Balada Sang Mantan (2)

Menahan rasa kantuk di hari Rabu sore itu “sesuatu” sekali.. Sambil menunggu data-data dari pihak cabang, saya coba menyelesaikan draft di blog ini satu per satu. Kali ini draft yang ringan-ringan dulu yah.. Masih ingat soal Balada Sang Mantan? Kalau lupa atau belum baca, silahkan klik link ini 🙂

Link tersebut publish hampir 6 bulan yang lalu tepatnya tanggal 28 Februari 2016, dan saya menerima sebuah email di tanggal 8 Maret 2016 subuh dari seseorang – tak lain dan tak bukan – yang menjadi objek di link tersebut. Sampai sekarang saya masih ingat bagaimana respon saya waktu itu setelah membaca email di pagi hari sambil memeriksa notifikasi yang muncul di handphone. Saya mengucek mata beberapa kali dan jari jempol saya sibuk scrolling layarSaya luar biasa kaget dan tidak menyangka sama sekali akan menerima email tersebut.

Sesuai dengan ijin dari si pengirim email, maka saya share beberapa isi emailnya disini.

Japan, March 8, 2016

Hai Wien. Apa kabarnya? Semoga kondisi kamu fine ya.

Don’t be surprise with this email. Cukup saya saja yang surprise bisa bertemu kamu kembali di bandara waktu itu. Sebelumnya saya mau minta maaf karena tidak menyapa dan talking sama kamu. Trust me, I was surprised dan tidak menyangka bisa bertemu kamu lagi. Saya hanya bisa diam 1.000 bahasa karena saya tidak tahu harus berkata apa. I’m so sorry to you.

Saya tahu alamat email kamu dari blog kamu. Saya tahu blog kamu dari instagram kamu. Saya tahu instagram kamu dari Y—-. Saya tidak punya social media stuffs. Saya cari tahu soal kamu lewat akun teman saya. Kamu masih seperti dulu yah, tetap tembem dan enerjik seperti dulu.

Saya ga tahu ini true or not. Saya sudah baca blog kamu and I think kamu harus tahu. In fact, you’re my ghost. Bayangan kamu selalu menghantui saya sejak dulu Wien. Dulu saya sengaja menghilang dari kamu sejak papa dan mama tidak setuju dengan ide saya mau pacaran sama kamu. Saya sengaja pulang ke Medan. I told everyone to keep this secret from you. Saya tidak mau kamu sedih. Saya tidak mau kamu kecewa sama saya meskipun kamu memang kecewa. I’m sorry I didn’t leave you in the better way. It was the best way I can did.

[ Paragraf selanjutnya tidak bisa ditampilkan disini karena sifatnya terlalu personal ]

Saya berusaha keras untuk melupakan kamu Wien. So hard until I didn’t remember about time. Saya putuskan untuk lanjut ke Japan. Memutuskan untuk memulai hidup baru disana. Benar-benar baru. Saya hanya dua kali balik ke Indonesia selama 13 tahun belakangan ini, dan baru balik ke Khuntien* waktu itu untuk melihat papa dan paman yang masih disana. (* = Pontianak)

Saya benar-benar tegarkan hati untuk pulang ke Khuntien. Saya berharap tidak bertemu kamu disana karena saya tidak tahu apapun soal kamu lagi. Saya hanya punya contact Y—- karena dia ternyata temannya teman saya di Japan. Dunia ini begitu kecil ya Wien. I met you again eventually. Tanpa rencana apapun. Shock sekali. I can’t say anything.

I’m sorry saya dingin melihat kamu waktu itu. Saya benar-benar tidak tahu mesti ngapain. Sampai di Japan pun tunangan saya bertanya apa yang terjadi dengan saya karena saya linglung kata dia. Yes Wien. Saya sudah bertunangan. Saya berusaha melupakan kamu. You were my first love and you’ll always be. I have to admit it. Tapi saya menyayangi tunangan saya. Dia tahu soal kamu. I told her once and she said that’s okay. Dia Japanese. Papa dan mama marah besar dengan saya. Tapi saya perjuangin dia karena saya sudah tidak memperjuangkan kamu dulu di mata mereka. Dia sama kayak kamu. Pipi tembem, cerdas dan ramah dengan siapa saja. Kalau kamu ke Japan, saya kenalkan kamu dengan dia ya.

How about you Wien? 13 years bukan waktu yang sebentar tapi ternyata cepat berlalu yah. Saya tahu ada banyak misunderstanding di antara kita berdua. Trust me Wien. Saya selalu berpikir yang baik tentang kamu. Termasuk soal hantu. Akhirnya saya bisa berdamai dengan hantumu itu Wien.

Anyway saya rasa cukup sampai disini dulu. Kalau kamu mau share tentang ini di blog kamu, silahkan dishare. I will read it from now on. The most important question is: Kamu masih mau menganggap aku sebagai teman? 🙂

宜しく

W—-

Saya ingat bagaimana saya tersenyum setelah membaca email tersebut, mungkin sejenis senyuman yang melegakan hati dan otak, dan saya masih tersenyum seperti itu saat ini.

Arigato gozaimashita W—- 🙂

Rgds,
Ws 😉
Advertisements

44 Comments

  1. Wien, aku kok terharu banget ya baca ini terutama bagian dia memperjuangkan seseorang. Hal baiknya adalah akhirnya dia berani untuk berjuang akan hal yang harus diperjuangkan. Bukan berarti kamu tidak layak diperjuangkan, tetapi mungkin campur tangan waktu pada saat itu belum maksimal. Dan dia sudah mengatakan bahwa kamu adalah bagian terbaik dalam hidupnya.

    Like

    1. Iya mba Den, aku juga terharu dengan kata-kata itu, and I’m really okay with it karena aku percaya segala sesuatu yang terjadi di hidup kita sudah diatur oleh-Nya. Saya malah bersyukur masih dikasih kesempatan untuk mengenal dia secara pribadi.

      Like

  2. Akhirnya keluar juga cerita nya *yay* Masih inget pas (dulu) diceritain emailnya. Ada yang senyum-senyum ga jelas tuch :P. Wah sampe sekarang masih lanjut nich senyum-senyum nya nich. Oh jgn lupa email selanjutnya bolehlah di share juga. Xixixixi

    Like

  3. hikss.. hikss.. langsung pingsan baca email seperti ini. Padahal di comment sebelumnya aku sempat ngata2in wkwkwk.. nga sinkron.

    tapi setidaknya sudah jelas dong yach. baiklah mulai sekarang kita berteman saja kalau begitu.

    Like

  4. haduhh blog entry yg inii dalemm yaa.. bikin baper wien. hahaha.. at least ada kejelasan yaa.. ga kalah nih sama aadc, kejelasannya stelah belasan tahunn.. hehe.. tapi aku yakin kita semua di pertemukan orang untuk maksud dan tujuan tertentu.. suksess untuk percintaan kamu yah! hehe..

    Like

    1. Hahaha, jangan baper donk Jenn.. Setuju Jen, aku juga percaya kita semua dipertemukan untuk tujuan tertentu. Ah, terima kasih banyaaak, same wishes to you too Jen!

      Like

  5. Malah kukirain dr bbrp postingan Cici yg ttg romantisme itu, Cici udah punya pasangan.. Ternyata belum ya? *sungkem*
    Anyway aku pernah di posisi spt itu, sama si Uda itu tuh. Entah apakah aku akan dikasih kesempatan utk menjelaskan semuanya padanya atau dibiarkan menjadi misteri begitu saja

    Sedih jg ngetik komen sendiri 😂😭

    Like

    1. Beberapa postingan tentang romantisme itu yang mana Ge? Uda punya Ge, haha 😀
      Biar Tuhan yang kasih jalannya Ge. Setiap hal ada waktunya masing-masing, bukan begitu? 😉

      Like

  6. aku terharu wien bacanya… dengan ketemunya kalian lagi, jadi menjawab pertanyaan2 kamu selama ini ya… semoga kamu jg kyk dia ya udah berdamai dengan masa lalu. Jodoh pasti bertemu wien… 🙂

    Like

  7. Terharu Wien.. Semua indah pada waktunyaaa… apaannn cobaaa?? Tapi at least jelas di both sides. Life move on for everyone.. And gua yakin, gak gampang sih nulis gitu plus boleh dishare pula.. wuihh.. mantap lah si W.. 🙂

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s