CGK-PNK-CGK

Hai semua. Selamat Hari Minggu ya!

Sesuai kata-kata di post ini, saya akan menceritakan perihal penerbangan saya ketika pulang ke kampung halaman tempo hari. 

Saya akan menggunakan beberapa nama maskapai penerbangan di dalam post ini tanpa bermaksud apapun. Post ini sifatnya hanya sharing semata 🙂

Kampung halaman saya berada di Kota Pontianak. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai Kota Khatulistiwa tersebut adalah 1,5 jam menggunakan pesawat terbang dari Kota Tangerang (saya pakai kata “Tangerang” sebab Bandara Soekarno-Hatta berada di Tangerang bukan di Jakarta). Sampai hari ini, maskapai yang mempunyai rute penerbangan ke Pontianak adalah Garuda Indonesia, Sriwijaya Air, Lion Air, Batik Air, dan Citilink. Sebenarnya Air Asia juga beroperasi di Bandara Supadio tetapi baru melayani penerbangan PP Pontianak ke Kuala Lumpur. Sebelum tutup, nama-nama maskapai seperti Merpati, Adam Air, dan Batavia juga mempunyai rute penerbangan ke Pontianak.

Saya sudah mencoba jasa semua maskapai yang disebutkan di atas, kecuali Batik Air dan Citilink. Dengan alasan itulah, saya membeli tiket Batik Air untuk flight 7 Februari 2016 lewat teman saya. Saya juga pilih flight pagi yang berangkat dari Bandara Halim Perdanakusuma karena jaraknya lebih dekat dengan lokasi saya, plus saya belum pernah take-off atau landing disana. Untuk pulang ke Jakarta, saya membeli tiket Garuda Indonesia untuk flight 14 Februari 2016 sore. FYI, saya membeli tiketnya lewat teman saya karena harganya lebih murah daripada Skyscanner atau website maskapai ybs 😛

Total harga tiketnya adalah 1,8 juta rupiah saja (*nangisbombay*). Seminggu setelah pembelian itu, saya dapat kabar dari teman saya kalau flight Batik Air ke Pontianak melalui Halim Perdanakusuma sudah ditutup karena rutenya sepi dari penumpang. Teman saya yang lain sempat mengatakan hal yang sama. Saya ditawarkan tiga opsi : full refund, terbang dengan flight Batik Air yang berangkat dari Soekarno-Hatta, atau full refund + ganti maskapai lain.

Saya pilih opsi ketiga karena opsi kedua tidak ada penerbangan pagi jam 8an seperti yang saya mau. Akhirnya saya pilih flight Garuda Indonesia tetapi harus nambah 200 ribu karena harga tiketnya sudah naik. Padahal ya pemirsa-pemirsa, ketika saya membeli tiketnya Batik Air, harga tiket Garuda Indonesia masih lebih murah 100 ribu, hikss.. Alhasil total harga tiket PP saya adalah 2 juta rupiah saja (*mewekbombay*)

Kog naik Garuda Indonesia? Oke, saya akan jelaskan alasannya.

  • Sriwijaya Air = pernah tergelincir di Bandara Supadio Pontianak dan harganya tidak jauh berbeda dengan Garuda Indonesia (dapat makan pula*enggamaurugi*).
  • Lion Air = pernah tergelincir juga di Bandara Supadio Pontianak dan sering delay lebih dari 1 jam. Flight terakhir saya ke Pontianak saat Lebaran 2015, delay hampir 3 jam. Setelah kejadian itu, saya memutuskan tidak mau menggunakan jasa Lion Air lagi. Entah bagi orang lain, tapi bagi saya waktu itu sangat penting.
  • Batik Air (dari Soekarno-Hatta) = flight ke Pontianak jam 8an pagi sudah tidak ada (kalau tidak salah karena sudah full booked).
  • Citilink = baik dari Soekarno-Hatta atau Halim Perdanakusuma, flight ke Pontianak sekitar jam 6 – 7 pagi, terlalu pagi untuk sleepyhead seperti saya, haha..

Sepengetahuan saya, rute Garuda Indonesia ke Pontianak paling jarang delay. Jika terpaksa delay, biasanya karena faktor cuaca yang kurang baik saat itu. Kelebihan lainnya, maskapai yang masih menjadi partner Liverpool Football Club ini memiliki terminal sendiri di Soekarno-Hatta sehingga pelayanannya lebih tertata dengan baik.

DSC_5466

Tanggal 6 Februari sore saya melakukan mobile check-in dan mendapatkan kursi 25K. Senang donk saya, secara duduknya di samping jendela. Saya suka lihat langit dan awan soalnya, hehe.. Saya berangkat ke Soekarno-Hatta tanggal 7 Februari jam 6 pagi. Supir taksinya engga ngebut tetapi saya sudah sampai di tujuan jam 6.30 pagi. Tahu gini saya berangkatnya jam 6.30 saja, haha.. Sepanjang perjalanan, supir taksinya asyik kasih ceramah ke saya soal hidup dan keyakinan kita ke Tuhan. Saya juga diputarkan lagu-lagu rohani. Bukannya tambah semangat, saya malah semakin ngantuk karena kurang tidur 😛

Karena sudah mobile check-in dan tidak ada bagasi, proses recheck-in saya hanya 5 menitan. Bingunglah saya mau napain habis itu. Melipir ke toko buku tapi keluar lagi karena ngantuk. Muterin terminalnya, lihat kesana kemari, akhirnya berakhir dengan duduk manis di bangku penumpang. Akhirnya saya memutuskan untuk lihat blog lewat handphone dan post artikel ini. Tapi itu pun tak bertahan lama, saya benar-benar ngantuk sekali pagi itu.

Drama percintaan dimulai ketika gate F2 dibuka. Saya sempatkan ke toilet di dalam gate sebelum ikut antri untuk masuk ke pesawat. Ramai sih saat itu, tapi saya pikir engga apa-apa, toh kursi 25K saya engga kemana-mana. Sewaktu masuk ke antrian, saya melihat banyak orang diminta kembali ke meja informasi gate tersebut. Saya malas bertanya saat itu, pikir saya mungkin boarding pass orang-orang itu bermasalah.

Boarding pass saya dicek, daaaaan staf Garuda Indonesia minta saya ikut ke meja informasi juga untuk pemeriksaan lanjutan. Loh ada apa ini? Saya mulai uring-uringan secara harus kembali antri panjang di meja informasi itu. Kali ini saya mulai bertanya ke stafnya. Ternyata ya pemirsa-pemirsa, sistem check-in Garuda Indonesia down di pagi hari itu! Jadinya semua data check-in penumpang kosong, termasuk yang sudah melakukan check-in sehari sebelumnya! Aaaaaa, emosi saya mulai naik ke ubun-ubun.

Trus jadinya gimana? Jadinya seat saya berubah dari 25K menjadi 31K, samping emergency door. Saya ngotot tidak mau duduk di emergency door, minta dikembalikan ke seat 25K, tapi katanya tidak bisa karena saya antrian terakhir. Kalau saya antri dari awal mungkin saya masih bisa mendapatkan seat 25K itu. Tambah kesal dan emosilah saya saat itu.

DSC_5468

Hal yang membuat saya tambah kesal, ternyata orang yang ngantri di samping saya mendapatkan seat 25K!! Saya protes donk, kog dia bisa dapat seatnya saya. Staf lainnya mengatakan kalau proses check-in saya dan orang itu bersamaan, jadi seatnya tidak bisa ditukar lagi karena sudah cetak boarding pass baru. D*mn! Akal sehat saya kurang bisa menerima jawaban nyeleneh seperti itu, apalagi orang-orang yang beradu argumen dengan saya adalah para staf dari maskapai kebanggaan negara ini. Sumpah, kesaaaaal sekali! 😐

Saya baru sadar kalau saya orang kelima dari belakang yang masuk ke dalam pesawat. Tidak ada garbarata, semua penumpang harus naik bis dari boarding hall ke lokasi pesawat. Drama tambah komplit ketika kami semua yang tersisa ini harus menunggu sekitar 10 menit di dalam bis. Awalnya kami pikir kalau kami sedang menunggu penumpang lain. Bukan penumpang yang masuk ke dalam bis melainkan dua staf Garuda Indonesia yang masih sempat bercanda dan tertawa cekikikan. Daripada saya sindir dan mereka sakit hati, saya memilih untuk buang muka ketika melihat mereka berdua. Sekali lagi, d*mn!

Saya tidak suka duduk di emergency seat, apalagi seat saya tepat di samping emergency door. Rasanya punya beban tersendiri gitu. Apalagi saya tidak boleh menyimpan barang bawaan di bagian bawah seat depan saya. Bersyukurnya saat itu saya duduk dengan 2 orang penumpang lain yang bernasib sama dengan saya, dan keduanya enak diajak ngobrol. Salah satu dari mereka ternyata temannya teman S2 saya.

Nobody is perfect, nothing is perfect, maskapai yang katanya terbaik di negeri ini pun nyatanya bisa memberikan pelayanan mengecewakan seperti ini 🙂

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

24 Comments

  1. Itu Garuda gimana ya kok data penumpang bisa hilang nggak profesional banget!! Pengalaman ku justru Garuda sering delay malah. Kalau maskapai macam Lion Air udah ga usah diharepin deh. Sekarang seringnya klo pas pulkam malah naik Citilink klo jalan2 ke kota lain. So far harga terjangkau, servis profesional dan selalu on time.

    Like

    1. Hahaha. Baca saja berasa ribetnya ya Mba Chris, apalagi yang mengalami, hiks 😀 Iya tumben-tumbennya Garuda seperti itu. Semoga the first and the last deh. Haha

      Like

  2. Wien, judulnya kayaknya kelebihan tuh. Mestinya CGK PNK aja ya, terus post yang selanjutnya PNK CGK hahahaha *iseng*.

    Anyway, kalau menurut saya, justru banyak banget loh orang yang kepingin duduk di emergency door karena ruang kakinya lebih luas, dan masih lumayan kamu masih bisa terbang (bandingkan dengan Lion Air hehehe). Memang kalau untuk boarding, Garuda masih kurang strict. Contoh nih, kmrn saya naik penerbangan lain (bukan maskapai indonesia tentunya), sama-sama dari CGK juga, staffnya berani say no saat nomer antrian yang dimiliki tidak sesuai dengan yang disebutkan. Jadi masuknya beneran urutan. Anyway, yang penting kamu tiba dengan selamat.

    Like

    1. Ahahaha, sengaja kasih judul begitu ci 😀 Kalau saya memang dari dulu tidak suka di emergency row ci, meskipun ruang kakinya luas, haha.. Betul ci, bersyukur bisa tiba dengan selamat dan tidak kekurangan hal apapun.

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s