Perspektif Hamil

Saya dulu pernah membuat post di blog ini yang intinya menyimpulkan bahwa “hidup sebenarnya sederhana, manusia yang membuatnya menjadi tidak sederhana”. Confucius yang membuat ungkapan tersebut, aslinya “life is really simple but we insist on making it complicated”. Ungkapan tersebut saya baca beberapa tahun silam dan terpatri di otak sejak saat itu sebab saya merasa kalimat tersebut benar adanya.

Merujuk kepada hal yang saya alami saat ini, salah satu hal yang saya rasa bisa menjadi contoh dari ungkapan tersebut adalah soal kehamilan. Sebelum kalian membaca post ini lebih jauh, saya ingin menekankan bahwa post ini murni opini saya sendiri tanpa bermaksud menyinggung pihak lain. Salam damai, no baper 😀

In my humble opinion, kehamilan itu sifatnya sama dengan kehidupan, semua tentang pilihan. Jika ingin hidup bahagia, pilihlah jalan hidup yang dapat membawa kebahagiaan. Jika ingin hidup sehat, pilihlah jalan hidup yang membawa kesehatan. Saya mungkin masih terlalu piyik untuk memiliki filosofi seperti itu tetapi saya menyakini bahwa hidup merupakan pilihan untuk setiap orang, dan hidup memberikan banyak pilihan. Lebih jauh, saya memahami proses kehamilan seperti saya memahami proses kehidupan, bahwa kehamilan merupakan pilihan bukan kewajiban.

Saya tidak terlalu mengetahui social-life masyarakat di luar Indonesia itu seperti apa tetapi sepertinya masyarakat Indonesia memiliki hukum “ingin tahu” yang tidak tertulis namun sifatnya kuat dan sudah mengakar turun-temurun. Jika diteruskan, hukum “ingin tahu” tersebut akan lanjut menjadi hukum “sok tahu dan atau judging” sehingga muncul ungkapan “never ending questions” di lingkaran sosial saat ini. Akan tetapi, saya tidak menyukai kehidupan sosial seperti itu karena pada dasarnya saya tipikal orang yang menghargai kehidupan privasi seseorang.

Terus terang saya sering bingung mengapa kehamilan dihubungkan dengan pernikahan karena – bagi saya – wanita yang menikah tidak wajib hamil karena balik lagi, hamil itu pilihan. Saya hamil saat ini karena memang itu pilihan saya dan suami, karena kami berdua senang dengan anak kecil, bukan karena kami merasa wajib memiliki anak setelah menikah. Ketika saya dan S menikah, kami lebih banyak mendapatkan ucapan “selamat ya, semoga segera dapat anak / momongan, usia kalian sudah tidak muda” daripada “selamat ya, semoga selalu berbahagia”. Sisi positifnya, kami didoakan untuk segera punya anak karena kami memang mau punya anak. Sisi negatifnya, mengapa anak selalu dijadikan patokan utama di kalangan masyarakat kita?

Baru-baru ini saya mendapatkan kabar tentang seorang wanita yang baru saja melahirkan anak kelimanya tetapi dia tidak mampu merawat anak tersebut sehingga harus “menjual” anaknya ke pihak lain. Ketika mendengar hal tersebut, respon pertama saya adalah kasihan dengan si wanita yang harus terpisah dari anaknya. Respon kedua saya lebih dipengaruhi sisi logika saya, mengapa wanita ini masih memilih untuk hamil kelima kalinya jika dia tahu dia tidak akan mampu merawat anak tersebut? Terlepas dari apapun alasan si wanita, fenomena seperti ini masih sering terjadi di Indonesia.

Bagi saya pribadi, lebih baik wanita tersebut tidak hamil daripada dia tidak bisa menjalankan tanggung jawabnya dengan baik sebab tidak ada satu pun anak yang minta untuk dilahirkan. Saya sering sedih kalau melihat atau mendengar hal seperti ini. Sedihnya bukan ke orangtua dari si anak tetapi ke anaknya langsung karena seperti yang saya ketik di atas, tidak ada satu pun anak yang minta untuk dilahirkan. Saya lebih suka konsep cerita di film “Lion” yang diperankan oleh Dev Patel dan Nicole Kidman. Dalam film tersebut, Nicole Kidman – yang berperan sebagai ibu angkat Dev Patel – mengatakan bahwa dia sebenarnya tidak mandul tetapi dia memilih untuk menolong orang lain yang membutuhkan lewat adopsi karena dia dan suaminya memiliki pandangan kalau sudah terlalu banyak manusia di bumi.

Oleh sebab saya memiliki pemahaman jika kehamilan merupakan pilihan setiap wanita, maka saya cenderung hanya bertanya “apakah kamu berencana memiliki anak setelah menikah?” kepada orang yang memang saya sudah kenal dekat. Jika orang tersebut menjawab “iya” maka saya akan mengatakan “semoga segera dikabulkan”, namun jika orang tersebut menjawab “tidak” maka saya tidak akan meneruskan kalimatnya. Saya tidak minta untuk dicontoh tetapi akan lebih baik jika kehamilan tidak dijadikan patokan dari suatu pernikahan lagi karena percayalah, banyak pasangan yang tidak suka ditanya dan dipaksa soal itu. Perihal kehamilan saya ini pun saya hanya bertukar pikiran dengan beberapa orang yang sudah dekat sekali dengan saya untuk menghindari kekepoan dan hal semacam itu, meskipun kenyataannya tetap saja banyak yang kepo, judging, dan sok tahu haha.

Saya senang dengan kehamilan ini tetapi saya merasa hal ini bukan untuk dikonsumsi publik, toh saya juga bukan public figure. Mengapa saya mencoba menghindari orang-orang kepo, judging, dan sok tahu? Sebab mayoritas dari pihak-pihak tersebut menganggap opini mereka adalah hal paling benar dan tepat sehingga saya wajib mengikutinya. Lebih jauh, saya akan tambah risih jika pihak tersebut nyatanya belum pernah hamil / memiliki anak meskipun sudah lama menikah tetapi ikut menjadi pihak-pihak seperti itu. Saya menghargai setiap opini yang diberikan dan saya punya hak untuk memilah opini tersebut, namun sayangnya banyak pihak yang tidak paham soal itu. Ujung-ujungnya saya dianggap pembangkang karena tidak menuruti kemauan pihak-pihak itu 😀

Jadi yah begitulah, saya menjadikan kehamilan sebagai contoh kalau manusia senang sekali merumitkan suatu hal yang sederhana, setidaknya manusia yang ada di sekitar lingkungan saya. Bagi saya, karena kehamilan ini adalah pilihan saya dan suami, maka kami lebih suka menjalani hal ini sesuai dengan seharusnya tanpa merumitkan proses yang memang harus dihadapi.

Featured image via

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

17 Comments

  1. Wien, dalam hal ini kita satu perahu. Maksudnya sama pemikiran. Hamil, punya anak dan menikah menurutku adalah pilihan. Tidak ada yg menjadikannya suatu kewajiban. Makanya aku suka risih kalau baca atau dengar “hidupnya sudah sempurna atau lengkap ya setelah menikah atau punya anak” lah, semudah itukah lengkap atau tidaknya hidup manusia ditentukan. Hanya dari status menikah atau punya anak. Bagaimana dengan mereka yg memilih bahagia dengan cara lain? Apakah tidak sempurna hidupnya? Lagian, setiap orang berhak menentukan langkahnya sendiri kedepan, bukan karena memenuhi tuntutan sosial atau sebagai ajang kebanggaan. Misalnya pendapatku ttg anak. Buatku, memiliki anak itu harus dipenuhi dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran. Gimana nanti menghidupinya, pendidikannya, masa depannya dll. Aku tidak sepenuhnya percaya setiap anak akan bawa rejeki masing2, yg aku percaya adalah setiap orangtua sudah harus memikirkan masa depan si anak ini bagaimana perencanaannya. Tuhan memang sudah mengatur, tapi manusia juga harus menjemput dan berusaha kan. Belum lagi wanita juga harus secara sadar ketika memutuskan hamil bahwa itu memang adalah pilihannya juga. Badan dia lho, selama 9 bulan dibuat bawa janin kemana2 belum lagi perubahan ini itu. Punya anak bukan hanya memenuhi urutan dan standar sosial masyarakat. Punya anak bukan hanya berhenti pada kebanggaan. Klo sudah bangga, so what? Memutuskan punya anak itu artinya juga berkomitmen belajar tanpa henti. Bukan leyeh2 trus setelahnya jadi selalu ngeluh ini itu. Lah situ punya anak kan ga ada yg nyuruh, kenapa jadi setelahnya ngeluh sana sini. Ini jadi panjang aja Wien komennya. Soalnya suka gemes sendiri.

    Liked by 1 person

    1. Oh jgn sedih dulu kakaaak…. biar udah punya anak 3 klo semua gendernya sama (all boys or all girls), blm dianggap ‘sudah lengkap’, LOL. Namun begitulah kehidupan di dunia yg fana ini, ya. Manusia berencana, namun Tuhan juga yg menentukan. Orang lain tinggal komentar, LOL.

      Like

      1. Hahaha bener banget! Keluarga lengkap itu 1 bapak, 1 ibu, 1 anak laki-laki, 1 anak perempuan. Pretlah dengan asumsi begituan, siapa si yang bikin? Sebel loh aku dengarnya hahaha. Hidup kita terlalu keren untuk dicemburui pihak lain sampai dikomentarin terus ya hahaha.

        Liked by 1 person

    2. Hihi engga apa mba, aku malah senang kalau ada yang ikutan gemes juga. Nah benar, tuntutan sosial dan ajang kebanggaan itu sepertinya benar-benar mendarah daging banget di masyarakat kita, dan ketika kita mau “breaking the rules” disitulah kita dianggap pembangkang hahaha. Aku sering ngocehin teman-temanku kalau mereka tuntut anak-anaknya supaya bisa juara kelar, at least TOP 3 dengan alasan “kamu tidak boleh kalah dengan si A atau si B”. Memangnya anak itu piala yang digilir di rumah? Untuk apa anak dituntut sedemikian rupa jika memang itu bukan sesuatu yang dia inginkan, bukan sesuatu yang dia suka. Aku pribadi lebih suka anakku (nanti) punya moral sebagai manusia jujur dan memiliki kehidupan sosial yang baik daripada menjadi pintar tetapi congkak dan manja. Kebanyakan orang disini hanya menyukai hasil bukan prosesnya, dan hasil itu dipuja-puja setengah mati sampai dibanding-bandingkan.

      Like

  2. Setuju bumil 😙😙 Semua itu pilihan masing2 dan harus siap juga sama konsekuensinya.. Kalopun memutuskan nggak mau punya anak, ya orang lain ga perlu yg jd ribet sendiri ya.. untungnya di Jerman lebih banyak orang yang menghargai pilihan hidup masing2.

    Like

    1. Berbahagialah kamu yang stay di Jerman Tha hahaha.. Kebanyakan orang-orang disini engga mau ambil konsekuensi dari setiap perbuatan yang mereka lakukan. Semoga kita dan anak-anak kita tidak seperti itu ya Tha. Sehat-sehat ya kamu sampai persalinan nanti :*

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s