October Mood

Banyak hal yang mau diceritakan di blog supaya ada history yang bisa dibaca lagi nanti, tapi apa daya kalau tangan hanya dua dan 1 hari hanya 24 jam #alibibanget. Kesibukan selama satu bulan lebih ini tidak jauh-jauh dari soal kerjaan kantor dan persiapan nikah. Ketika mau tidur pun saya masih bisa merasakan otak dan mata ini belum mau berhenti bekerja. 

Speaking about the office stuffs, saya sedang in charge di project yang berhubungan dengan pemasukan tambahan sales di semua cabang kantor. Yah, hal yang berujung pada duit itu selalu sensitif, jadi otak dan hati juga ikut sensitif, haha.. Ceritanya dulu itu proses perhitungan ini bersifat 30% sistem dan 70% manual. Entah bagaimana prosesnya berakhir seperti itu, yang jelas saya sudah menjadi PICnya selama lebih dari 6 bulan belakangan ini (menggantikan PIC yang resign).

Pada akhirnya, beberapa pihak mengusulkan agar proses ini difungsikan secara menyeluruh melalui sistem sebab tanggal pernikahan saya sudah semakin dekat. Loh, apa hubungannya? So begini.. Sifat data ini katanya sensitif dan ngejelimet sehingga tidak boleh “dioper” begitu saja ke pihak lain. Kalau saya cuti nikah sampai 10 hari lebih, siapa yang mengerjakan datanya? Jadi pembuatan sistem dianggap sebagai jalan keluar dari masalah ini, dan kalimat “gara-gara lu mau nikah si” menjadi kalimat yang sering diucapkan ke saya sekarang.

Namanya bikin sistem baru yah susah-susah-gampang, setidaknya saya hanya berperan sebagai user yang menjelaskan alur prosesnya bukan sebagai pihak IT yang harus menerjemahkan kebutuhan user ke sistem tersebut. Hanya saja saya ini tidak terbiasa launching sesuatu tanpa lewat proses uji coba, dan hal itulah yang terjadi. Uji coba project ini hanya dilakukan di pihak IT, bukan antara pihak IT dan user, dan beberapa masalah pun timbul ketika launching dilakukan. Jangan ditanya bagaimana pusingnya saya menjalankan proses baru itu di awal bulan, tapi saya bersyukur karena pihak-pihak yang berhubungan bisa tetap “berotak dingin” jika menemukan kesalahan di sistem. Namanya kerja pasti ada clash, tinggal bagaimana cara kita menghadapinya #sokbijak 😛

Kalau soal nikah di postingan terpisah kali yah haha.. Kalau ditanya orang-orang apa proses persiapannya sulit, jawabannya saya tidak sulit tapi tidak berarti mudah juga. Saya selalu berpandangan kalau persiapan pernikahan itu bukan hal yang rumit (saya pernah bahas disini) karena hal yang jauh lebih rumit itu proses setelah pernikahannya. Jadi walaupun merasa lelah, saya masih merasa proses persiapan pernikahan saya so so saja, tidak mudah tapi tidak sulit. Justru menurut saya, orang-orang di sekitar saya (dan S) memiliki andil untuk menyulitkan proses yang seharusnya bisa berjalan dengan simple. Engga bermaksud menuduh siapa-siapa, semua ini hanya hasil dari apa yang kami lihat, kami dengar, dan kami rasa.

Mau cerita apa lagi yah? Oya, saya lagi sebal dengan dua jenis orang. Bukan sebal gimana sih, hanya merasa sedikit risih saja. Jenis pertama itu orang yang add saya lagi padahal saya sudah delete akunnya di Facebook. Saya memang sedang mengadakan aksi delete akun Facebook selama beberapa bulan belakangan ini karena saya kurang suka membaca berita yang kebenarannya belum terbukti atau berita yang sifatnya terlalu subjektif di feeds saya. Kedengarannya sepele tetapi hal seperti itu seperti benalu, dan saya benar-benar tidak suka.

Jenis kedua itu orang yang memiliki sikap bertahan (defensive) terlalu tinggi. Sebut saja A. Ceritanya ada beberapa pihak tertentu yang sedang mengamati kinerja A, dan saya terpaksa menjadi “si penampung cerita” dari pihak-pihak tersebut. Intinya kinerja A dianggap tidak mumpuni, tidak menjalankan jobdesc sebagaimana mestinya, dan suka sholat lama-lama. Poin terakhir tidak bersifat SARA, poin itu muncul sebagai hasil komparasi antara durasi sholat A dengan durasi sholat kaum Muslim lainnya. Sebagai contoh, durasi sholat ashar A bisa melebihi 30 menit, sedangkan kaum Muslim lain biasanya hanya 15-20 menit, dan itu menjadi bahan penilaian pihak tertentu.

Awalnya saya sengaja memberitahukan informasi ini kepada teman dekat A karena saya tahu teman dekatnya pasti “bocor”. Tujuannya supaya teman dekat A bisa menasehati A karena A biasanya manut sama teman dekatnya itu. Tebakan saya benar, A langsung chat saya setelah diinfokan teman dekatnya. A tidak terima kalau dianggap kinerjanya menurun, dan lebih tidak terima karena durasi sholatnya dipermasalahkan. A beralasan sholatnya lama karena dia antri mukena di mushola. Ketika saya dan teman dekatnya memberikan masukan supaya dia membawa mukena sendiri (karena banyak orang melakukan hal ini juga), A tetap defensive dengan kata “malas” dan “repot”. Lebih jauh ternyata A tidak tahu namanya pernah masuk daftar PHK dan tidak tahu kalau atasannya sudah berusaha mati-matian membela dia di mata BOD supaya dia tidak diPHK waktu itu. Kalau saya apatis, saya tidak mau peduli dengan dia. Sepertinya saya akan benar-benar tidak peduli jika level defensive itu masih tinggi.

Oke, tinggalkan curhat colongan di atas. Oya, tempo hari saya diajak kumpul bersama Inly, Christa, Jenita, dan Dita di Epigastro PIK setelah jam pulang kantor. Sayangnya Dita tidak bisa ikut karena ada rapat mendadak kalau tidak salah ingat, tapi tentunya tidak mengurangi serunya pembicaraan antara saya, Inly, Christa, dan Jenita. Tempatnya bagus, lawan bicara saya asyik, makanannya enak-enak, dan musiknya nyaman sekali. Christa sampai minta contact person penyanyinya. Hayo tebak untuk apa? *peace* Terima kasih banyak untuk waktu kalian tempo hari, terima kasih untuk Jenita yang sudah rekomendasi tempat bagus, dan terima kasih sudah rela menemani saya dijemput oleh si abang Uber jam sebelasan malam 😀

Di bulan ini saya juga harus merelakan kepergian nenek angkat yang meninggal secara mendadak di usia 85 tahun. Beliau sudah seperti nenek kandung saya sendiri jadi saya merasa kehilangan. Saya tidak menyangka jika kepulangan ke kampung halaman waktu itu akan menjadi waktu terakhir saya bertemu beliau (klik disini), padahal beliau ingin bertemu S kembali di tahun depan setelah sah menjadi suami saya karena beliau sudah lama tidak bertemu S. Sedih sekali rasanya but God has been so good to her. Beliau dipanggil kembali melalui jalan yang mudah. I love you amah. We love you. Rest in peace.

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

15 Comments

  1. Turut berdukacita buat amah-nya ya, Ci.. Anyway buat kinerja temen kantornya, lebih baik dikasih tau kalo dia pernah masuk daftar PHK (tp jangan bilang kalo dibelain mati2an sama atasannya). Kalo dia masih tau diri, menurutku ini efektif karena dia pasti mikir ternyata dia salah, harus mau dikasih tau kalo mau bertahan disitu, gitu2. Aplg bawa2 kata ‘malas dan repot.’ Good luck juga buat persiapan nikahnya 🙂

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s