Belajar dari Leicester

Cara mengucapkan “Leicester” adalah “Less-Ter” bukan “Le-ces-ter”. Hal ini cukup menggelitik saya meskipun kesannya tidak terlalu penting karena saya cukup sering mendengar pengucapan yang salah untuk salah satu kota di East Midlands ini, termasuk beberapa news anchor di channel TV nasional. Well, saya belum pernah ke kota tua ini tapi saya akan berbagi cerita mengenai team sepakbolanya.

Nama team sepakbola tersebut adalah Leicester City Football Club dan dijuluki “The Foxes”, sebuah team yang sudah berusia lebih dari 125 tahun. Saat ini, pemilik team yang bajunya disponsori oleh Puma ini adalah Vichai Srivaddhanaprabha, salah satu taipan asal Thailand. Mengapa saya ingin membahas soal team ini? Sebab team ini telah membuktikan bahwa tidak ada tujuan yang mustahil selama ada kerja keras di belakangnya.

High praises? Nope.. Team ini merupakan salah satu team di Liga Inggris atau English Premier League (EPL). EPL merupakan salah satu liga bergengsi di kancah sepakbola dunia melebihi Liga Spanyol, Liga Jerman, Liga Italia, Liga Belanda, ataupun Liga Perancis. Nilai hak siar EPL sangat tinggi sehingga tidak mengherankan jika persaingannya sangat ketat.

Terdapat 20 team yang berlaga di EPL setiap tahunnya, tetapi biasanya orang awam hanya memantau team yang masuk jajaran 10 besar, misalnya Manchester United, Manchester City, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea. Leicester City sering dianggap sebelah mata oleh rivalnya, dianggap sebagai sebuah team yang selalu masuk zona degradasi dan tidak bisa dipromosikan untuk masuk ke zona yang lebih tinggi. Mereka adalah “the underdog team”, bukan “the winning team”.

Tetapi Tuhan memang tidak pernah tidur. Leicester City diberikan kesempatan besar untuk masuk ke 3 besar periode 2015-2016. Kesempatan itu berbuah hadiah manis ketika mereka menjadi juara 1 di periode tersebut. Kemenangan ini merupakan kemenangan pertama untuk mereka, dan sepertinya hal tersebut menjadi semangat khusus untuk team ‘papan bawah’ lainnya, that nothing is impossible.

Di awal periode 2015-2016, Leicester City resmi dilatih oleh seorang Claudio Ranieri. Form is temporary but class is permanentRanieri memang sudah berusia lebih dari 60 tahun tetapi beliau memiliki banyak pengalaman melatih team besar dunia. Akan tetapi pengalaman tersebut tidak membuat karirnya selalu mulus, apalagi setelah dia dipecat oleh team sepakbola Yunani karena negara para dewa-dewi tersebut kalah di babak kualifikasi Piala Eropa 2016.

Setelah pemecatan itu, Ranieri dipercaya oleh Vichai untuk menangani Leicester City, sebuah keputusan yang banyak dicibir oleh para pecinta sepakbola. Masa seorang pelatih besar melatih team ecek-ecek yang engga ada prestasi apa-apa?

1
via

Banyak media internasional menyatakan bahwa Ranieri tidak ambil pusing dengan cibiran pihak lain. Perlahan-lahan namun pasti, beliau mampu membuktikan bahwa dia memang pantas untuk Leicester City, bahwa “the underdog team” ini mampu mengalahkan team-team besar lainnya. Pada pertandingan awal di bulan Agustus 2015, Leicester City mengalahkan Sunderland dengan skor 4-2. Pada hari raya Natal 2015, Leicester City sudah menempati posisi pertama di EPL. Sempat turun beberapa posisi, Leicester City kembali menempati posisi pertama EPL di akhir periode 2015-2016, dan sah menjadi juaranya. See? Nothing is impossible, isn’t it?

Hampir setahun lamanya, publik sepakbola dunia sangat dikejutkan dengan hasil yang dicapai oleh Ranieri dan Leicester City. Ranieri dikenal sebagai pribadi yang taat dengan agamanya, dan dia percaya ada waktu untuk setiap hal. “If You can help me, thank you. If I don’t deserve, okay, thank you the same”. Kalimat tersebut pernah diucapkan Ranieri dalam sebuah wawancara.

Ranieri juga dikenal senang traktir teamnya makan pizza dan minum sampanye jika mereka memenangkan sebuah pertandingan penting. Ranieri yang awalnya dicibir berbalik menjadi Ranieri yang dipuji oleh banyak pihak sebab beliau dianggap mampu membangun mental pemenang dalam diri setiap pemain Leicester City. Beliau lebih memilih agar pemain-pemainnya fokus dan fokus, bukan dibebankan dengan kalimat “harus menjadi juara pertama”.

As the conclusion, tidak ada hal yang mustahil untuk dilakukan, dan tidak perlu terlalu ambil pusing dengan kata-kata pihak lain yang sifatnya negatif atau menjatuhkan. Bukankah “anjing menggonggong, kafilah berlalu?” Hehe.. Segala sesuatu yang dialami oleh Leicester City adalah bukti jika dongeng bisa menjadi kenyataan. Saya jadi ingat pesan dari guru rohani dulu : Ora et labora, Deus adest sine mora.

So, Happy Monday! Semoga “Belajar dari Leicester” ini dapat lebih memotivasi saya dan kamu ya 🙂

Featured Image : via

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

7 Comments

  1. selama ini ternyata saya juga salah ucap dan denger orang yang salah ucap juga 😀

    mantaplah… kita lihat apa prestasi di musim berikutnya bertahan atau malah terpuruk?

    Like

    1. Semoga engga salah ucap lagi ya mas, hehe.. Betul, kita lihat apakah mental mereka masih bertahan di musim depan, mengingat musim depan bakal seru dengan kehadiran pelatih-pelatih anyar lainnya.

      Like

  2. Dulu jaman kuliah saya sempat berdebat dengan teman perihal pengucapan Leicester ini. hahaha. Dia ngotot pronounciationnya adalah Leicester. Sementara saya ngotot Less-ter. Lah saya kan diajarin dosen saya yang British.. Jaman dulu belum google sih, jadi gak bisa didengerin lewat google translate.

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s