Minta Oleh-Oleh Donk

Siapa yang senang dapat oleh-oleh? Atau mungkin ada yang tidak senang?
Sepertinya semua orang akan senang ya dapat oleh-oleh dari pihak yang baru pulang dari perjalanan dinas atau pribadi apalagi kalau yang kasih itu si gebetan haha. Saya pribadi senang kog dikasih oleh-oleh tetapi saya tidak suka jika dipaksa membeli oleh-oleh 😀

Bahasa Indonesia formal untuk oleh-oleh adalah cenderamata. Menurut Wikipedia, cenderamata merupakan sesuatu yang dibawa oleh seorang wisatawan ke rumahnya untuk kenangan yang terkait dengan benda itu. Istilah ini kadang disinonimkan dengan oleh-oleh, suvenir, tanda mata, atau kenang-kenangan. Menurut Google Translate, bahasa Inggrisnya oleh-oleh adalah souvenir.

Menurut Wikipedia lagi, a souvenir is an object a person acquires for the memories the owner associates with it. Ada kalimat lanjutannya lagi, a souvenir can be any object that can be collected or purchased and transported home by the traveler as a memento of a visit. While there is no set minimum or maximum cost that one is requires to adhere to when purchasing a souvenir, etiquette would suggest to keep it within a monetary amount that the receiver would not feel uncomfortable with when presented the souvenir.

meme
via

Saya tidak tahu mengapa penjelasan Wikipedia lebih panjang dan mendetail dalam bahasa Inggris daripada dalam bahasa Indonesia tetapi saya tertarik dengan kata-kata : “etiquette would suggestCMIIW, kata etiket berasal dari bahasa Perancis “etiquette” dan guru saya dulu mengatakan kalau etiket merupakan suatu sikap serupa sopan santun yang mengatur hubungan antarmanusia dalam kehidupan sosialnya. Nah, mengapa saya tertarik dengan kata yang melekat dalam pembahasan suvenir? Sebab saya merasa banyak pihak sudah lupa dengan kata etiket itu.

Terus terang saya ini bukan orang yang suka membawa banyak barang ketika pergi ke atau pulang dari suatu kota. Malas aja gitu nenteng ini dan itu. Saya memilih untuk simple saja selama saya bisa merasa nyaman hehe. Nyaman itu penting ya buat saya karena nyaman akan membuat saya bisa lebih enjoy dengan segala sesuatu yang saya lakukan. Nah, entah hanya saya (dan beberapa teman dekat) yang merasakan hal ini atau tidak tapi rasanya semakin banyak pihak yang sengaja menciptakan rasa tidak nyaman dengan menyebarkan kalimat “jangan lupa oleh-oleh gue yeh” atau “gue nitip ini dan itu donk pas lu kesana“.

Biasanya saya memang ada agenda “mencari sesuatu yang khas” ketika sedang ke kota A atau B. Biasanya pun saya akan beli barang khas itu entah untuk saya sendiri atau orang lain (biasanya teman dekat), tapi saya benaran tidak suka jika orang lain minta dibelikan barang-barang tanpa bertanya dulu sebelumnya apakah mereka boleh titip beli atau tidak. Belajar dari pengalaman, saya juga tidak suka jika nitip beli tanpa nitip uang dulu, kecuali teman dekat yang sudah dekat sekali yahCall me stingy tapi saya lebih memilih begitu daripada hubungan pertemanan rusak hanya karena oleh-oleh.

Dengar kabar saya ke Pontianak, titip beli miniatur Tugu Khatulistiwa atau lempok durian karena katanya enak. Kalau nitip uang mungkin saya mau bantu beli yah tapi saya menolak karena tujuan utama saya pulang kesana adalah kumpul keluarga. Selain itu, harga miniatur dan lempok durian tidak murah, bisa mencapai 150.000 rupiah, plus harus dibungkus dan dibawa dengan baik supaya miniaturnya tidak pecah atau lempoknya tidak benyek

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
via

Mengetik post ini membuat saya ingat dengan cerita salah satu teman dekat saya. Sekitar 3 tahun lalu dia ziarah ke Israel. Ketika membagikan oleh-oleh berupa gantungan kunci, ada anak kantornya yang bilang “kog oleh-oleh cuma gantungan, kan katanya ke Israel“. Teman saya langsung membalas sindiran itu “udah bagus gue masih hidup jadi bisa beli dan kasih gantungan ini buat lu, lu engga tahu apa kalau disana lagi perang“.

Tidak semua teman dekat saya berani bicara seperti itu, ada juga yang sering merasa tidak enak dengan orang lain sehingga mereka sangat peduli dengan pesanan barang-barang titipan. Mending kalau barangnya kecil dan tidak berat yah, kalau barangnya besar dan berat itu kan namanya ngerepotin diri kita sendiri. Belum lagi jika uangnya harus ditalangi saat beli. Belajar dari pengalaman lagi, biasanya barang begituan tidak dibayar oleh si empunya, entah itu karena alasan lupa bawa uang atau alasan lain, dan nantinya teman dekat saya akan bilang “ya sudahlah, anggap saja oleh-oleh buat dia“. 

Sebenarnya perdagangan cenderamata itu menempati peran penting tersendiri dalam industri pariwisata, salah satunya bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat disana. Tidak ada yang salah dengan perdagangan itu, siapa saja boleh membelinya atas dasar tujuan apa saja. Hanya saja saya kurang suka dengan sifat pihak tertentu yang merasa kalau cenderamata itu wajib diberikan ke orang lain ketika seseorang baru pulang dari suatu tempat, seolah-olah sudah tidak ada etiket yang berlaku. Rasanya akan lebih baik mengatakan “have a nice trip” daripada “minta oleh-oleh donk” 🙂

Featured Image : via

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

17 Comments

  1. Mmm.. kalo gua sih ga pernah keberatan dititipin temen, asal kalo mahal duitnya dikasih dulu. Gua sih ngomong terus terang biasanya kalo susah2 gua ga mau beliin. Untungnya temen biasa tau diri sih. Kalo sampe nitip ga pernah yg susah2, ngasih tau belinya dimana, dan bersedia transfer uangnya. Kalo oleh2 biasa gue emang beliin yang std aja coklat. Ga ada yg komplen juga. Iyalaah awas aja kalo kompleen..

    Like

    1. Bersyukurlah masih punya teman yang tahu diri seperti itu ci karena saya sudah menemukan cukup banyak yang engga tahu diri meskipun ngomongnya sudah terus terang hehe.. Minta oleh-oleh cokelat donk ci #habis-itu-dijitak 😀

      Like

  2. Emang, kalau disini pamit mau traveling yang ada “hati hati di Jalan” atau “selamat menikmati liburan”, kalau di Indonesia selalu bilang “oleh2nya dong”.

    Untungnya aku udah ga bertemen sm orang2 yang asal nyablak kaya gitu, juga ga pernah ngoleh2in ding haha, kecuali keluarga sendiri saja, itupun mereka nggak pernah minta, dan kalaupun minta pun selalu barang kecil yang gampang. Itu juga kadang aku tolak klo ga bisa, krn aku juga suka traveling bawa tas minimal aja.

    Like

  3. Oleh oleh nya dung kurasa sudah jadi tradisi dan kebiasaan so mau gimana lagi sudah mendarah 🍖 haha..

    Btw kalua oleh oleh masih harga wajar ngak masalah kok, yaah semampunya kantong kita aja kalau aku mah..

    Like

  4. Oleh-oleh itu tricky yah. Ga dibawain dan kena org baper bisa jadi masalah gede. Dibawain buat yg 1 divisi dan tetangga, eh divisi yang jauh baper. Mungkin mending suka-suka dan sebisa kita aja. Kalo bisa bawa, oke. Kalo ga bisa, mari tutup kuping kalo ada yg gosipin. Hehehe

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s