Dunia Filateli

Ceritanya tanggal 29 Maret kemarin itu merupakan Hari Filateli Indonesia. Saya baru tahu soal hari itu lewat Twitter seorang teman. Saya jadi kepingin bahas soal filateli kali ini, hehe. Perlu diketahui, aktivitas filateli sebenarnya bukan hanya sekadar mengumpulkan perangko tetapi lebih ke arah pembelajaran mengenai perangko, sejarahnya, serta hal-hal yang berkaitan di dalamnya. Sejarah yang dimaksudkan misalnya tentang perkembangan sistem surat-menyurat dan kegunaan benda-benda pos itu sendiri.

Kata “filateli” dalam Bahasa Indonesia merupakan serapan dari kata “philately” dalam Bahasa Inggris. Akan tetapi, asal katanya adalah “philatélie” dalam Bahasa Perancis yang diciptakan oleh Georges Herpin di tahun 1860an. Sebelum menciptakan kata tersebut, kata yang dipakai selama beberapa tahun adalah “timbromanie” tetapi kata tersebut kurang disukai.

Herpin mengambil akar bahasa Yunani “phil(o)-” (artinya “suka”) dan “ateleia” (artinya “bebas dari pajak dan kewajiban”) untuk membentuk kata “philatéliePada jamannya, orang yang menerima surat harus membayar biaya pengiriman surat, dan perangko akhirnya digunakan sebagai penanda bahwa orang yang menerima surat tidak perlu membayar biaya pengiriman suratnya lagi karena biayanya sudah dibayarkan oleh orang yang mengirimkan surat.

Di Indonesia, aktivitas filateli mendapat dukungan dari pemerintah lewat PT Pos Indonesia. Kalau tidak salah, setiap kantor pos besar di suatu kota memiliki ruang khusus filateli. Khusus untuk Kota Jakarta ada Gedung Filateli Jakarta yang letaknya di kawasan Pasar Baru, dekat dengan Gereja Katedral dan Mesjid Istiqlal. Meskipun sering lewat, saya belum pernah mampir kesana 😛

Saya mengenal aktivitas mengumpulkan perangko, kartu pos, dan surat-menyurat lewat mama saya. Di jaman mudanya, beliau ternyata senang dengan aktivitas korespondensi semacam ini jadi diturunkan ke anak-anaknya. Sayangnya adik saya tidak suka, hehe. Saya pun “diwariskan” beberapa album khusus perangko kepunyaan beliau yang masih disimpan sampai saat ini. Sebelum ada internet, email, dan layanan pengiriman cepat seperti sekarang, kantor pos merupakan salah satu tempat yang sering saya kunjungi untuk kirim surat dan beli perangko, haha..

2
via

Waktu masih kecil, saya dan teman-teman memiliki semacam buku yang digunakan untuk menuliskan biodata singkat, mulai dari nama lengkap, nama panggilan, TTL, nomor telepon rumah, dan alamat rumah. Setiap kali ikut acara di luar sekolah, saya dan peserta lain juga diminta untuk saling mengisi biodata di buku masing-masing. Hal ini berlangsung sampai bangku SMA. Lewat buku-buku itulah saya sering surat-menyurat dengan teman-teman di kota lain. Senang sekali rasanya ketika pak pos mengantarkan surat atau kartu pos ke rumah saya, dan tentunya perangko yang ditempel pasti saya kopek untuk disimpan di album. Indahnya masa-masa memiliki “sahabat pena” 🙂

Sebenarnya perangko dan kartu pos memiliki nilai tinggi apabila dijaga dengan baik, apalagi jika usia perangko dan kartu posnya sudah tua. Nyatanya, barang-barang tersebut bisa dijual kepada kolektornya. Setahu saya, di Gedung Filateli Jakarta ada jadwal khusus untuk lelang barang filateli. Untuk tahun 2016, Kementerian Komunikasi dan Informatika berencana untuk menerbitkan sembilan tema perangko. Daftar lengkapnya bisa lihat disini.

Sayangnya aktivitas semacam ini sudah tidak populer di kalangan generasi jaman sekarang, apalagi kecanggihan teknologi semakin berkembang dari hari ke hari. Saya juga tidak meneruskan aktivitas ini lagi sejak kuliah di Jakarta, tetapi saya punya satu teman bernama Diana yang suka dengan dunia filateli juga, haha.. Ceritanya bos saya cukup sering menerima kiriman surat dari luar negeri dan Diana ini cukup sering minta tolong sekretaris bos untuk kopek perangko dari amplop suratnya, haha.. *peaceDin* 😀

Di akhir bulan Agustus 2015, saya menerima kiriman kartu pos dari Crystal yang tinggal di Belanda. Meskipun diledek oleh beberapa anak kost (yang menganggap saya jadul banget karena masih dikirimkan kartu pos), tapi saya senang sekali. Akhirnya saya menerima kartu pos lagi setelah sekian lama berlalu. Bunch of thanks, Crystal! 🙂

4

Saya sempat keluar masuk toko buku sejuta umat rakyat Jakarta (pasti tahu donk apa namanya) untuk mencari kartu pos tetapi katanya sudah tidak dijual. Tak putus harapan, saya coba cari di Instagram dan berhasil menemukan 1 akun terpercaya yang menjual kartu pos, namanya @haloposnesia. Desainnya yang unik dan harganya yang terjangkau membuat saya tidak pikir panjang untuk membeli beberapa kartu pos. Poin plus, Mba Denissa juga ramah dengan customer. Kartu pos ini sudah dikirimkan ke beberapa orang di luar Indonesia, termasuk Crystal.

5

By the way, setahu saya orang yang memiliki hobi dengan aktivitas ini tidak disebut sebagai “filatelis” sebab filatelis merupakan seorang spesialis yang benar-benar mendalami ilmu tentang dunia filateli. Orang yang memiliki hobi untuk mengumpulkan perangko atau kartu pos biasanya disebut sebagai “kolektor”. Itu setahu saya yahPlease correct me if I’m wrong 🙂

Untuk info lain mengenai dunia filateli bisa dibaca disini, disini, dan disini. Apakah di antara kalian ada yang punya hobi filateli?

Featured image : via

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

35 Comments

  1. Dulu pernah punya hobi ini, ditulari dari ibuku yang koleksi perangko. Kalo ga salah punya 2 album. Seingatku yang paling komplit adalah koleksi perangko bergambar mantan presiden ke dua kita. Yang kuinget, pernah waktu itu dalam rangka ulang tahunnya pangeran william, di inggris sono keluarin limited editionnya perangko bergambar william, aku yg ngefans bgt sampe mupeng mupeng kebawa mimpi. Tapi ya tetep ga bisa dapetin lah 😆😆😆 Waktu SMA hobi ini udah ga lanjut, duh kemana ya albumku 😀

    Like

    1. Kayaknya jaman dulu para ibu demen ngoleksi beginian ya, haha.. Seingatku perangko si mantan presiden kedua dan keluarga kerajaan itu memenuhi album mamaku juga, haha.. Yuk dipikir-pikir kemana albumnya sekarang, hehe..

      Like

  2. Aku wien Akyuuuuu.. tapi seperti yg sudah diceritakan di atas. Sekarang ngumpulinnya yg bekas dan minta. Hahahahah..Kalo beli harus yang benar-benar suka gambar prangkonya. Terakhir beli prangko yang gambar kupu-kupu karena super demen sama gambarnya.
    Album prangkonya sudah nyempil di container, hanya dikeluarkan kalo kangen atau ada prangko yang harus disusun. Yayyyy….

    Like

  3. dulu sih iyaa hobi ngumpulin karena gambarnya bagus2…sekarang masih ada sih, tapi gak nambah2 lagi koleksinya, karena kan udah gak kirim2 surat. Kalo dulu karena surat2an jadi bisa nambah…ada yang beli juga sih..hahaha

    Like

    1. Iya ci, aktivitas koleksi perangkonya pasti berhenti kalau sudah tidak kirim-kirim surat, hehe.. Iya bisa beli cuma malas ke kantor posnya lagi sekarang, apalagi kalau engga salah jadwal buka kantornya sama dengan hari kerja, haha..

      Like

  4. papa aku punya banyaaaaaaaaaaak banget prangko zaman dulu.. hobi banget ngumpulin masih dr zaman jadul banget dr semua negara dan semuanya rapi banget ada di lebih dr 10 album hehe… Lagi nyoba nyari2 orang yang mau nukar atau beli koleksi prangko zaman dulu, tp susah banget ya ternyata hehe..

    Like

    1. Wih mantap banget lebih dari 10 album! Iya sekarang semakin susah karena orang-orang jaman sekarang sudah jarang mau jalanin hobi seperti ini. Btw coba offer ke museum filateli luar negeri mba Astrid, siapa tahu bisa dilelang disana hehe..

      Like

  5. Nyokap dulu juga koleksi perangko, yahh sama semua yak.. Hahah.. Dan album nya ntah kemana juga. Mungkin dulu bingung kali mau koleksi apa.. Jadi rata2 koleksi perangko. Malah kayak 5-6 tahun yg lalu, sepupu gua dapat perangko jadul banget, ceritanya bisa dijual ke kolektor seharga 1 M, ntah lah bener atau kaga. Ga ada kelanjutan nya, lagian cara jual nya juga bingung tuh..

    Like

    1. Hahaha, iya mungkin orang jaman dulu bingung ya mau koleksi apaan. Dulu pernah baca artikel ada orang bisa beli motor and kulkas dari hasil lelang perangko, LOL. Kalau mau dijual sepertinya harus masuk ke komunitas filatelinya atau datang langsung ke gedung filatelinya gitu.

      Like

  6. Aku nggak suka ngumpulin perangko nya tapi aku koleksi kartu pos Wien 🙂 sekarang baru 1 kotak sepatu, hehehe udah lama nih nggak ada yg kirim.. *kode* *hahaha kode sama siapa lagi* :p

    Liked by 1 person

  7. Aku dulu pas jaman ada ajang sahabat pena dimajalah, koleksi perangko wien. Tapi aku lupa kenapa kok berhenti ya. Nah sejak itu ganti jadi koleksi kartupos. Jadi setiap bepergian selalu beli kartupos dan dikoleksi sampai sekarang. Dan saling berkirim kartupos dengan kenalan2 dari negara lain juga. Lagi nyari tempat buat naruh kartupos2 ini biar rapih.

    Like

    1. Wah seru sekali mba masih ngoleksi kartu pos sampai sekarang! Aku mendadak jadi kepingin ngoleksi lagi, haha.. Ditaruh dalam kotak kecil saja mba, yang penting bersih and kering.

      Like

  8. saya pernah jadi filatelis bukan karena memahami maknanya tapi kayaknya karena……pengaruh orang lain wkwkwk…sampai sekarang masih ada beberapa bendel…

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s