Pulpite et Urticaire

Darah, jarum, dokter gigi. 3 hal itu merupakan hal yang saya jauhi sejak kecil, dan saya tidak tahu apa alasan khusus dari semua ketakutan itu, pokoknya takut level tinggi. Even so, saya tetap berusaha menghadapi ketiganya jika sudah amat-sangat-benar-benar-dibutuhkan, misalnya ketika saya harus membersihkan darah luka, harus disuntik ketika sakit (ini yang paling saya hindari haha), atau harus cek gigi.

Tentunya bukan hal mudah untuk menghadapi ketiga hal itu, setidaknya saya pasti merasa cemas banget, badan panas dingin, atau menangis. Dulu saya selalu menangis di depan ruang praktek dokter gigi padahal dokternya itu tantenya si mama 😀 Sok-sokan pakai judul post dalam bahasa Perancis soalnya terlihat keren haha padahal artinya itu pulpitis dan urticaria, dan keduanya berhubungan dengan dokter gigi.

Bisa dibilang dokter gigi merupakan profesi cukup menjanjikan di tanah Kalimantan. Maklum, kandungan air disana tidak sebersih kandungan air di pulau Jawa karena katanya mengandung timah jadi berpotensi merusak gigi. Pendidikan soal merawat gigi juga belum menjadi salah satu fokus utama sehingga sering muncul opini “kalau engga sakit gigi napain ke dokter gigi”. Begitu juga dengan saya yang ke dokter gigi karena isak tangis kesakitan bukan karena harus cek 6 bulan sekali meskipun dokter giginya masih keluarga sendiri. Alhasil cukup banyak gigi saya yang ditambal dan 3 gigi saya sudah dicabut 😀

Saya tidak pernah ke dokter gigi selama 9 tahun lebih berada di Jakarta karena tidak merasa memiliki kewajiban untuk cek gigi tetapi saya selalu menggosok gigi minimal 2 kali sehari sesuai anjuran serta menggunakan mouthwash dan dental floss sesekali. Sampai akhirnya saya harus merasakan sakit di gigi sebelah kiri atas, tepatnya bulan April 2016. Nyerinya sampai ke kepala dan tidak tertahankan, kumur air garam juga tidak membantu. Saya akhirnya memutuskan untuk ke dokter gigi rekomendasi manajer saya saat itu, sebut saja namanya drg. Novi. Saya minta S menemani saya kesana karena saya takut sekali harus masuk ke ruangan dokter gigi lagi.

DSC_6201
Pulpitis

Kesan pertama, dokternya cukup ramah, parasnya cantik, tapi galak dengan asistennya haha. Kesan kedua, saya ketakutan melihat kursi pasien dan dental kit di meja dokter. Rasanya mau pulang saja haha. Bersyukur S menemani saya dan cukup bisa menenangkan saya. So, dokter bilang saya kena pulpitis akut sehingga harus dilakukan root canal treatment dan build-up. Menurut Googleacute pulpitis is an inflammation of the pulp caused by injury to the pulp, usually from dental caries or trauma. The pain is caused by the pressure of fluids building up inside the pulp chamber or root canal.

DSC_6653
Hasil perawatan drg. Novi

Otak saya campur aduk antara takut dan sedih, takut karena harus menjalani perawatan saluran akar dan sedih karena biayanya tidak murah, sedih juga karena harus mengalami sakit seperti ini. Butuh 5-6 kali visit sampai treatment ini selesai dengan total dana hampir 4 juta rupiah seingat saya. Setelah selesai perawatan, saya mulai bertekad untuk cek gigi setiap 6 bulan sekali dengan catatan S harus menemani saya ke dokter gigi haha.. Asli, keder banget sama dokter ini, bunyi bornya itu rasanya sakit di telinga. Saya seharusnya mulai cek gigi lagi di bulan Oktober 2016 tetapi kesibukan mengurus tetek bengek pernikahan membuat saya mendustai rencana itu. Saya pikir awal Januari 2017 saja baru cek kembali, hitung-hitung resolusi tahun baru.

Saya mendustai rencana itu lagi karena mengalami infeksi gigitan serangga di Januari 2017. Infeksi itu berhasil membawa saya berobat malam-malam ke UGD. Tak berhenti sampai disitu, saya juga mengalami urticaria akut di akhir bulan Januari. Bahasa awamnya urticaria itu biduran. Google said that hives also known as urticaria is a kind of skin rash with red, raised, itchy bumps. They may also burn or sting. Often the patches of rash move around. Bisa juga dibaca disini.

Urticaria ini membawa saya ke tiga dokter SPKK di Jakarta, yaitu dr. Maria Dwikarya, dr. Alexander Chandra, dan dr. Dwi Ro Santi. Ketiga dokter itu mengatakan gatalnya saya tidak termasuk jamur karena bukan di lipatan. Diagnosis urticaria datang dari dr. Alex dan dr. Dwi dan saya diberikan salep racikan mereka serta obat minum, sedangkan dr. Maria mengatakan saya hanya alergi kulit biasa jadi saya diberikan bedak kocok racikannya dan obat minum. Saya disarankan oleh dr. Alex dan dr. Dwi untuk melakukan cek gigi untuk perawatan lanjutan.

Akhirnya saya bisa cek gigi lagi. Akhirnya saya merasakan ketakutan itu lagi. S menyarankan saya ke drg. Benny Mihardja karena katanya telaten, tidak segalak drg. Novi, dan lokasinya tidak jauh dari rumah kami. Saya mah nurut-nurut saja selama ditemanin S haha. Singkatnya, pak dokter mengatakan tekstur gigi saya ini masih bagus tetapi memang ada beberapa gigi yang caries di level 2, sekitar 13 gigi. Katanya kalau biduran itu seharusnya di level 5, satu level sebelum abscess dan dua level sebelum tumor. Kebayang gak? Hahaha..

20170303_204713-1
Penjelasan drg. Benny

Kalau saya ngeri-ngeri sedap mendengar penjelasannya, si pak dokter malah bingung kenapa saya divonis biduran akut. Katanya lagi, caries saya ini kemungkinan besar disebabkan oleh struktur gigi dempet dan beberapa tambalan masa kecil yang sudah somplak, jadi saya melakukan proses tambal 2 gigi – yang cariesnya paling besar – di hari pertama itu. Saya disuruh melakukan panoramic roentgen juga baru kembali cek gigi lagi. FYI, 1 kali tambal itu 300 ribu (lebih murah 200rb daripada drg. Novi) dan roentgen itu 215 ribu di Biomedika Puri.

Sebenarnya pak dokter praktek bersama istrinya yang dokter gigi juga tetapi surat ijin praktek sang istri tidak diperpanjang. Beliau katanya sempat bahas soal saya ini dengan istrinya, dan mereka sempat berpikir apa biduran saya ini efek samping dari amalgam yang menjadi bahan tambalan waktu kecil dulu, tetapi seharusnya bukan sebab amalgam saya masih bagus dan kalau memang karena amalgam harusnya sudah kambuh sejak lama. Pak dokter juga punya tambalan amalgam sejak kuliah dan dia fine-fine saja. FYI, biasanya dokter kecantikan akan minta tambalan amalgam dibongkar sebab mengandung bahan merkuri.

20170320_192020
Hasil roentgen

Pak dokter sempat mencurigai gigi saya yang dirawat drg. Novi dulu karena seperti ada bagian yang bocor. Beliau mengatakan hal itu bisa jadi suspect terbesar tapi dia ingin memastikan lewat panoramic roentgen. Ternyata dugaan pak dokter benar, gigi saya itu hanya ditambal setengah bagian dari yang seharusnya oleh drg. Novi. Beliau sempat mengatakan saya pasti bleeding jika gigi “mahal” itu dibongkar karena tambalan tidak rata bisa membuat infeksi. Aduh Tuhan, kenapa cobaan ini terasa begitu berat? Sudah harus memberanikan diri ke dentist, saya harus kembali lihat banyak darah.

Benar saja, saya bleeding parah donk setelah gigi “mahal” itu dibongkar. Kumur 5 kali tetap bleeding. Ditekan pakai kapas juga tetap bleeding. Saya sampai lemas selemas-lemasnya ketika melihat tumpukan kapas berwarna merah segar di samping kursi pasien. Rasanya mau nangis saat itu haha.. Akhirnya pak dokter belum berani melakukan tindakan apapun untuk gigi “mahal” ini karena bleeding tidak berhenti jadi baru sekadar dibongkar saja. Worst case kalau gigi bekas perawatan ini tidak bisa disembuhkan, saya harus rela giginya dicabut 😐

Saat mengetik post ini, gigi “mahal” itu belum mendapatkan tindakan apapun dan biduran saya muncul kembali. Saya benar-benar berharap supaya biduran ini bisa pergi selamanya dari tubuh saya setelah gigi-gigi ini selesai diobati oleh drg. Benny karena saya tidak suka bergantung dengan obat. Semoga gigi ini bisa dirawat tanpa perlu dicabut juga. Nyesek sih dengan dana yang dikeluarkan tetapi saya coba berpikir kalau dana itu memang harus dikeluarkan karena saya tidak cek gigi selama hampir 10 tahun saya kuliah. Nanti saya update lagi untuk hasil lanjutannya. Fingers crossed!

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

23 Comments

  1. Wien, aku baru tau lho kalo sakit gigi bisa ngefek jadi biduran.
    Btw, cuma sekadar share aja nih. Om nya temenku pernah sakit gigi lubang gitu lah. Dibiarin berlarut larut, sampe akhirnya beliau koma. (Ceritanya kurang begitu jelas, tapi temenku bilang ada hubungannya sama gigi lubang yg dibiarin).
    Aku juga sedih kalo sakit gigi. Sedih sakitnya juga sedih bayarnya. Haha. Pas sebelum hamil kmrn, aku sempet perawatan gigi lubang yg kena ke saraf, tapi brenti karena dokterku melahirkan. Dan skrg pas hamil, aku konsul lagi kan, katanya tahan tahan dulu yak buat benerin gigi.
    Asliiiii……ni gigiku kdg sakitnya ciamik. Sampe malem pun kebangun krn sakit. Dan btw, udah dapet bonus gigi patah, meski udah konsumsi kalsium.

    Komenku kepanjangan yak. Hehehe.

    Semoga lekas kelar ya urusan Wien sama pergigian ini 😊

    Like

    1. Amin makasih ya mba. Iya mba karena saraf gigi berhubungan dengan otak dan jantung kita jadi wajar ada efeknya juga. Ada 1 temanku dulu meninggal karena operasi saraf giginya gagal, saat itu giginya sudah abscess parah 😦

      Like

  2. Wien, aku pernah biduran. Rasanya gak enak banget, aku sampe nangis kesakitan karena gatel perih tapi semakin digaruk semakin melebar bidurannya. Terus akhirnya ke dokter dan dikasih obat minum serta bedak dingin. Baru dua hari udah pada hilang! Sampe sekarang agak paranoid kalo gatel yang perih gitu, langsung gak mau garuk

    Like

    1. Tempo hari waktu awal-awal muncul aku juga sampai nangis karena kulitku berasa panas seperti terbakar dan susah tidur saking gatalnya. Sekarang kalau gatalnya sudah tidak tertahankan, aku terpaksa minum obat dokter dan pakai salepnya juga. Syukurlah kamu sembuhnya cepat Tal, semoga tidak kambuh lagi yah.

      Like

    1. Amin makasih Va. Iya tiga hal itu yang benar-benar bikin paranoid tapi lagi belajar buat ngelawan semuanya itu. Kalau mata si biasa ya kecuali diceritain soal operasi gitu baru ngeri hahaha

      Like

  3. Aduhhh, samaa banget, wa sebenarnya paling takut ke dokter gigi, apa daya harus pergi. Huhuhuhu.. ini dah lama banget gak kontrol ke dokter buat bracesnya.. ngeri denger bor nya juga… haduhh… Semoga cepat beres yah Wien, giginya..

    Like

    1. Iya In, rasanya ngilu banget kalau dengar bunyi bornya itu. Apa daya harus beruaha melawan demi si gigi gigi ini huhu.. Amin kamsia ya In. Sono ke dentist lagi sekarang haha

      Like

  4. Dental treatment memang salah satu perawatan yang paling mahal, Wien. Dental insurance aja mahal sekali, dan kamu tetep harus segera follow up untuk gigi kamu itu, karena syaraf gigi itu lari kemana-mana termasuk ke mata, pendengaran, dan otak. Selama ini saya ditangani sama Drg. Edy Susanto di Kelapa Gading. If you would like 2nd opinion untuk kondisi gigi kamu sekarang, mungkin bisa dicoba.

    Like

    1. Iya ci betul sekali, harganya mahal sekali, mana insurance buat gigi disini umumnya berdiri sendiri di luar insurance lainnya jadi berasa makin mahal. Iya ci saraf di gigi memang nyambung kemana-mana makanya aku berusaha memberanikan diri untuk ke dentist meskipun luar biasa takut. Sip deh ci, aku coba kelarin urusan sama dentist yang sekarang dulu karena sudah setengah jalan, semoga bisa segera membaik. Thank you untuk rekomendasi dokternya ya ci.

      Like

  5. Semoga bidurannya cepat sembuh dan tidak berkelanjutan ya wien. Lalu jangan terlalu dipikirkan ‘tabungan’ di dokter giginya, khan demi masa depan yang lebih cerah 😀

    Like

  6. Wien….senasib kita. Aku tahun lalu perawatan saraf dan ga kelar saking lelahnya denger suara bor…hiks. cuma 4x aja aku dah nyerah. Saraf giginya dah mati….nah minggu lalu geraham atas patah stengah …huhu

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s