Tentang Teman

Sebenarnya saya bingung mau mulai pembahasan ini dari mana. Sebenarnya juga masih banyak bahasan lain yang nyangkut di otak tapi entah kenapa niat saya untuk bahas soal ini lebih besar.

Ceritanya saya ini tipikal orang yang percaya kalau jodoh itu salah satu hal nyata dalam hidup, baik itu soal keluarga, pasangan (hidup), pendidikan, karir, lingkungan sosial, dan sebagainya. Tapi bukan berarti kita tidak berusaha semampu yang bisa kita lakukan, kan katanya usaha kita akan dilihat oleh Tuhan 🙂 Meneruskan kalimat tersebut, jadinya saya ini percaya kalau pertemuan saya dengan orang-orang memang sudah diatur seperti itu dari sananya, dan pasti memiliki sebuah tujuan – entah untuk hal baik ataupun buruk.

Saya bertemu dengan cukup banyak orang waktu jaman kuliah dulu yang pada akhirnya saya sebut sebagai “teman baik”. Waktu saya dulu banyak dihabiskan dengan mereka, kasarnya dari bangun tidur sampai tidur lagi ya bakalan dengan mereka terus. Saat itu saya menganggap pertemuan dengan mereka akan berlangsung lama sampai kami lulus kuliah, mengejar studi atau karir selanjutnya, atau sampai kami berkeluarga nanti.

Pada awalnya, anggapan saya tidak 100% benar namun tidak 100% salah. Saya masih berteman baik dengan beberapa orang untuk waktu lama meskipun jumlahnya mulai berkurang daripada sebelumnya, tetapi lama kelamaan hubungan tersebut mulai “tinggal cerita”. 

Saya sampai memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang “teman baik” itu ketika tanda-tanda “tinggal cerita” mulai muncul. Contoh tanda-tandanya adalah saya tidak diundang ke pesta pernikahan atau tidak diajak untuk berlibur bersama mereka di pulau. Bukannya saya baper seperti kata anak-anak gaul jaman sekarang, tapi saya hanya merasa itu sangat aneh karena semuanya muncul di foto – yang diupload ke media sosial – kecuali saya. Saya sampai bertanya-tanya pada diri saya sendiri, semacam refleksi diri. Apa saya ada salah dengan mereka? Apa saya dijauhkan oleh mereka? Apa ini dan apa itu.

Ketika saya bertanya, saya mendapatkan jawaban yang tidak disangka-sangka. Ceritanya mereka menyalahkan saya karena beberapa hal, mulai dari saya yang lebih dulu menyelesaikan studi, saya yang lanjut studi tanpa mereka, saya tidak berkarir di jalur yang sama dengan mereka, dan saya yang mulai mempunyai kehidupan sendiri. Saya terus terang bingung dengan alasan terakhir jadi saya memaksa untuk mendapatkan penjabaran lebih rinci. Makna “kehidupan sendiri” mengarah ke hubungan baru saya dengan orang-orang yang tidak mereka kenali, yang menurut mereka mostly bukan WNI keturunan Chinese seperti saya.

Saya ingat jika saya menanggapi hal tersebut dengan senyum sambil mengatakan bahwa memang benar saya mempunyai kehidupan sendiri, bahkan sebelum saya mengenal mereka. Memang benar saya menyelesaikan studi saya lebih cepat karena saya tidak suka membuang waktu. Memang benar saya melanjutkan studi dan berkarir di jalur yang berbeda dengan mereka, lantas kenapa? Tapi satu hal yang pasti, saya berusaha menjalani kehidupan yang membawa damai sejahtera dan membuat saya bahagia, bukan kehidupan dengan otak picik seperti yang mereka jalani.

Entah bagaimana cerita kehidupan mereka saat ini, saya tidak ada niat mencari tahu dan tidak mau tahu juga, hanya saja saya teringat hal ini setelah tidak sengaja menonton video kami dulu di hard disk eksternal. Saya memang tidak menghapus foto dan video kami dulu karena bagaimanapun juga mereka semua tetap memiliki andil membentuk saya yang sekarang.

As time goes by, I have learned to speak up. People may not like to hear what comes out of my mouth but I consider myself a fair person. I always try to treat people with respect but if I don’t get the same treatment in return, please don’t expect me to be nicer again. It took time but I feel better about it each year, I do. In my opinion, there is a big difference between being nice and being taken advantage of. I do believe that life is way too short to be surrounded by people that make your life miserable and unhappy, those who like to grow the small-minded inside their head. Hardly accept it at first but – I know – they are good reminders of how you don’t want to be, of how I don’t want to be, but that is all.

Mending seduh teh hangat mumpung cuaca lagi sejuk-sejuknya 😀

 

Rgds,

Ws 😉

Featured Image : via

Advertisements

32 Comments

  1. Bener wien, aku sekarang pilih2 teman banget, buat apa punya temen yang berbeda ini itu, nanti bikin capek hati… biar kata orang katanya harus punya banyak temen yang beda2 (karakter) biar variatif… nggak lah. Temen itu buat kita berbagi suka/duka, kalau masih mengeluarkan usaha buat menjembatani perbedaan itu aku malas.

    Soal temen baik, aku barusan “kehilangan” teman baik, kehilangannya karena aku sendiri yang berbuat, soalnya biarpun dulu kita sehidup semati lah ceritanya, sejak dia pindah ke LN tiga tahun lalu, yang diomongin cuman kehidupannya dia sendiri, sementara aku merasa kurang diperhatikan (dia nggak pernah tanya2 apa kabarku atau gimana hidupku sampai saat ini), jadinya aku bilang ke dia, keknya kita ga usah temenan aja kalau gitu gimana? Aku butuh temen yang interaktif juga, kalau semua2 tentang dia ya ngapain….

    I may be harsh.. tapi begitulah saya.

    Like

    1. Iya makin kesini makin banyak yang engga tahu diri, kasarnya yah. Kemarin temanku baru WA dia baru habis baca buku yang intinya how to stop spending time you don’t have doing things you don’t want to do with people you don’t like. Nah itu dia, aku juga bisa harsh seperti itu tapi menurutku lebih baik seperti itu daripada dipendam terus menerus.

      Like

  2. Wien, kadang aku suka sedih denger cerita kalo ada pertemanan yang tiba-tiba putus, karena sejak dulu aku selalu lebih mementingkan pertemanan daripada hubungan percintaan, bahkan aku lebih dekat sama sahabat daripada sama keluarga, karena menurutku sahabat adalah keluarga yang bisa kita pilih.

    Sedih memang kalo kehilangan teman, apalagi kalau tahu alasannya, dan sepertinya alasan mereka di post kamu ini cukup egois ya… kamunya jadi nggak bisa menjelaskan menurut POV kamu. Tahun ini aku kehilangan teman dan kemarin aku coba iseng2 nanya ke teman lain, kabar si teman ini gmana, si teman lain bilang dia sekarang agak menjauh dari orang2 yang dulu pernah dekat sama dia. Jelas aku sedih banget, aplaagi untuk orang merantau, punya teman tuh susah banget.

    Sekarang aku punya mantra sendiri kalau sedih merasa kehilangan teman. Kalau mereka tiba-tiba nggak ngerti jalan pikiran dan jalan hidup yang kita ambil, tandanya dia bukan teman yang baik. Kalau aku lama2 pikir gitu biasanya aku ngerasa lebih enak. Semoga kamu ngerasa enakan juga ya Wien.

    Like

    1. Thanks for sharing Crystal, highly appreciated. Setelah kejadian ini pun aku jadi kurang lebih sama seperti kamu, dan aku berterimakasih karena bisa mengalami hal-hal semacam ini.

      Like

  3. Ikut sedih. Ya kalau samaan melulu namanya produk keluar dari satu pabrik dong hehe. Tapi itu biasa terjadi, sih. Waktu ngalamin memang rasanya nggak masuk akal. Cuma setelah dipikir-pikir…yang penting kita tidak melakukan hal yang salah. Ya udah. Maafin aja. Biasanya setelah berpikir begitu langsung ketemu teman-teman pengganti-pengganti yang lebih baik.

    Like

  4. Aha. Memang ini mungkin kedengarannya sok bijak. Tapi kalau kata saya, hal-hal inilah yang membuat kita jadi makin dewasa, betul nggak sih, hehe. Yah, soal teman ya. People come and go, kalau kata orang. Nggak ada yang abadi. Saya percaya itu. Semua orang yang ada dalam kehidupan saya akan punya waktunya. Ada saat mereka datang. Tapi ketika mereka datang, saya sudah tanda tangan kontrak bahwa suatu hari nanti, entah kapan, mereka pasti akan pergi. Cepat atau lambat. Dengan pemahaman begitu, sekarang-sekarang ini saya belajar untuk menghargai waktu saya semaksimal mungkin ketika saya bersama seseorang. Entah itu teman atau keluarga. Soalnya nggak ada yang tahu kapan dan bagaimana kebersamaan kita habis. Jika kebersamaan itu langgeng, saya bersyukur. Jika sebentar, mungkin takdirnya begitu.
    Tapi mau bagaimanapun, saya belajar bahwa saya harus siap ketika pada akhirnya saya harus sendiri. Hehe.

    Liked by 1 person

  5. Aku barusan putus pertemanan.. Rame2 pula Ci haha. Jadi di instagram, aku ada posting sesuatu yang “ibu2” banget, tentang parenting gitu. Awalnya bloggers yg temenan di IG ini komen, trus kita komennya adem-ayem, sampe muncullah bloggers lain (another circle). Nah si blogger-lain-circle ini, memang kalo di circle-nya dianggap wise gitu. Sejak dia speak-up di IG-ku jadi panaslah komen-komen selanjutnya, dan menurutku karena ada komen yang gaenak ya kuhapus aja. Wajar donk? Daripada bikin IG-ku ‘kotor,’ kepikiran pula dan bikin hati gak tenang, ya gak? Eh aku malah dikata2in playing victim, sok mau benar sendiri, gak pantes ngomong tentang parenting karena belum punya anak, dsb. Tadinya aku mau bales cuma ya buat apa.. Capek hati capek fisik buang2 waktu. So instead of bashing them back with words I just blocked them on IG. The blogger-from-another-circle and her ganks. Lumayan tenang sih sekarang, tinggal nyari waktu kapan to unfriend / lock them from facebook 😆

    Like

    1. Lama lama bisa jadi muncul pepatah baru ya, media sosial lebih kejam daripada Jakarta apalagi ibu tiri =))
      Iya Ge buat apa juga dibalas, yang ada semuanya makin panas nantinya hehe

      Like

  6. Duh Wien, sedih bacanya. Kenapa ya harus gitu? Gue kepikiran juga masih, ttg bbrp pertemanan putus krn alasan gak jelas pdhl udh lama, beberapa krn masalah adu domba (ga jelas jg krn gak ada yg mau cerita! pas ditanya).
    Ya udah lah relakan, buat apa juga keep orang yang nggak put the same effort in our life 🙂

    Like

    1. Duh mama Loki jangan ikutan sedih hehe. Yah, that’s life Mar, bagaimanapun sudah terjadi dan harus dihadapi. Udah tak relakan juga karena jalannya memang harus seperti itu, daripada dipikirkan tapi wa malah sakit hati sendiri buat apa juga kan.

      Like

  7. Pertemanan itu akan terseleksi oleh hukum alam. Jarak dan waktu biasanya alat seleksinya. Yg tidak cocok ya akan menjauh dengan sendirinya. Semakin bertambah umur, yg namanya teman semakin berkurang. Kuantitas lebih utama daripada kualitas. Teman akan datang dan pergi. Hubungan persahabatan atau pertemanan yang dipaksakan, yang datangnya tidak lagi dari hati, lebih baik direlakan untuk pergi. Semoga yang benar2 baik dan sehati yang tetap bersamamu Wien. Semangat!

    Liked by 1 person

  8. Aku ngerti deh Wien kamu perasaannya bagaimana. Beberapa orang atau teman memang bagian dari sejumlah periode di hidup kita ya. Semoga ketemu teman dalam arti sebenernya yang cocok di fase hidup kamu yang sekarang.

    Like

  9. diumur segini emang temen tuh jadi terseleksi banget Wien. Aku pun keadaannya sama. Ada yang tetep baik hingga hari ini dan ada yang ga ada kabar apa-apa dan dijauhi dari circle karena “beda jalur”. But people come and people go, ada yang pergi juga ada yang datang. Aku kepikirannya jadi memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sama temen-temenku sekarang, tetep silaturahim sama temen-temen lama yang sampai sekarang maish kontakan, plus ikut berbagai kegiatan buat kenalan sama orang. Soalnya kita ga pernah tahu bakal dapet temen baik dari bagian sebelah mana

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s