Puppy Love

Ceritanya saya lagi puyeng banget dengan kerjaan kantor, lagi tunggu konfirmasi juga dari cabang-cabang, jadi saya chat dengan salah satu teman dekat, eh ternyata dia juga lagi sama puyengnya kayak saya. Padahal hari ini hari Jumat, supposed to be a good day to begin the weekend yah, tapi malah puyeng seperti ini. Akhirnya saya dan teman mulai membahas hal-hal yang lucu supaya otak kami bisa relax, salah satunya tentang “cinta monyet”.

Saya mulai merasa getaran-getaran (asekkk) “cinta monyet” atau “puppy love” ini waktu duduk di bangku SMP kelas 1. Saya – yang tomboy dan mempunyai banyak teman laki-laki saat itu – sama sekali bukan tipe perempuan yang pusing dengan kehadiran murid ganteng di sekolah seperti teman sepantaran lainnya, sampai saya bertemu dengan seorang murid laki-laki yang sangat menarik perhatian saya, sebut saja namanya W.

Meskipun W bisa bermain basket, menjadi anggota inti OSIS, ranking 3 besar di kelas dan suka tersenyum, tapi W bukan pemain basket andalan sekolah, bukan juga ketua OSIS, bukan murid paling ganteng, dan bukan murid paling pintar juga (jaman saya masih SMP-SMA, pemain basket dan ketua OSIS sering diidolakan oleh murid perempuan). Pokoknya W ini dianggap biasa oleh orang lain tapi tidak biasa oleh saya karena W ini suka menolong dan tidak pemarah, tidak seperti murid laki-laki lain yang emosinya labil dan cuek bebek. Satu lagi, W ini punya postur tubuh cukup tinggi saat itu. Entah kenapa saya ini demen lihat orang berpostur tinggi haha. Saya tidak berani menyapa W sama sekali waktu jaman SMP dulu, “mati kutu” pokoknya padahal saya sering bertemu dia di koridor sekolah, rapat OSIS, atau di gereja meskipun kami tidak pernah satu kelas.

Waktu duduk di kelas 2 SMP, saya akhirnya ikut pusing mikirin kado Valentine untuk W ini seperti murid perempuan lainnya. Akhirnya saya membeli cokelat ukuran besar yang dibungkus kertas kado dan koran, dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam, dan minta tolong teman memberikannya ke W. W sudah diminta oleh teman saya untuk membuka barang tersebut di rumah tetapi dia malah membukanya saat piket kelas setelah disuruh oleh teman-temannya yang lain. Saya merasa malu seketika ketika teman-teman sekelas W mulai ledekin saya dengan W, dan saya jadi tidak enak hati dengan W.

Setelah kejadian itu, saya memberanikan diri untuk minta maaf kepada W tapi saya takut berbicara dengan dia di sekolah, takut diledekin lagi. Khawatir sudah membuat W malu di sekolah, saya akhirnya memberanikan diri untuk menelepon ke rumahnya. Saya ingat badan saya yang “panas dingin” ketika berusaha berbicara dengan W di telepon, sebuah hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Setelah kejadian tersebut, saya tetap tidak berani menyapa W di sekolah atau di gereja tetapi kami berdua tetap diledek oleh teman-teman seangkatan sampai akhirnya saya berpacaran dengan salah satu teman W.

Hal absurd lainnya yang pernah saya lakukan adalah mencopot pas foto W dari denah kelasnya haha. Ceritanya setiap kelas di SMP wajib membuat denah kelas yang akan digunakan oleh guru untuk memanggil nama kami. Saya tidak memiliki satu pun foto W untuk disimpan (yang pasti bukan untuk dipelet haha) seperti yang dilakukan murid perempuan lainnya, jadi saya “berinisiatif” mengambil pas fotonya dari denah kelasnya secara diam-diam.

Saya ingat kalau saya sempat sedih tidak satu SMA dengan W, bahkan tidak satu kampus juga meskipun sama-sama studi di Jakarta. Entah bagaimana ceritanya, saya dan W akhirnya bertemu kembali sewaktu kuliah tahun ketiga, dan kami menjalin pertemanan yang baik sampai sekarang. Saya pernah mampir ke apartemennya beberapa kali dan W juga datang ke misa pernikahan saya tahun lalu. Kadangkala teman-teman masih suka ledekin kami, tapi kami berdua tahu jika itu hanya cerita lama, sebuah cerita jaman SMP yang mungkin akan dikenang sampai kami tua nanti. 

Bagaimana dengan kamu? Punya kenangan “cinta monyet” macam ini? Happy weekend!

Featured image : via

Rgds,

WS 😉

Advertisements

12 comments

    • Iya dulu takut banget ngomong sama W hahaha, jauh lebih takut daripada ketemu guru killer. Pas telepon dia bilang engga apa-apa dan bilang thanks buat cokelatnya haha

      Like

  1. LOL pernah banget lah… bahkan pas TK aku pernah naksir temen sekelasku, pake drama segala karena ada cewek lain yang lebih cantik yang naksir dia juga. Hahaha! Pas SD juga pernah cinta monyet sama temen gereja (yang ternyata satu sekolah) sampe aku SMP. Udah gitu naksir temen gereja yang adalah temen sejak kecil. Duh pokoknya selama aku kecil dulu, cuma aku yang naksir, gak ditaksir balik xD

    Like

  2. Wahhh banyak kalau aku Wien, haha.. Kalau ketemu sama orangnya yang pernah aku tembak, sampe sekarang pun masih suka mesem2, lebih ke tengsin sih hahaha Cuma yah, pastinya habis itu ngakak berdua..

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s