Balada Sang Mantan

Saya mengetik post ini sambil nonton team kebanggaan, Manchester United bertanding melawan Arsenal. Skor sementara 2-1 untuk The Red Devils, semoga mereka bisa menang kali ini.

Nonton bolanya sedikit kurang tenang karena ada konser Kahitna (recorded) di TV channel sebelah. Ketika Kahitna menyanyikan lagu “Engga Ngerti”, tiba-tiba saya ingat dengan draft yang belum selesai 😀

“Balada Sang Mantan” ini bisa merujuk ke beberapa hal, mulai dari mantan kekasih, mantan sahabat, mantan musuh, mantan guru, mantan dosen, apa saja asalkan jangan mantan orang tua 🙂

Kali ini saya mau bercerita tentang mantan calon kekasih yang sudah dilupakan bertahun-tahun lamanya. Iya benar, kamu tidak salah baca. Mantan calon kekasih, bukan mantan kekasih. Hahaha.. Ide cerita ini muncul ketika saya pulang ke Pontianak tanggal 7 Februari tempo hari dan pulang ke Jakarta seminggu setelahnya.

Ceritanya ketika saya sedang ikut antri untuk masuk ke pesawat yang akan membawa kami ke Pontianak (sebelum drama perubahan seat saya dimulai), saya berdiri di belakang seorang laki-laki muda. Kalau dari belakang, ybs terlihat sepantaran saya.

Awalnya saya tidak tahu siapa dia, dan saya juga tidak berniat cari tahu soal itu, engga sekepo itulah. Nah, ketika staf Garuda Indonesia minta saya ikut ke meja informasi untuk pemeriksaan lanjutan, si laki-laki muda juga diminta oleh staf lain untuk ke meja yang sama.

Saat itulah, dua pasang mata kami ini pun bertemu *jogetjogetsambilputarlaguIndia*

Saya masih planga plongo, mencoba mengingat namanya. Ketika saraf di otak sudah mengingat namanya, si laki-laki muda sudah bicara duluan : “Wiwien?”, yang saya balas juga dengan : “W—?” Yes, nama panggilannya engga beda-beda jauh dengan namanya saya. Jika inisial nama saya adalah WS, inisial namanya adalah WD. Saya mau lebay dikit. Seketika itu juga, hal-hal yang terjadi di antara kami berdua (duluuuuu) muncul di otak saya seperti scene di film 😀

Kami sudah lama tidak bertemu, sekitar 10 tahun. Kami tidak punya kontak BBM dan WhatsApp, tidak pula berteman di Facebook, Twitter, atau Instagram, meskipun mungkin sebenarnya kami bisa bertanya ke teman-teman. Tapi kami pernah sangat dekat dulu, sekitar 12 tahun yang lalu ketika kami masih sama-sama duduk di bangku SMA. Meskipun sekolah kami berbeda tetapi kami cukup sering bertemu lewat kegiatan luar sekolah. Saling bercerita tentang aktivitas masing-masing, tentang perpisahan kami dengan para mantan cinta monyet, tentang tugas sekolah dan ekstrakurikuler yang kami ikuti, dll.

Singkatnya kami tidak pacaran meskipun sebenarnya sudah hampir pacaran. Saya cukup sering dapat kado dari dia, termasuk yang modelnya pinguin-pinguin. Tapi satu hari, dia menghilang begitu saja, ganti nomor handphone, dan tidak datang ke kegiatan kami. Kalau dari cerita beberapa teman yang membantu saya mencari info, dia dilarang oleh orangtuanya untuk bersahabat dengan saya, apalagi berpacaran dengan saya. Alasannya sepele, saya bukan orang Hokkian (Medan) seperti dia 😛

Ya sudahlah, saya anggap belum jodoh dengan dia, toh kami masih sama-sama “kecil” saat itu. Tahun-tahun berlalu, tak ada angin apalagi hujan dan badai, kami berdua tiba-tiba bertemu di tempat dan waktu yang tidak direncanakan sebelumnya. No lah, it’s not movie lah, not coincidental too lah, it’s God’s plan lah.

Jangan berharap setelah adegan panggil-memanggil nama itu berakhir dengan percakapan yang panjang. Kami berdua disibukkan dengan drama sistem check-in Garuda Indonesia yang down saat itu dan tidak dapat berbicara meskipun bersebelahan. Dia duluan dapat boarding pass yang baru dan pergi meninggalkan meja informasi tanpa ba-bi-bu. Ketika masuk ke dalam pesawat, saya melihat dia duduk 5 baris di depan saya. Ketika sudah landing, dia cepat-cepat turun dari pesawat sehingga saya tidak bisa menyapa dia lagi.

Tanpa direncanakan lagi, saya bertemu dia kembali di tanggal 14 Februari ketika kami berdua sedang menunggu di boarding room Bandara Supadio. Ternyata jadwal dan maskapai penerbangan kami sama. Kami juga sempat bertemu kembali, muka ketemu muka, tapi kali ini tidak ada adegan “Wiwien?” dan “W—?” lagi seperti ketika kami bertemu di boarding room Bandara Soekarno-Hatta.

Mata kami memang saling bertemu, saya malahan sempat senyum ke dia, tapiiiii dia cuek saja! Asemmm ni orang, pikirku dalam hati. Jangankan ngajak bicara, senyum balik ke saya saja tidak. Hahaha. Sesaat setelah kejadian itu, saya kirim WhatsApp ke salah satu teman yang memang tahu cerita kami sejak jaman SMA dulu.

Teman saya tertawa di dalam balasan WhatsAppnya dan mengatakan kalau si W— itu juga menceritakan hal serupa ke dia. Katanya dia kaget setengah mati bisa bertemu saya lagi, padahal sudah jauh-jauh kuliah di Jepang. Sekian lama tidak pulang ke Pontianak sejak moved ke Jepang, malah ketemu saya di Soekarno-Hatta. Teman saya sempat snap chatnya dengan W— dan kirim ke saya. Di dalam chat itu, W— menggambarkan saya seperti hantu. Asemmmmm! 

Kalau ditanya masih ada perasaan khusus dengan dia atau tidak, jawabannya sudah tidak ada. Sudah lebih dari 10 tahun tidak bertemu dengan dia, tidak tahu menahu soal kabarnya, tentu saja perasaan itu sudah mati dengan sendirinya. Saya juga bukan tipikal hopeless romantic yang (maaf) masih suka menggantungkan hidup dengan cerita-cerita lama. Hanya saja saya kurang suka dengan sikap W— seperti itu. Nyatanya saya memang tidak pernah mencari dia selama ini, tidak tahu dia seperti apa dan sedang apa.

Yah, mungkin kami memang tidak jodoh untuk menjadi kekasih hati atau sekadar sahabat cerita. Mungkin habis ini Yovie Widianto bisa bikinin lagu dengan judul “Mantan Calon Kekasih” bukan “Mantan Terindah” saja 😀

Saya jadi tertawa sendiri sekarang kalau ingat kejadian itu. Pernah mengalami hal serupa?

“Mau dikatakan apa lagi, kita tak akan pernah satu” (Kahitna – Mantan Terindah)

Rgds,

Ws 😉

Update : Manchester United menang 3-2 dari Arsenal 😀

Advertisements

50 Comments

  1. Kok bisa sih Wien dibilang seperti hantu haha maksudnya, kenapa sampai terucapkan seperti itu.
    Kahitna ini memang Legenda sekali ya. 5 tahun lalu aku nonton konser 25 tahunnya. Sekarang sudah 30 tahun aja. Waktu cepat berlalu.

    Like

    1. Teman saya sempat chat si W kenapa saya dianggap seperti hantu, tapi dia engga balas chatnya, cuma dibaca saja. Jadi saya juga engga paham kenapa saya dianggap hantu, mba Den, hahaha..
      Iya mereka sangat melegenda, lagu-lagunya sederhana tapi menyentuh sekali.

      Like

  2. Menarik. ada lho hukum tidak tertulis semakin sesuatu itu dihindari (atau dibenci) malah akan berurusan, karena alam ga kenal yg namanya kalimat negatif…krn dirimu ga mikir2 lagi jgn2 WR yg memikirkan—->ea..ini percaya ga percaya, untuk becandaan aja ya…

    Like

        1. Mwahahaha.. Spoiler AADC 2 wannabe dulu yah Ayomi 😀 yah, semoga Tuhan masih berencana mempertemukan kami berdua, setidaknya dia bisa tak jutekin balik nantinya LOL 😛

          Like

  3. Aseeem ya tu cowooo hahahhaha.. menurut gua ga usah begitu lho dia. Toh harusnya kan dia udah gede dan lebih dewasa dari 10 tahun lalu. Harusnyaaa.. ihhss.. jadi sebel. Hahahaha..
    Iya kahitna emang jagoan bikin baper ya.. terutama masa lalu! 😀

    Like

    1. Hahaha, iya memang asemmm dia. Padahal niatan saya baik mau ngobrol sama dia, sekadar nanya kabar juga tidak apa-apa, tapi dianya menghindar seperti itu, hahaha.. Iya, lagu-lagunya bagus si jadi wajar bisa baperan 😀

      Like

  4. Waaa Kahitna selalu sukses bikin baper :)))
    Wee..dikatain hantu? Harusnya dia lebih dewasa ya. Toh kalo emang udah ga ada apa apa, tinggal senyum, say hai, basa basi tanya kabar, trus udah dadah bubye *sok tuaa akuuu* hahah.
    Eh, kalo aku beneran ketemu mantan, mungkin bakal aku senyumin sih. Nih idup gue oke tanpa eloh. Bhahah *curcol*

    Like

    1. Iya dikatain hantu, hahahaha.. Ah kamu memang lebih tua dari aku kog mba *kaburduluan* Itu sudah kusenyumin lo mba, masih tetap asem gitu mukanya, nanceppp.. Hahaha..

      Like

  5. Gw kok yakin dia yang ada rasa ya Wien meskipun dirimu yang nulis di blog. Hahaha. Aslik deh kalo emang dia gak kenapa-kenapa dia gak bakalan manggil dirimu hantu dan menghindar gitu. Cowok susah lupa sama cinta pertamanya Wien. Trust me on this.

    Liked by 1 person

    1. Mwahahaha, selalu ada kemungkinan dalam setiap hal si Mba Emmy.. But honestly, saya akan jauh lebih menghargai jika dia mau bicara meskipun sekadar bertanya kabar saja, daripada asemin muka seperti itu dan bilang saya hantu, wakakaka..

      Like

  6. Wien…aku setuju sama Dani….kayaknya emang dia deh yang surprised, salting and speechless…bcoz maybe dia masih ada rasa. Well we dunno. Kamu kayak hantu mungkin maksudnya ya tiba2 muncul di hadapannya. Gitu kali wien.. *anaknya sok stay positive banget deh Jo!* 😊😊😊😊

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s