Slipicon Valley

Ini bukan Silicon Valley yang ada di San Fransisco, Amerika Serikat. Ini juga bukan “rumah” untuk beberapa perusahaan high-tech terkenal di dunia seperti AMD, Adobe, Apple, Cisco, eBay, Netflix, Oracle, Nvidia, Hewlett Packard, Intel, Yahoo!, ataupun Google.

Saya sudah cukup lama mendengar istilah “Slipicon Valley” ini, sekitar pertengahan tahun 2015. Awalnya istilah ini terdengar lucu di telinga saya, kog kedengarannya mirip sama Silicon Valley di USA, apa orang-orang salah ngomong? Ternyata istilah ini memang benar adanya.

“Slipicon Valley” digunakan oleh banyak orang untuk mendeskripsikan daerah Slipi – salah satu wilayah strategis di Jakarta Barat – sebagai daerah pengembangan perusahaan start-up terkemuka di Indonesia.

Tidak jelas kapan istilah “Slipicon Valley” ini muncul, saya juga belum menemukan sumber validnya. Merujuk ke salah satu artikel di Jakarta Post : “It’s a joke among [local] startups that set up their headquarters in Slipi. We have no idea who actually started it”. 

Sekitar 9 bulan yang lalu, saya pernah diundang ke salah satu perusahaan start-up di Slipi untuk wawancara kerja. Saya sempat bertanya “mengapa Slipi mulai berkembang menjadi wilayah yang ‘digemari’ oleh banyak perusahaan?”. Manajer yang berbicara dengan saya saat itu (FYI, beliau adalah WN India) mengatakan bahwa Slipi dianggap masih terjangkau dari segi harga sewa/beli, namun lokasinya strategis ke pusat-pusat bisnis. Jadi engga heran yah kalau jalanan di Slipi bertambah macet sekarang 😛

Artikel di Jakarta Post juga menerangkan bahwa lokasi Slipi dianggap cukup dekat dengan beberapa universitas terkenal di Jakarta, dan hal ini dipandang sebagai sebuah keuntungan untuk perusahaan start-up yang ada disana.

Tidak bisa dipungkiri, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pasar yang sangat besar untuk perusahaan start-up. Apalagi saat ini Indonesia sudah masuk dalam kategori Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Jadi tidak heran jika perusahaan start-up mulai menunjukkan eksistensinya di Indonesia. Kalau kata teman saya, yah wajar kalau Indonesia itu “pasar basah”, wong orang Indonesia konsumtif banget, doyan belanja 😀

Untuk yang belum jelas / belum tahu soal MEA, silahkan baca post Mas Dani disini ya 🙂 *Mas Dani, aku njilih artikelmu yo. Ora mbayar toh?* 

Kalau masuk ke web ini, Traveloka dan Tokopedia merupakan dua perusahaan start-up yang memiliki perkembangan paling signifikan di Slipicon Valley. Saya sendiri kasih jempol untuk dua perusahaan ini karena berhasil membentuk brand awareness dan brand image di otak banyak orang.

Terbukti dengan banyaknya teman-teman saya yang gemar mencari tiket di Traveloka sekarang, serta mencari segala bentuk barang dan pelayanan jasa di Tokopedia. Kalau ditanya “lu beli tiket dimana” atau “barang ini beli dimana”, jawabannya engga jauh-jauh dari Traveloka dan Tokopedia. Colek Mba Puji yang baru pulang dari US ah ah 😛

Engga apa-apa yah kalau saya sebut merk karena saya ngambil langsung dari sumbernya. Sekalian sharing sedikit pengalaman yang memang benar-benar terjadi, bukan rekayasa cerita belaka 🙂

Nah, apakah Slipicon Valley bisa bertahan lama di Indonesia? Kalau menurut saya, jawabannya bisa jika didukung dengan baik oleh semua pihak. Balik lagi, Indonesia sudah dianggap sebagai salah satu pangsa “pasar basah” untuk perusahaan jenis ini, kasarnya apa saja bisa dijual di Indonesia, pasti laku, pasti ada yang beli. Selama segmentasi pasarnya itu ada, Slipicon Valley pasti akan semakin hidup.

Masalahnya, keberadaan perusahaan-perusahaan start-up masih sering dianggap tidak sesuai dengan regulasi pemerintah, baik yang sifatnya lokal dan nasional. Saya pribadi berharap pemerintah segera membuat regulasi yang sifatnya win-win solution untuk keberadaan perusahaan sejenis start-up ini. Masih ingat dengan kasus taksi dan ojek online yang mau ditutup oleh Kemenhub tempo hari? Sekarang yang mulai jadi masalah adalah keberadaan Netflix di Indonesia. Update terbaru, Kemenkominfo akan mengeluarkan aturan untuk Netflix di bulan Maret 2016.

Oke, sekian postingan kali ini. Happy Friday! Let’s start the weekend!

Featured Image = http://www.slipiconvalley.net/about/

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

34 Comments

  1. Wow, hat off. Keren banget kamu malahan bahas Slipicon Valley hehee… Slipicon Valley udah disebut2 ketika Toped mau pindah ke Slipi dan ternyata makin banyak start up sekitar sini jadilah Slipicon Valley bener2 nyata :p

    Like

  2. Gw mah seneng banget Wien kalo artikel dilink. Hihihi. Ini gw yang kudet kali ya ga tahu Slipicon Valley tapi kalo daerah sana tempat tumbuhnya startup sudah ngeh dari lama. Hihihi. Semoga bisa selalu berkembang jadi kawasan yang melahirkan perusahaan-perusahaan besar Indonesia ya.

    Like

    1. Yuhuu, makasih Mas Dani. Engga kudetlah, buktinya mas tahu disana itu tempat tumbuhnya start-up companies, haha.. Iya mas, semoga daerah disana bisa benaran jadi Silicon Valleynya Indonesia

      Like

    1. Wah, sesekali Mba Nita kudu diculik naik busway ni 😛
      Wilayah Palmerah mba, jalan S.Parman situ, bisa mengarah ke Gatot Subroto. Tahu Mall Taman Anggrek ga? Atau RS Dharmais? Slipi engga jauh dari sana.

      Like

  3. Main kerumah mu ini langsung mataku tertuju ke artikel ini, secara lagi baca buku tentang Innovators, nah start-up ini hasil dari inovasi jadi langsung deh pengen baca, ah kece deh artikelnya,, senang membacanya thanks yaa , aku baru tau tentang Slipicon Valley.

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s