Semarang Sekejap Mata

Perjalanan ke kota Semarang merupakan perjalanan tertunda sejak jaman kuliah S1 dulu sebab selalu ada halangan yang terjadi setiap kali saya mau kesana. Hati senang bukan kepalang ketika kesempatan ke Kota Lumpia itu datang karena saya memenangkan giveaway dari komunitas IDC lewat post ini. Terima kasih kak Nik yang sudah bawelin saya untuk ikut giveaway itu. Kak Adel juga deh 😀

DSC_0907
Sekali-kali wefie dengan wajah kurang tidur

Tidak bisa cuti lama-lama, saya dan S memilih tanggal 11 Desember 2016 jam 07.00 pagi dari Stasiun Gambir ke Stasiun Tawang menggunakan KA Argo Muria dengan harga 562.500 rupiah untuk 2 orang, dan tanggal 13 Desember 2016 jam 11.30 siang dari Stasiun Tawang ke Stasiun Gambir menggunakan KA Argo Anggrek Pagi dengan harga 672.500 rupiah untuk 2 orang juga. Kami berdua sengaja memilih kereta api daripada pesawat karena belum pernah naik kereta api dengan jarak sejauh Jakarta ke Semarang, dan sengaja memilih kelas eksekutif supaya bisa istirahat lebih nyaman selama 6 jam perjalanan.

This slideshow requires JavaScript.

Oleh karena keterbatasan waktu dan hujan deras yang turun terus-menerus, saya dan S hanya muterin beberapa titik di kota Semarang. Yah, anggap sebagai short escape saja. Saya seharusnya bertemu dengan 2 orang teman disana tetapi 1 orang batal karena aktivitasnya padat sekali. Jadi saya hanya bertemu dengan 1 orang teman yang saya kenal dari dunia blogging juga yakni mba Indah. Senang rasanya bisa bertemu mba Indah kembali, kali ini lengkap dengan pasukan kecilnya yakni suami dan anaknya. Terima kasih ya mba sudah menemani saya dan S makan es conglik di Pasar Semawis, makan ayam goreng lengkap dengan sop buntut dan petai di Taman KB, main sepeda lampu di Simpang Lima, dan menyarankan saya dan S untuk makan di restoran Gama.

This slideshow requires JavaScript.

Sesuai dengan hadiah giveawaynya, saya dan S menginap di Star Hotel Semarang tetapi kami extend semalam disana. Bermodalkan jalan kaki dan Google maps, saya dan S sempat mengunjungi beberapa tempat, misalnya Sam Poo Kong, Lawang Sewu, Toko Oen, restoran Gama, Toko Moaci, dan Lumpia Gang Lombok. Kami sempat ke Java Mall untuk makan karena dekat sekali dengan hotel, Paragon Mall untuk numpang pipis tapi berlanjut dengan S yang beli topi PRL dan saya yang beli pelembab wajah karena sedang diskon besar-besaran, dan DP Mall untuk numpang pipis juga haha. Sisanya dihabiskan dengan jalan kaki menikmati suasana kota Semarang kalau tidak hujan dan lari terbirit-birit untuk berteduh jika hujan.

This slideshow requires JavaScript.

Ada dua kejadian yang akan selalu kami ingat jika menyebut kata “Semarang”. Pertama itu soal saya jatuh. Iya, saya jatuh ke dalam lubang saluran air di tepi jalan raya menuju ke restoran Gama. Ceritanya saya dan S sedang jalan kaki dari arah Simpang Lima ke restoran tersebut sekitar pukul 18.30 sore. Cahaya lampu jalan tertutupi lebatnya daun pohon yang menjulang tinggi sehingga trotoar tampak gelap saat itu. Entahlah hal apa yang kami bicarakan, yang jelas saya tiba-tiba merasakan kaki kiri saya masuk ke dalam lubang kering dan kedua telapak tangan sudah menyentuh jalan. Saya kaget tapi langsung tertawa, S kaget tapi selamatin kantongnya dulu baru bantu saya naik. Saat itu mukanya agak khawatir takut saya ada luka memar tapi dia ikutan tertawa juga. Saya mengenakan celana jeans celana panjang sehingga hanya ada ‘biru’ kecil di bawah lutut. Bersyukurnya lubang saluran air dalam kondisi kering jadi kaki saya tidak kotor.

This slideshow requires JavaScript.

Kejadian kedua itu soal becak. Ceritanya saya dan S makan sampai puas dan kenyang sekali di restoran Gama dan kami jadi malas jalan kaki ke hotel padahal jaraknya hanya sekitar 2 kilometer. Iseng lihat becak di depan restoran, S mengusulkan naik becak saja. Saya setuju kalau harganya masuk akal. Awalnya kami diberikan harga Rp 25.000,- yang berakhir dengan harga Rp 12.000,-. Saya dan S menahan tawa sepanjang perjalanan ke hotel karena kasihan dengan abang becaknya yang sudah cukup tua tapi harus berjuang engkol becaknya – yang dinaiki dua orang manusia berat habis makan – di jalanan menanjak. Engga tega saya melihatnya jadi saya kasih Rp 15.000,- ketika sampai di hotel.

Kalau ditanya masih mau balik ke Semarang atau tidak, jawabannya mau, mau sekali malah. Setiap kali berada di luar kota Jakarta, saya dan S selalu berusaha untuk jalan kaki dan Semarang merupakan salah satu kota yang nyaman sekali untuk aktivitas tersebut.  Left our hearts in Semarang lah pokoknya 🙂

 

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

10 Comments

  1. Aku suka banget Wien ke Semarang. Pasti mampir makan di Bandeng Juwana karena makanannya enak2 di restauran mereka di lantai 2. Trus makan bakmi jowo juga. Es krim Toko Oen enak juga. Makanan Semarang enak-enak menurutku. Cuma sampai saat ini yang aku belum berani (padahal sering banget ke Semarang) itu masuk ke Lawang Sewu hahaha. Ciut nyali aku.
    Lihat foto2 makananmu jadi ngiler Wien

    Like

    1. Ah iya Bandeng Juwana juga enak tapi kita memang ga berencana kesana tempo hari. Oalah haha. Lawang Sewunya kalau dikunjungi sebelum malam engga menakutkan kog mba hihi, sayangnya kami ga bisa ke bawah tanahnya itu tempo hari padahal kami sudah penasaran haha.

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s