SunWien – The Invitation(s)

Di post ini saya tulis kalau saya tidak pernah menginginkan pesta mewah meriah, dan hal tersebut diaminkan oleh keluarga saya dan keluarga S, termasuk S sendiri.

Jumlah undangan untuk pemberkatan kami sekitar 60 orang dan jumlah undangan untuk makan meja keluarga sekitar 100 orang. Undangan gereja merupakan gabungan teman kantor dan pihak yang dekat dengan kami selama ini, sedangkan 100 orang adalah keluarga S. Saya hanya mempunyai beberapa anggota keluarga di Jakarta – mayoritas stay di Pontianak – tetapi ada yang sedang dinas di luar kota dan ada yang sedang liburan sehingga tidak bisa hadir di pernikahan kami. Seharusnya nenek (dari mama) saya ikut ke Jakarta tetapi tidak jadi karena beliau takut terbang. Maklum, usianya sudah 80 tahunan.

Perihal undangan, kami tidak bisa memesannya di vendor undangan pernikahan dengan kisaran harga 10.000 – 15.000 per pcs sebab kuotanya tidak mencapai angka 250 pcs seperti pada umumnya. Harga minimal yang diberikan adalah 35.000 per 1 pcs undangan. Kami kog merasa sayang yah jika harus memesan undangan yang nantinya berakhir di tong sampah juga. Akhirnya muncul ide untuk membuat undangan pernikahan sendiri.

Untuk undangan gereja, saya dan S membuatnya dalam bentuk frame foto supaya framenya bisa digunakan kembali nanti, sedangkan undangan makan meja dicetak biasa tanpa frame. Masalah muncul ketika kami berdua bingung siapa yang design undangannya sebab kami berdua kan bukan anak design haha. Teman saya yang di Nottingham sempat menawarkan jasanya kepada kami karena design memang dunianya, tetapi saya tolak karena ybs sedang hamil tua dan butuh banyak istirahat. Pergumulan bertambah ketika kami belum menemukan frame yang cocok dengan hati kami sedangkan waktu cepat berlalu.

Kami sempat berencana bertemu seseorang asal Depok yang katanya menjual banyak frame tetapi tidak jadi sebab ybs tidak jelas kabarnya. Saya sempat menemukan frame di Informa tetapi S kurang suka sebab bagian depannya adalah kaca.

5
Frame Informa

Meskipun berencana dibungkus dengan bubble wrap, S khawatir framenya pecah sebab dia pernah mempunyai pengalaman seperti itu. Sampai akhirnya kami berdua memutuskan untuk refreshing sejenak ke IKEA Alam Sutera. Yes, it is such a medicamentBenaran medicament sebab kami menemukan Tarsta frame yang sesuai dengan keinginan kami, yakni simple, 5R, akrilik, warna putih, harga cukup terjangkau. Rasanya senang sekali 🙂

Persoalan design pun teratasi setelah saya ingat kalau salah seorang teman – yang sudah seperti adik sendiri – memang hobi design. Ybs senang bisa membantu kami tetapi saya dan S jadi tidak enak hati karena teman saya itu tidak mau menerima bayaran sepeser pun, kecuali ditraktir makanan. Ybs juga yang nantinya menjadi groomsman S sebab 1 sahabat S menjadi saksi kami di gereja dan 1 sahabat lainnya di Australia. Btw, ayat yang digunakan diambil dari 1 Tawarikh 17 : 27, yaitu “Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.”

3
Contoh undangan gereja yang sudah dimasukkan ke dalam Tarsta Frame. Foto ini dikirimkan oleh salah seorang sahabat yang sedang studi di UK.

Kami mencetak design yang sudah jadi di Grogol Jaya. S dan teman saya ini cukup sering cetak ini dan itu disana dan memang kualitasnya sudah terjamin bagus. Untuk undangan gereja, kami menggunakan kertas art carton 260 gram dan print indigo. Setelah dicetak, undangan dimasukkan ke dalam frame, frame dibungkus dengan paper doyleys warna putih – lengkap dengan peta lokasi dan aturan gereja, serta diikat dengan tali agel warna cokelat.

1
Frame = IKEA Alam Sutera. Designed by @richardrolando23. Printed in Grogol Jaya. Paper doyleys by @sukasaribakingsupplies. Tali agel cokelat by Gramedia

Undangan makan meja keluarga dicetak menggunakan kertas art carton 310 gram, cetak bolak-balik, laminating doff 2 muka, cutting sesuai kres, dan bagian tengah direel.  Saya dan S hanya mengikat undangan ini dengan pita merah berukuran 1/2 inch. Sebelum dicetak, S mengetik satu per satu nama undangan di draft design yang sudah disediakan sebab dia tidak mau menggunakan Tom & Jerry untuk menempel nama undangan, katanya jelek. Sebagian besar nama undangan diketik menggunakan huruf Mandarin sebab mayoritas undangan sudah berusia di atas 50 tahun jadi sifatnya “harus lebih dihormati”. Bahasa yang digunakan dalam undangan adalah Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Kami tidak menggunakan bahasa Mandarin sebab kurang menguasainya haha..

Ketika menjalankan proses ini, saya dan S baru sadar jika list undangan gereja kurang beberapa orang #tepokjidat. Sayangnya IKEA sudah tidak menjual Tarsta frame karena produksinya dihentikan. Saya bergumam dalam hati, pantas saja harganya agak miring sedikit, ternyata discontinued toh 😐 Mau tidak mau saya dan S mengirimkan file undangan gereja lewat WhatsApp dan email kepada beberapa orang yang terlewat sekaligus minta maaf karena tidak dapat mengirimkan undangan fisiknya. Keterbatasan waktu menjadi hambatan utama, namun kami bersyukur semua pihak dapat memaklumi hal tersebut, bahkan mengatakan bahwa kami tidak perlu repot-repot sebab lebih baik paperless demi menjaga keseimbangan lingkungan. Love y’all!

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

6 Comments

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s