satu bagian dari OCD. Gangguan kecemasan seperti ini biasanya mampu membuat seseorang melakukan sesuatu secara berulang-ulang. Sejauh ini, compulsive hoarding dibantu melalui metode pengobatan dan konseling. Saya tidak terlalu paham soal obat-obatan, tapi setahu saya obat yang dikonsumsi termasuk golongan antidepresan. Kalau di “Hoarders” biasanya selalu muncul hasil dari upaya pembersihan di setiap akhir acara. Para objeknya pun biasanya dirujuk untuk mengikuti konseling selama beberapa bulan.

Rasa-rasanya hal seperti ini masih dianggap biasa di kalangan masyarakat Indonesia, padahal memiliki dampak yang membahayakan. Nah, apakah kamu atau keluargamu atau kenalanmu memiliki kecenderungan menimbun barang separah ini? 🙂

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

36 Comments

  1. pernah nonton acaranya, serem ya. mereka beneran kayak tinggal di gudang barang numpuk dimana2 sampe mau jalan aja susah. Tiap aku habis nonton acara itu, pasti bawaanya pengen nyortir barang hahaha, soalnya nih kebiasaan jelek aku suka banget stok barang banyak2 padahal dipake aja kadang engga buat jaga2 aja.

    Liked by 1 person

    1. Kalau aku merasanya bukan seram tapi geli-geli-sedap plus kasihan sama objeknya tapi penasaran banget akhir acaranya seperti apa haha. Kalau aku memang tipikalnya engga mau beli barang yang aku ga butuh haha.

      Like

        1. Hahaha temanku ada yang mirip kamu. Dia sampai tempel kertas gede gede di kamarnya, tulisnya “hemat hemat jangan belanja alat makeup terus”. Kertas yang ditempel banyak banget. Dia juga masukkin di dompet jadi sekali buka dompet bisa baca tulisan itu. Katanya so far lumayan membantu. Mungkin kamu mau coba 😋

          Like

          1. Waaah good idea. Ok nanti coba aku praktekin karena belakangan agak bablas nih gara2 banyak liat diskonan di online shop hahaha mesti ada remindernya 😀

            Like

  2. Ini serem banget. Aku bener2 pengen tahu yang ada di dalam pikiran mereka itu apa ya sampe mereka bisa hidup kaya gini. Aku sendiri paling males sama namanya clutter, suka banget buang2 barang yang ga perlu sampe kadang barang yang masih perlu ikut kebuang :p

    Like

    1. Iya aku juga kepingin tahu mereka mikirin apa sampai segitunya. Ada yang bahkan sampai berbulan2 engga mandi dan tinggal serumah dengan pets yang pipis dan poopnya sembarangan juga. Iya sama Va, aku juga engga suka clutter, bisa bikin mood aku jadi jelek banget.

      Like

  3. Yang paling “keren” itu ada ibu2 yang nampung hasil urinenya di botol selama tahunan. Luar binasa. Dan sulit banget loh buat mereka bisa sembuh. Dibersihin, gak lama juga numpuk lagi.

    Like

    1. Ah iya ci aku baru ingat pernah nonton episode itu juga. Iya ci mereka harus punya niat tinggi untuk sembuh total dan harus ada dukungan dari orang terdekat juga. Kalau engga ya segala macam pengobatan dan konseling jadi tidak berguna.

      Like

  4. Simpen bon lama… Struk atm. Tiket nonton… Duh… Itu gw banget Wien hahaha. Smp trs lupa simpen dmn.

    Kl mnrtku, setiap org psti ada sisi “hoarder” nya. Cuma levelnya beda2 *teteup gak mau dianggap bagian OCD nya… Jd cari alasan*

    Like

  5. parah banget ya hoarding nya kalo yang di tv itu…
    kalo di rumah sih jelas anak2 yang pada hoarders. paling susah disuruh ngebuangin mainan yang udah gak pernah dimainin lagi. hahaha.

    Like

    1. Iya yang di TV itu sudah level parah banget. Wahahaha pada sayang ya buat mainannya gitu 😄 So far ko Arman kasih alasan apa ke mereka kalau mau buang mainannya?

      Like

  6. GUa dulu sering nonton ini, Wien.. Ikutan stress.. haha.. Aku dulu juga suka nyimpen barang2 perintilan.. Tiket bioskop ( sampe yang udah pudar juga masih disimpen waktu itu haha ), well akhirnya sadar ga perlu nyimpen2.. Lah Iyan kayak gitu juga.. Wa gatel pengen nyortir semua barangnya haha.. Walopun yah gak kayak hoarders di TV itu ya..

    Like

    1. Wkwkwkwkw tiket bioskop itu kayaknya jadi salah satu barang favorit yang ditimbun banyak orang ya In. Haduh jangan sampai kayak hoarders begini deh, seremmm

      Like

  7. Suamiku kayak gitu Mba,suka nyimpen struk ATM dan karcis parkir sampe numpuk. Kalo dah diomelin baru dibuang. Tapi besoknya begitu lagi,jadinya di mesin cuci suka banyak kertas. Tapi kayaknya ga sampe OCD. Salam kenal Wien.

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s