Will Gengsi Kill You?

Judulnya rada-rada gimana gitu ya 😀

Firstly and foremost, post ini tidak dibuat untuk menyindir siapa-siapa, tetapi murni hanya sebagai ajang sharing dan personal reminder saja. Ceritanya beda-beda tapi intinya sama, yaitu soal “mempertahankan gengsi”. Saya engga tahu habit orang lain di negara lain itu seperti apa, tapi saya melihat cukup banyak orang Indonesia yang rela melakukan (maaf) hal-hal agak bodoh untuk mempertahankan gengsi 😛

Cerita pertama. Soal iPhone 6.

Saya bukan seorang gadget mania jadi tidak terlalu mengikuti perkembangan gadget, tapi setidaknya saya tahu kalau harga 1 unit iPhone 6 itu hampir setara dengan harga 1 unit motor. Sebut saja orang ini A, temannya teman-teman saya, datang jauh-jauh dari ujung pulau Sumatera demi hidup yang lebih baik, katanya.

Ketika bertemu dengan A, saya dan beberapa teman merasa cukup kaget ketika melihat A mengeluarkan iPhone 6S Gold dari dalam tasnya. Kami semua tahu range gaji A sebab dia sempat beberapa kali minta informasi lowongan kerja. Salah satu teman langsung bertanya ke A tanpa tedeng aling-aling soal iPhone itu. A mengatakan kalau semua orang di divisi kantornya menggunakan iPhone 6 atau 6s, dan dia merasa malu karena masih menggunakan Blackberry. iPhone 6s itu juga dia gunakan sebagai ajang pembuktian ke keluarga dan teman di kota asalnya kalau “kerja di Jakarta itu enak, datangin banyak duit“. Heh, you think? 😀

Teman saya yang lain ikutan nanya dari mana A dapat uang untuk beli iPhone itu. A mengatakan kalau dia menggunakan kartu kredit salah satu teman divisinya, cicilannya 24 bulan. Saya dan teman-teman kaget dengan jawaban A itu, dan semakin tambah kaget ketika tahu A rela bawa bekal nasi putih + telur / tahu / tempe hampir setiap hari demi membayar cicilannya. Kadang-kadang dia beli sedikit sayur di warteg dekat kantornya. Ketika bertemu kami pun A hanya memesan segelas jus.

Cerita kedua. Soal kartu kredit.

Sebut saja namanya B. Saya sempat bertemu dia setelah sekian tahun tidak bertemu. Dia menawarkan diri untuk membayar semua pesanan kami. Saya menolak dengan mengatakan bahwa sebaiknya kami bayar sendiri-sendiri saja sesuai pesanan, tapi dia keukeuh untuk bayar menggunakan kartu kreditnya. Lagi ada promo 20%, katanya. B sempat bertanya ke saya, kenapa saya tidak punya kartu kredit bank yang promo itu. Menurut B, saya harus punya kartunya karena banyak promo bagus dan bisa digunakan untuk menaikkan prestige ketika saya makan dengan orang penting.

Sebulan kemudian saya bertemu teman lain, sebut saja C. Di sela-sela pembicaraan kami, C bertanya soal pertemuan saya dengan B, dan dia menyuruh saya untuk lebih hati-hati karena B suka pinjam uang dengan orang lain untuk bayar kartu kredit. Waktu bertemu B, saya memang melihat B punya 1 dompet khusus untuk kartu kredit yang jumlahnya lebih dari 6 bank itu, tapi saya tidak gubris lebih lanjut, entah semuanya masih aktif atau tidak.

C ini dikenal dekat dengan B tapi hubungan keduanya mulai renggang ketika B sering pinjam uang C untuk bayar kartu kredit. C juga mengatakan dia pernah ditelepon seorang debt collector yang mencari B. C tidak tahu kalau nomor handphonenya dipakai oleh B untuk pendaftaran kartu kredit. C sudah berkali-kali menegur B soal bad habit kartu kredit itu, tapi B menganggap omongan C itu ‘angin lalu’ saja. Menurut C, gaji bulanan B sering habis untuk bayar tagihan kartu kreditnya, jadi tidak heran kalau B sering pinjam uang.

Cerita ketiga. Soal pinjam uang bank untuk menikah.

Sebut saja mereka D dan E. Mereka temannya teman saya yang memutuskan untuk menikah di akhir tahun 2015. Menurut cerita teman saya, awalnya D dan E hanya mau merayakan pesta untuk 300 orang karena dana nikah mereka terbatas, tapi ternyata pestanya dihadiri kurang lebih 700 orang. Kog bisa bertambah hampir 400 orang? Ternyata E dan keluarganya malu kalau tidak mengundang famili jauh dan kenalan-kenalan lainnya, apalagi keluarga E dianggap lebih berada daripada keluarga lain, jadi gengsi dipertaruhkan juga disini.

Katanya dana nikah terbatas, kog bisa undang 700 orang?  Ternyata lagi, E memutuskan untuk mengajukan pinjaman dana ke salah satu bank. Menurut teman saya, nilai dana pinjaman mereka bisa digunakan untuk DP 1 mobil, jadi kebayang donk berapa nilainya, hehe.. Hal yang membuat saya merasa semakin ngenes, D dan E membatalkan rencana mereka untuk honeymoon karena uangnya dialihkan untuk membayar cicilan  pinjaman dana itu. FYI, jangka waktu cicilannya hanya 12 bulan.

b
via

Sebenarnya dan sejujurnya, tiga cerita di atas bisa dikategorikan “not my business”. Si A, B, C, D, dan E boleh melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan karena itu hak mereka. Tapi saya ingin melihat cerita-cerita tersebut dari satu titik bernama “gengsi”.

Harus diakui, lingkungan kita saat ini dipenuhi dengan banyak orang yang rela melakukan segalanya demi mempertahankan gengsi. Jaman saya lulus SMA dulu, banyak orang tua berlomba-lomba mendaftarkan anak-anak mereka untuk kuliah di Australia tanpa melihat akreditasi jurusan dan biaya yang harus dikeluarkan. Pokoknya harus kuliah di Australia karena keren. Mau kampus apapun terserah, yang penting Australia. Kalau ditanya “anakmu kuliah dimana, ses?” jawabannya engga jauh-jauh dari “ostrali ses”, dan disusul dengan pernyataan “wah anak ses hebat yah bisa kuliah di ostrali” tanpa menanyakan si anak kuliah di kampus mana, ambil jurusan apa, untuk waktu berapa lama. Tidak sedikit yang hanya kuliah D1, jurusan masak-memasak, di kampus ecek-ecek. Sampai saya lulus S1 pun, mama saya masih sering ditanya oleh teman-temannya, mengapa saya tidak kuliah di Australia 😀

Saya menggunakan judul tersebut untuk menjelaskan bahwa tanpa gengsi pun sebenarnya saya (dan kamu) bisa hidup dengan baik. Sangat baik malah karena kita tidak perlu hidup dengan memikirkan hal-hal yang memang tidak perlu dipikirkan. Cerita-cerita di atas bisa menjadi contohnya. Andai A tidak beli iPhone, mungkin dia masih bisa tabung sebagian gajinya atau masih bisa makan enak kapanpun dia mau. Andai D dan E tidak mengajukan pinjaman dana ke bank, mungkin mereka berdua bisa menikmati honeymoon seperti yang mereka inginkan. Kerap kali saya perhatikan, ketika rasa “tidak enak hati” dan rasa “malu dengan orang lain” dibawa ke level tertinggi, rasa gengsi biasanya akan ikut dari belakang. Lambat laun, si gengsi itu akan berubah menjadi ajang pamer.

Itu pendapatnya saya, dan hak kamu untuk setuju atau tidak dengan pendapat saya itu, hehe.. Kalau saya perhatikan, gengsi ini seringkali berakibat buruk ke depannya, kemungkinan besar karena sulitnya orang tersebut mengontrol tingkat gengsinya. Sesuatu yang berlebihan dan tidak bisa dikontrol seringkali berakibat tidak baik ya kan? Lama-lama gengsi jadinya seperti bentuk penyangkalan diri sendiri.

What do you think? 😀

Featured image : via

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

32 Comments

  1. Stories of financial monsters. Been there. Hahaha. Miris bacanya Wien. True not our business sih emang tapi kok yaaaa. Great to share the stories untuk jadi warning buat yang suka aneh-aneh ama duitnya. Hahaha.

    Like

    1. Haha, makasih mas, sampai pakai kata “monsters” loh, wakakaka.. Iya mas, hal-hal semacam ini bisa jadi reminder untuk kita sendiri meskipun apa yang mereka alami itu bukan urusan kita. Semoga tidak mengalami masa-masa itu lagi ya mas 😀

      Like

  2. Setuju Wien, setujuuu.. jadi reminder buat semua.
    Kejadian D dan E pernah dialami sama kenalanku, dan beneran kasian abis nikah masih dibebani hutang. Ortunya yg kasian, kebeban juga. Complicated lah.

    Like

  3. Halo salam kenal, lupa aku uda pernah comment belom 🙂
    SETUJU BANGET…. Emank lebih damai kalo hidup apa adanya aja daripada dimakan gengsi, aku tak rela melarat demi “GENGSI”… Hehehe

    Like

    1. Hai hai, salam kenal juga. Seingat saya, kamu pernah comment sekali di blog saya, hehe.. Iya lebih baik hidup apa adanya tanpa gengsi ya, lebih tenang rasanya, hehe..

      Like

  4. Hallo Wien, salam kenal. Biasa nyimak aja post mu, perdana komen disini.:D
    Aku setuju banget, meletakkan gengsi diatas segalanya malah bisa balik jadi bumerang ke diri sendiri. Menjalankan sesuatu yang gak sesuai dengan apa yang diinginkan cuma untuk terlihat bagus di mata orang bukannya malah menambah beban sendiri dan bikin ngejaninnya ga enjoy ya.:D

    Like

    1. Salam kenal juga Wulan. Thank you sudah mampir dan komen ya 😉 Iya ni, gengsi itu bisa balik jadi bumerang untuk diri sendiri, hanya saja masih banyak orang yang “mendewakan” gengsi itu ya, hehe

      Liked by 1 person

  5. Aduh yang gengsi iPhone 6S ituuuuuuu -__-”
    Kenal juga sama orang yang mirip2 begini bahkan yang paling sedih kalo punya iPhone jenis mutakhir tapi nggak bisa makainya alias gaptek… atau beli Macbook Air yang mahaaal banget cuma untuk browsing Internet aja (baca: Facebookan)

    Like

    1. Ahahahaha, kamu jadi ikutan gemes kannn sama yg iPhone 6S itu.. Aku saja gemes, hahaha.. Ah iya, banyak loh orang-orang yang pakai smartphone itu sebenarnya tidak smart, haha.. Jadi handphone buat ajang gaya atau pamer saja.

      Like

  6. Pas waktu pertama kali pindah ke Eropa tahun 2005 (jaman dulu belum ada smartphone kali ya, tapi udah banyak hp yang keren2 itu), sempet bingung sama orang2 sini yang hapenya jaman baheula banget Nokia 3100 begitulah. Yah ternyata disini memang orang pantang gengsi, yang semampunya aja, lagian hape selama bisa dipake nelpon dan sms juga udah berfungsi.

    Sekarang sih emang sudah banyak smartphone (iphone & Android) betebaran disini, tapi harga hape disini relatif murah dibanding harga di Indonesia (mungkin sama kali ya, cuman purchasing powernya beda) dan juga biasanya udah termasuk plan (abonemen) sama nyicilnya, jadi bener2 murah jatuhnya, nggak beli terpisah kaya di Indonesia.

    Semakin lama memang ngerasain bahwa gengsi itu heboh banget di Indonesia. Kalau kumpul2 sama orang2 Indonesia di KBRi sayangnya pun masih begini, yang masih pamer mobil baru, atau tas designer baru yang menurutku nggak penting. Makanya makin males bergaul sama orang Indonesia disini. Eh maaf jadi curcol 😛

    Like

    1. Aku juga sering dengar cerita seperti itu dari teman yang tinggal di yurop. Engga heran ketika mereka balik kesini, mereka sering diledekin karena handphonenya dianggap masih jadul, engga mengikuti tren, haha.. Malas banget ya kalau ajang kumpul-kumpul jadi ajang pamer harta.

      Like

  7. Gengsi itu memang mahal ya harganya. Aku mah (mencoba) apa adanya saja. Karena apa adanya itu aja jadi sering bahan gunjingan disini. Maksudnya karena ga pernah ikutan ngobrol tas bermerek atau barang2 bermerek lainnya suka dinyinyirin kalo suamiku ga bisa beliin. Aku sih ga peduli omongan orang. Wong mereka ga ngasih aku uang. Pas kawin dulu juga sempat jadi bahan gunjingan karena jumlah undangan hanya 100 orang. Katanya kami ga mampu bikin pesta besar dan ada masalah keuangan makanya cuman ngundang dikit orang. Menurutku 100 itu sudah banyak. Aku hidup ga berdasarkan apa penilaian orang. Aku hidup berdasarkan apa yg aku suka selama ga keluar aturan dan ga merugikan orang. Kalau hidup hanya ingin “dilihat” orang lain bikin diri sendiri ga bahagia dan ga ada habisnya kalau nurutin “nilai” dari orang lain.

    Like

    1. Hahaha, betul tu mba, yang begituan engga perlu diambil pusing, terserah deh orang mau bilang apa yang penting hidup kita fine-fine saja, itu si menurutku. Daripada hidup palsu tapi sebenarnya tersiksa karena terlalu peduli dengan anggapan orang lain.

      Like

  8. segitunya ya demi buat gengsi..apalagi masalah Iphone. tapi gak dimana2 si Wien disini juga banyaklah orang macam itu…temen2ku juga ada yang maksain diri biar keliatan hidupnya gimanaaaa gitu. maksain dirinya itu sampe paraahh banget lhoo..jadi pengen share cerita juga deh oneday. aku si apalahh…cc aja gak punya. Hp aja gak ganti2 ahahahaha

    Like

    1. Aku baru punya CC 2 tahun yg lalu itupun gara-gara si bank cape antri yang suka jual mahal bilang kalau CCnya langsung diapproved, tak pikir yawislah coba buat 1. Trus nambah 1 lagi buat promo supermarket. Akhir 2015 nambah 1 lagi karena dapat free lifetime. Selama ini berusaha engga pakai CC kecuali promo supermarket, and I’m really fine with those things. CC jadi pajangan dalam dompet saja. Mau tutup yang bank cape antri, dikasih free annual fee lagi. Yasudah, jadi barang pajangan lagi sekarang. HP juga baru ganti kalau benaran uda soak parah. Ayuk buat postnya juga, hihi..

      Like

  9. ya ampun sampai sebegitunya yak demi di bilang kekinian kali ya. tapi ngapain memaksakan sesuatu yg emang kita ngak sanggup yg akhirnya ngebuat kita ngutang sana-sini. ini mah buat masalah baru. hadeh.

    Like

  10. gengsi tuh yang ada ngegrogotin keuangan x_x
    postingannya buat reminder aku dan yang baca nih supaya jangan kemakan sama gengsi. Hidupnya cukup2 aja..jangan besar pasak daripada tiang yak

    Like

  11. Salah satu sebab aku suka tinggal di Belanda itu karena orang disini pada umumnya ngga gengsian. Ok di kalangan tertentu ada gengsi ya tapi hanya sedikit yang begini.

    Aku ngga gengsian Wien, udah 8 tahun ngga punya mobil kemana-mana naik sepeda/bis/kereta, ok aja tuh 😉 Terus aku hidup sesuai kemampuan, ngga maksa harus ini itu karena gengsi. I don’t have to impress others lah disini 😉

    Like

  12. Ini pernah saya bahas ya dulu, yang soal merencanakan keuangan. Masih inget kan ya? Soalnya postingannya mayan rame hihihihi. Ternyata makin jelas, tuh bukti nyatanya yang seperti kamu tulis di atas itu, semuanya ada dan terpampang nyata. Manusia hidup gak boleh makan gengsi, karena gengsi ngga bikin kenyang. Yang ada bikin tambah lapar hahaha.

    Like

    1. Iya ci, kayaknya cici pernah bahas, tapi aku lupa-lupa ingat bahasannya gimana, hehe. Betul ci, lebih baik hidup apa adanya tanpa memaksakan kehendak, haha..

      Like

  13. setuju banget nih sama postingan wien, hidup emang jangan kemakan gengsi, tapi juga mesti tahan hati dan kuping kalau diomong orang ya… karena kdg orang yang lg jaga gengsi suka dianggep pelit dan gak perhatian dengan diri sendiri *pengalaman*

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s