Tiga Jam Demi Teh

Akhirnya saya bisa blogging lagi setelah disibukkan oleh data-data komisi di kantor selama lebih dari 1 minggu. Kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya di Kantor Pos Besar Jakarta, tetapi bukan untuk hal yang berkaitan dengan Dunia Filateli, melainkan untuk mengambil paket di Badan Karantina Pertanian. Btw, ceritanya cukup panjang 😛

Saya punya teman sesama penggemar teh yang tinggal di Inggris. Bulan lalu teman saya mengatakan kalau dia mau beli teh Twinings untuk persediaan di rumah, dan pas sekali ada promo harga saat itu. FYI, kami berdua lebih suka menyeduh teh di rumah daripada di gerai mal. Lantas dia menanyakan saya mau sekalian beli tehnya juga atau tidak, mengingat banyak varian Twinings disana yang tidak dijual di Indonesia. Selain itu, harga teh Twinings disana jauh lebih murah daripada disini.

Saya langsung tertarik dengan offernya selama tidak gratis, hehe.. Awalnya teman saya tidak mau menerima uang saya, tapi saya tidak mau dapat secara cuma-cuma. Akhirnya kami sepakat kalau pembayarannya 50 : 50 antara harga pembelian teh dan ongkos kirim. Sebenarnya saya masih keberatan dia offer 50 : 50, saya maunya 100% jadi tanggungan saya tapi teman saya tidak mau. Bunch of thanks! Saya diminta untuk memilih tehnya disini. Setelah masuk ke situs tersebut, rasanya saya mau beli semua tehnya 😀

DSC_6455
6 varian Twinings pesanan saya. Dapat bonus 2 varian dari teman saya.

Saya memilih Steamed Green Teas Selection, China Rose, Pure Ceylon, Cherry Bakewell Indulgence Green Tea, Everyday, dan Jacksons of Piccadilly – Faitrade Sencha Green. Maunya si lebih dari itu tapi mikirin ongkos kirimnya juga, hahaha.. Setelah menerima paket dari Twinings, teman saya segera mengirimkan teh saya ke Indonesia melalui Royal Mail. Nantinya paket saya akan diterima oleh Pos Indonesia dengan estimasi 2-3 minggu.

Seminggu setelah tanggal pengiriman, muncul status “arrived in country delivery office” di tracking page Royal Mail. Artinya paket saya sudah sampai di Indonesia donk. Saya juga mengecek status di EMS Pos Indonesia. Sama seperti status Royal Mail, muncul status arrival at inward” di EMS dan sedang airport handling. Saya sudah tidak sabar menerima paket lintas benua itu, haha.. Tiga hari kemudian, status EMS paket saya berubah menjadi “processing document by Customs”. Status tersebut tidak berubah sampai dua hari kemudian. Akhirnya saya memutuskan untuk telepon ke 161.

Pihak 161 mengatakan hal yang sama seperti yang saya baca di status EMS, sedangkan saya mengharapkan mereka dapat memberikan informasi lebih dari itu. Saya diminta untuk menghubungi Kantor Bea dan Cukai Pasar Baru (KBCPB) tapi teleponnya tidak diangkat meskipun saya sudah coba berkali-kali. Setelah tiga hari ‘berjuang’ dengan staff EMS yang terus membacakan status serupa dan terus minta saya menghubungi KBCPB, akhirnya mereka membuatkan laporan khusus untuk pengaduan saya.

DSC_6457
Surat yang diterima tanggal 25 April 2016 sore

Saya menerima sebuah surat di tanggal 25 April sore. Pengirimnya adalah Badan Karantina Pertanian, Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok, Wilayah Kerja Kantor Pos Besar Jakarta. Saya sempat ngucek-ngucek mata. Meskipun nama yang tertera di amplop cokelat kurang 1 huruf “e”, tapi suratnya memang untuk saya. Saya langsung kepikiran soal teh-teh itu.

Benar saja! Surat itu menyatakan paket teh saya ditahan di karantina tumbuhan, dan saya diminta untuk melengkapi dokumen persyaratannya. Paket saya itu akan dimusnahkan jika saya tidak datang dalam waktu 14 hari. Dokumen yang diminta adalah Form Laporan Pemasukan Media Pembawa (SP-1) dan Phytosanitary Certificate (PC) dari negara asal. Saat itu juga, saya langsung merasa pusing dan lemas. Bagaimana mendapatkan PC dari negara asalnya? Ini kan cuma paket teh. Meskipun termasuk tanaman, tapi kan sudah tanaman yang diolah, yang sudah mati dan tidak bisa hidup lagi. Kenapa disini dipersulit padahal di Inggris bisa langsung dikirimkan? Segudang pertanyaan langsung muncul di kepala saya saat itu.

Teman saya juga ikut bingung dengan isi surat itu. Saya sudah pasrah jika paketnya harus dihanguskan, terlebih setelah head saya mengatakan bahwa paket vitamin keluarganya yang dikirim dari Belanda juga tidak bisa keluar dari karantina. Tidak bisa tidur, saya masuk ke Facebook di subuh hari. Saya membaca status Mba Nella sekilas ketika scroll down layar timeline “Dear all yg suka pesan bibit/umbi dari LN harap waspada ya yg biasanya lancar jaya kirim ke Dumai Riau sekarang gak bisa lagi. Paket 1 kg juga ditahan. Yg nahan paket bukan bc melainkan karantina”. Saya langsung berpikir, apa yang Mba Nella alami kog hampir sama seperti yang saya alami, jadi kami comment-commentnan di status itu.

26 April siang, saya berinisiatif menelepon ke salah satu nomor handphone staff karantina yang tertera di dalam surat itu. Ketika mengetahui isi paketnya adalah teh, staff tersebut menanyakan apa teh tersebut sudah siap seduh? Saya jawab iya, tehnya memang sudah siap seduh, bukan berbentuk daun lagi. Seketika itu juga beliau mengatakan saya hanya perlu datang untuk mengisi Form Laporan Pemasukan Media Pembawa (SP-1) tanpa perlu membawa PCnya. Saya juga diminta membawa surat yang dikirimkan beserta fotokopi KTP. PC tidak dibutuhkan karena paket saya termasuk tanaman mati, bukan tanaman hidup. Seketika itu juga saya langsung merasa lega, bersyukur, dan berharap prosesnya akan lancar.

DSC_6414
Form Laporan Pemasukan Media Pembawa (SP-1)

Saya memutuskan ke Kantor Pos Besar di tanggal 27 April pagi jadi saya ijin masuk siang ke head saya. Ketika sampai disana, saya diarahkan oleh satpam untuk ke gedung belakang bagian karantina tumbuhan. Saya sempat salah masuk ruangan ke karantina tumbuhan khusus produk jadi (contohnya susu dan vitamin). Ruangan yang harus saya tuju adalah karantina tumbuhan khusus tanaman. Saya langsung diminta untuk mengisi formulir sedangkan petugasnya langsung membuat Sertifikat Pelepasan Karantina Tumbuhan serta kuitansinya. Yes, ada kuitansi karena saya harus bayar imbalan jasa karantina tumbuhan sebesar 5000 rupiah.

Teringat dengan status Mba Nella, saya bertanya kepada petugasnya mengenai PC. Beliau mengatakan kalau tumbuhan hidup memang susah masuk ke Indonesia dan PC sangat diperlukan sebagai salah satu syarat. Jika si penerima paket sudah memiliki PC tidak berarti si penerima bisa langsung mendapatkan paketnya. Dengan PC tersebut, si penerima paket harus mengurus ijin sipmentan di wilayah Ragunan. Paket baru bisa dikeluarkan jika sudah mendapatkan ijin sipmentan dan datanya sudah diinput di Tanjung Priuk.

Petugasnya sempat memperlihatkan bibit bunga dan sayur dari Amerika Serikat yang disita karena tidak memiliki PC dan ijin sipmentan. Paket-paket itu akan dimusnahkan di awal bulan Mei, katanya. Beliau menyarankan untuk membeli bibit atau tumbuhan hidup lewat komunitas (bukan individual). Hal ini supaya biaya PC dari negara asal dapat ditanggung ramai-ramai sehingga tidak dirasa mahal. Menurut beliau, 1 PC USDA mencapai 25 dollar, dan harga tersebut di luar harga bibit atau tumbuhan hidupnya.

Setelah itu saya diarahkan ke Kantor Bea dan Cukai di lantai tiga. Kantor ini memiliki 1 meja informasi untuk mengambil nomor antrian, kursi-kursi untuk para tamu, dan 3 meja counter semacam customer service dengan tampang petugas yang sangat serius dan akan memberikan banyak pertanyaan seputar paket yang akan kita ambil. Di kantor ini juga, kita bisa mendengar keluhan dan nada tinggi seperti berteriak dari orang-orang yang harus menjawab berbagai macam pertanyaan atau yang paketnya tidak bisa diambil.

Saya termasuk orang yang beruntung. Saya hanya perlu mengantri dua menit sebelum salah satu petugas counter memanggil nomor antrian saya. Saya hanya ditanya tentang jenis tehnya, merk tehnya, nama pengirim, domisili pengirim, dan diminta untuk mengisi formulir. Setelah itu, saya diminta untuk menunggu kurang lebih 25 menit sampai saya diberikan lembaran copy Pencacahan dan Pembeaan Kiriman Pos. Lagi-lagi nama saya kurang 1 huruf “e” tapi ya sudahlah, haha..

DSC_6436
Numpang “ngadem” sambil nonton HBO

Selama menunggu dokumen tersebut, saya ‘sibuk’ melihat tamu-tamu lain dan motret-motret. Ada seorang bapak yang marah-marah karena obat yang dibeli dari RRT tidak bisa keluar sedangkan ibunya sangat memerlukan obat itu. Ada lagi yang marah-marah karena petugas counter minta bukti kalau barangnya dapat discount. Tak ketinggalan, ada ibu-ibu yang ngedumel karena 9 tasnya yang dibeli dan dikirim dari Paris terancam tidak bisa keluar. Belum lagi yang ngedumel karena pelayanannya sangat lama. Memang lama sih, saya sampai bosan menunggu, untungnya ada HBO dan AC 😛

Setelah mendapatkan dokumen, saya diminta ke gedung Pos Internasional. Lagi-lagi saya sempat salah masuk ruangan karena tidak ada petunjuk yang jelas. Saya langsung memberikan dokumen dari pihak Bea dan Cukai ke petugas Pos Internasional. Setelah itu, saya harus kembali menunggu selama 15 menit. Kali ini menunggu si paket dikeluarkan dari gudang \(^o^)/ Ketika paket sudah dikeluarkan, saya harus membayar biaya penggantian plastik Pos Indonesia sebesar 5000 rupiah.

Senang sekali rasanya menerima paket ini. Meskipun prosesnya cukup lama dan saya harus rela ‘olahraga’ di siang hari, tapi semua usahanya terbayarkan juga. Kalau istilah nenek moyang saya dulu, semua ini “worth it” 😀

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

50 Comments

  1. Hihihi ribet ya…

    Inget inget pas kita ke Canada beli bibit tanaman buat temen. Dan sebenernya mesti declare pas lewat imigrasi tp kita diem diem aja dan lewat hahahhaa

    Like

  2. At least masih dapat tehnya kan? Banyak orang-orang yang beneran pulang dengan tangan hampa, bahkan temen saya ada yang mesti nebus cover HP sebesar IDR 350,000, padahal harga cover HP-nya aja gak sampai segitu. Semoga semakin jelas deh soal urusan percukai-an ini. Banyak yang ngemplang juga sih soalnya.

    Like

    1. Iya ci, bersyukur masih bisa dapat paketnya dalam kondisi baik dan lengkap. Nah itu dia, kemarin ada yang sampai disuruh bayar 500.000 juga, katanya pajak masuk karena sudah beli di luar. Iya ci, semoga regulasinya segera ditinjau lagi karena saya juga merasa masih banyak hal rancu soal ini.

      Like

  3. Aku nonton di NetTV emang sekarang petugas bea cukai/imigrasi rada strict Ci, yg dibawa badan aja musti ditebus sekian ratus dollar aplg yg dikirim via pos, ribet 👻
    Tp so far temenku dapet paket dr USA lancar2 aja sih Ci, kalo mamaku kmrn kuajarin tricky. Berhubung bbrp barang nitip sodara, label harganya dicopot biar bebas pajak (jd keliatan spt barang pribadi, bukan milik org lain aplg jual)

    Like

    1. Aku dengar dari temanku kalau pengiriman ke Bali masih lancar sampai sekarang, mungkin pengecualian yah haha.. Nah benar tuh, kalau titip saudara memang lebih baik kalau label harganya dicopot dulu 😀

      Like

  4. Selamat ya akhirnya paketnya bisa diambil.
    Aku kirim paket 3 season sleeping bag dari Melbourne ke Tangerang dari tanggal 5 Maret 2016 sampe sekarang nggak ada kabar gara-gara pilih paket airmail yang paling murah (500 rebu) yang estimasi sampenya 3-10 hari yang nggak ada tracking numbernya, sekarang aku baru nyesel pilih paket termurah itu. Udah hampir 2 bulan gak jelas barangnya di mana, udah tanya ke pos australia, pos indonesia dan bea cukai, dan gak ada yang tau krn gak bisa dilacak, nyebelin banget nggak sih. Aku udah pasrah deh hiks.. *nangis kejer*

    Like

    1. Ahahahaha, kamu yang baca saja ribet apalagi saya yang jalanin prosesnya kemarin, mana cuaca lagi panas sekali, haha.. Iya bersyukur paketnya sudah di tangan. Nah iya tu, kurang 1 huruf itu sebenarnya berpotensi bikin bete, wakakaka 😀

      Like

  5. Untung nggak dipalak ya, aku dulu sering dapat kiriman dari luar lalu pasti ada biaya2 ga jelas klo ambil di kantor bea cukai yang di airport (kebetulan dulu rumah dekat airport).

    Teh Twinnings itu disini model Sariwangi loh, banyak banget di supermarket. Hihihi semoga suka

    Like

    1. Iya untung engga dipalak macam-macam, hahaha.. Sebenarnya supermarket disini juga ada jual Twinnings tapi variannya terbatas sekali, itu-itu saja, dan harganya bisa mencapai hampir 100 ribu per 1 kotak.. Kalau yang kaleng, harganya bisa lebih dari itu, haha.. Uda nyicip dua ni, wakakaka.. Suka banget.

      Like

  6. Di NZ juga banyak varian yang berbeda dengan Indonesia, kemarin sempat foto beberapa tapi dah dihapus, karena ada temen mau nitip tapi gak jadi. Aduh ribet banget ya, tapi benar kasta Eva, untung gak kena palak. Adekku juga sering beli mainan dr luar, sering juga dipanggil ke kantor pos pusat. Dan kdg mesti ditebus dengan bayar atau ada yang gak bayar. kena palak, kalau kertas tagihannya tulis tangan, bisa dimark-up.

    Btw, Twining sama dengan TWG gak yak?

    Like

    1. Iya ribet sekali In. Aku engga kebayang kalau harus tebus barang-barang yang jauh lebih ribet. Ngurusin teh celup saja ribet apalagi barang lainnya, sampai mesti adu mulut begitu sama orang BCnya. Nah itu dia In. Orang yang dapat discounted price itu sampai disuruh petugasnya untuk nunjukkin chat karena harga di website lebih mahal daripada harga di invoice.
      Beda In. Twinnings asalnya dari UK, kalau TWG dari Singapura. Dari segi usia, Twinnings juga jauh lebih tua daripada TWG.

      Like

      1. emang ribet masalah urusan kalau disc tapi dia cek harga lebih mahal, kemarin aku pas balik, juga dah siap2 struk belanjaan sekiranya kalau kena tahan, belanjaan aku mang gak lebih dr batasnya mereka, yg mana ternyata gak dilihat juga sama sekali, haha..

        ohh gitu, tapi dr segi harga, TWG ni lebih mahal dan branded bgt, sampe dulu pernah ada klien aku, teapainya pake TWG, dan kudu didisplay disampingnya, jadi ketahuan tehnya drmana, hihih..

        Like

        1. Orangnya keukeuh uda ga punya chat soal discount itu lagi, si petugasnya malah bilang “masa bapak sudah hapus chat yang baru 2 minggu? chat saya yang sebulan saja masih ada”.. Untung petugasnya engga berhadapan sama aku, bisa kuomelin si itu, tiap orang kan punya habit yang berbeda, haha..
          Oh iya, memang banyak yang bilang TWG lebih lavish dan classy, gerainya saja dinamakan “tea salon and boutique”, cuma aku pribadi lebih suka Twinings daripada TWG.
          Wih gengsi benar ya sampai harus dipajang kayak gitu segala, wakakaka..

          Like

          1. Aku juga jarang simpen chat yg dah sebulan lebih.. Mereka kdg suka bikin kita negative thinking sih, mungkin memang mesti kyk gitu tp jadinya ribet jadinya bikin kita kira mau nyari sela..

            Iya, Wien, dipajang hihi.. Aku ga terlalu fancy ngeteh, krn panas udaranya, tp pas di NZ, biasa habis mkn siang suka ngeteh, tp krn doyannya teh manis, pakenya lipton aja.. Haha.. Secara aku ada banyak juga teabag twinnings, tp sayang buat teh manis 😂😂

            Like

  7. Waahh, aku bacanya sambil membayangkan kamu kayak olahraga ya Wien disana, kesana kesini. Untung beneran dapat petugas yang bener jadi ga dimintain duit macam2. Aku ada kenalan di Belanda pernah cerita, suaminya kirim buku untuk ujian bahasa Belanda ke dia di Jakarta, nyangkut aja gitu di kantor pos. Musti didatengin dan bayar sampai 500rb kalo ga salah. Lha padahal suamiku waktu itu kirim ke aku buku2 yang sama ke Surabaya lewat pos juga, langsung nyampe ke alamat kos tanpa dimintain biaya apa2. Kan oknum ya ini namanya. Masak dibawah kantor pos yang sama bisa beda2 peraturan gitu (meskipun beda kota).

    Like

    1. Benaran olahraga mba Den. Kelilingin satu per satu gedung, naik turun tangga berkali-kali, haha.. Iya mba, bersyukurnya saya dapat petugas-petugas yang benar.
      Walah, gelo amat 500 ribu. Terus bukunya itu ditebus sama temannya mba ga?

      Like

      1. Iya ditebus. Lha gimana lagi katanya, sudah diancam macem2 tetep ga dikasih bukunya. Dan dia lagi dikejar deadline musti segera ujian. Wah kalo aku yg digitukan mending kuperkarakan sekalian. Males aja bayar 500rbga jelas peraturannya darimana.

        Like

        1. Mba Dennn, aku baru sempat blogging lagi, maafkan terlambat reply commentnya. Gelo ya, buku doank sampai dicharge semahal itu. Iya kalau aku juga pati kuperkarakan tu, haha..

          Like

  8. Ya ampun itu ibu yg beli tas dari Paris buat dijual lagi kali, 1 aja jangan2 jutaan harganya. Barang bebas pajak senilai 50 usd klo lebih bakalan kena pajak. Klo disita ya buat petugas atau dilelang kali, apess banget yg punya barang kan 😆 .

    Like

    1. Baru sempat blogging ni mba jadi sorry baru sempat balas commentnya. Iya aku juga mikirnya begitu tempo hari, jangan-jangan tu 9 tas mau dijual lagi, haha.. Apes mba, bisa nangis berhari-hari itu 😀

      Like

    1. Iya berasa seperti bola pingpong tempo hari. Sudah ni mba, sudah cobain semua varian yang dikirimkan teman saya itu, haha.. Makasih ya mba.

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s