Di Balik CNY

Saya selalu menganggap pulang ke kampung halaman merupakan perpaduan antara acara temu kangen dan liburan pendek. Maklum saja, meskipun masih sama-sama tinggal di Indonesia, saya dan keluarga (inti) tinggal di dua kota yang berbeda.
Entah mengapa, liburan pendek itu berasa semakin pendek meskipun saya menghabiskan 2 atau 3 minggu disana. Mungkin karena waktunya benar-benar dimanfaatkan untuk quality time dengan keluarga yah.

Lucunya nih, saya cukup sering merasa menjadi “artis dadakan” jika anggota keluarga lain mengetahui rencana kepulangan saya. Ada yang menawarkan jasa jemput di bandara, ada yang menawarkan makan pagi/siang/malam bersama, ada yang menawarkan jasa antar kemana saja yang saya mau, dan tidak sedikit yang minta jadwal untuk bertemu. Saya sangat bersyukur untuk semua itu, dan hal itu yang membuat saya selalu merindukan mereka semua. “The love of a family is life’s greatest blessing”, isn’t it? 😉

Sejujurnya saya hampir lupa membeli tiket pesawat tempo hari. Harusnya saya sudah mulai ‘berburu’ tiket di bulan Agustus supaya harga tiketnya lebih murah, tapi saya baru ingat di bulan November. Alhasil saya harus rela membayar 2 juta untuk tiket PP saya dari yang biasanya hanya 1 – 1,5 juta 😀 Saya memilih Garuda Indonesia PP. Cerita soal penerbangannya akan publish di post yang berbeda. Harus dijadikan post sih, secara memang benar-benar ada ceritanya, haha..

Saya bukan tipikal orang yang heboh ketika merayakan Imlek. Bagi saya, Imlek itu ajang kumpul keluarga, bertemu dengan orang-orang yang sudah lama tidak bertemu dengan kita, membicarakan banyak hal sambil makan dan tertawa bersama. Beberapa teman saya bahkan sempat bertanya berapa banyak baju/dress yang sudah saya beli, high-heels merk apa yang saya beli, tas merk apa yang saya beli, dll.

Saya baru (ingat) beli 1 baju warna merah marun 3 hari sebelum Imlek, itu pun demi tidak diomelin para tetua seperti tahun-tahun sebelumnya, haha.. Di hari yang sama, saya menemukan rok pendek warna abu-abu dan celana bahan warna cokelat (untuk ngantor) yang sedang discount 80%. Rejeki anak sholehah sekali ya, haha.. Saya mengenakan baju warna merah marun itu, rok pendek warna hitam, sepatu teplek (bisa lihat disini), dan tas selempang warna biru kebanggaan saya di hari pertama Imlek. Jadi engga ada ceritanya beli sepatu dan tas baru 😛

DSC_5532
Red Lilies

Lucunya saya menganggap kepulangan kali ini cenderung seperti ajang refleksi diri. Saya bertemu dengan banyak orang yang mulai/sudah lanjut usia tetapi semangatnya tetap seperti anak muda meskipun sudah mulai dilanda penyakit ini dan itu. Saya juga tertawa kecil ketika mendengar celotehan suami-suami tentang istri-istri yang super cerewet setiap hari. Tertawanya tidak berhenti ketika mendengar istri-istri curhat mengenai kelakuan suami-suami yang semakin tua semakin mirip dengan anak kecil. So, ada yang mulai merasa begitu juga sekarang? 😛

Oh tentunya saya juga tidak lepas sebagai objek pembicaraan. Apalagi kalau bukan soal “kapan menikah?”. Katanya usia saya ini sudah masuk masa-masa matang (buah keleuss), sudah mau 30 tahun, perempuan lagi, jadi harus cepat-cepat menikah. Kali ini saya jawab pertanyaan itu dengan kata-kata “tunggu tanggal mainnya”, dan semua langsung diam 😀

DSC_5507
Salah satu sudut kampung halaman

Kalau ditanya sudah puas atau belum berada disana selama 1 minggu, tentu jawabannya belum puas. Waktu berlalu dengan sangat cepat, hari Minggu segera bertemu Minggu kembali. Entah kalian merasakannya juga atau tidak, tapi saya selalu merasa berada di dalam lingkungan keluarga dekat membuat kita lebih safe dan merasa dimanja. Tidak perlu selalu mengandalkan diri sendiri apalagi selalu berusaha untuk hidup mandiri. But life goes on, saya masih punya tanggung jawab yang harus diselesaikan disini.

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

20 Comments

    1. Hahaha. Jangan ngiler mba. Aku belum bisa masak kayak gitu 😀 Iya pertanyaan itu engga akan pernah lepas dari kita ya. Aku sampai diomelin. Katanya terlalu idealis dan ngejar karir. Wakaka

      Like

  1. senangnya yang pulang kampung, dan makanannya enak-enak semua hehehe.. yach gitu dech kalau ketemu keluarga pasti nga jauh-jauh dari pertanyaan kapan menikah, kapan punya anak dan sejenisnya tapi yang namanya keluarga yach bentuk perhatian yang mereka tau mungkin seperti itu yach? hehehe..

    Like

    1. Senang tapi belum puas mba. Hahaha. Iya mungkin salah satu bentuk atensi mereka seperti itu. Katanya aku harus mikir ke depan karena aku perempuan. Ga boleh ngandalin diri sendiri terus. Jadi objek diceramahin deh. Hahaha

      Liked by 1 person

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s