Gen vs Tech

Tadi pagi ada 1 teman baik yang lagi grumble di salah satu group WhatsApp. Jadi ceritanya teman saya ini baru habis kirim email ke staf-stafnya untuk minta progress proyek yang sedang mereka kerjakan, dan emailnya dibalas seperti ini :

K. Tx bu.
R, (nama staff)

Kalau dibaca secara normal, isi email itu adalah “Okay, thank you bu. (Best) Regards, (nama staff)”. Teman saya itu benaran kesal sekali dengan balasan email stafnya itu sedangkan kami semua tertawa di group 😀

Teman saya juga cerita kalau stafnya itu dianggap sebagai “si pendiam” di kantornya, tetapi nyatanya “si pendiam” ini suka posting apapun di Facebook dan Twitter, mulai dari kehidupan pribadi sampai soal kerjaan. Update status di BBM juga tidak dilewatkan. “Si pendiam” ini sudah ditegur oleh teman saya dan atasan teman saya, tapi sepertinya dia penganut aliran “masuk kuping kanan keluar kuping kiri” 😀

Pembicaraan kami di group berlanjut dengan membandingkan kehidupan masa kecil yang kami lewatkan dengan kehidupan sekarang yang kami jalani, dimana semuanya serba leaning on technology, even bayi dan balita jaman sekarang pun sudah dikenalkan dengan gadget.

Hampir semua hal dibuat secara cepat dan praktis. Hampir semua orang bisa mengenali kita dan mengetahui apa saja yang kita lakukan setiap hari. Hampir segala hal di dunia ini terhubung satu sama lain, no boundaries at all. Nobody’s wrong, kecanggihan teknologi sama dengan hal lainnya, mempunyai sisi positif dan negatif. Semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing.

Kami pun membahas tentang #ThisGeneration yang ramai dibicarakan banyak orang beberapa bulan ini. Bukan tentang Ajit Johnson, pencipta trend ini yang sedang melanjutkan studi Ph.Dnya (yes, he is pursuing his Doctor of Philosophy in cancer genetics and genomics at Edinburgh, you can find it here or here), tetapi tentang seri #ThisGeneration yang dibuatnya. Menurut kami, #ThisGeneration memang fakta yang terjadi saat ini.

Note : Photos of #ThisGeneration are taken from Google Images

Saya sendiri punya pengalaman mengajar di salah satu SMP internasional di Jakarta Utara. Hanya 1-2 orang siswa yang membawa pulpen dan buku tulis, sisanya membawa laptop dan pocket camera untuk memotret tulisan saya di whiteboard. Saat itu saya merasa seperti seorang artis, hahaha..

Saya ngaku kalau saya ini termasuk orang yang cukup fakir WIFI tetapi hanya di tempat-tempat tertentu dan jika memang diperlukan saja. Mostly WIFInya digunakan untuk update atau download sesuatu yang sizenya besar. Hal lain yang saya akui adalah soal Google. Sejak ada situs satu ini, saya termasuk orang yang suka mencari segala sesuatu disini dan menerapkan hal serupa ke orang lain. Jadi kalau ada yang nanya ini apa, itu apa, saya sering menyarankan orang tsb untuk googling dulu 😛

Saya dan teman-teman juga kurang suka menerima undangan via Facebook karena kesannya kurang sopan. Maafkan sok idealisme kami ini yah 😀 *peace*

Segala sesuatu memang menjadi serba cepat dan mudah untuk dilakukan, tetapi bukankah semuanya itu bisa mengikis common sense seseorang? Saya dan teman-teman juga kurang suka bertemu seseorang yang lebih konsentrasi dengan gadgetnya daripada dengan lawan bicaranya.

hi
http://www.photosjoy.com

Disini, Ajit mengatakan bahwa “the true purpose of technology is ‘to use’ and ‘not get used’ by it. Semakin banyak orang yang beranggapan jika “baterai HP kosong” atau “tidak ada sinyal” tidak jauh berbeda dengan mimpi buruk, padahal sebenarnya life goes on kan? 😛

choose wisely
http://www.photosjoy.com

What do you think about this? How addicted are you to technology?

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

15 Comments

  1. hahaha to use and not to get used by, ini rancu sebenernya. apa batasannya? 😀
    apa orang yang setiap saat posting di twitter artinya di get used sama teknologi? kalo emang dia melakukannya dengan sadar, tanpa paksaan dan dia jadi happy karena itu ya berarti emang dia yang use teknologi kan (in order to give them hapiness :D).

    Like

    1. Hahaha, kritis benar si commentnya ko 😛
      Kalau menurutku, batasannya ya hanya kita yang tahu karena sifatnya relatif. Selama kita masih dianggap engga addictive dan masih sadar dengan kondisi di sekitar kita, masih okelah 😛
      Kalau postingannya bikin happy tapi membuka celah banyak hal (contohnya stafnya temanku yang suka posting soal kantornya), aku rasa itu bukan hal yang bijak.

      Like

  2. Saya termasuk yg cukup addict, karena hidup di perantauan saya butuh banyak informasi dan hiburan tentunya..hehehe.. tetapi kita harus pintar2 dalam pemakaiannya, harus tahu batasan, harus tahu waktu, tempat dan situasi. Saya juga kurang suka apabila lagi ngobrol dengan seseorang dan orang tsb sibuk dengan gadgetnya.. 😀

    Like

    1. Iya mba, sebaiknya kita tahu batasan untuk diri kita sendiri karena sesuatu yang berlebihan biasanya tidak baik, hahaha.. Wah, aku benar-benar engga suka mba, seolah-olah ketemu sama patung, mendingan engga usah ketemu sekalian, hahaha..
      Merantau dimana mba, btw?

      Like

  3. Hai Wien, salam kenal ya. Komen pertama disini karena bahasannya menarik. Teknologi dibuat untuk memudahkan manusia ya. Jadinya sekarang juga segalanya serba instant, saking terlalu mudahnya. Teknologi bisa menjadi baik atau buruk hanya masing2 individu yang bisa mengendalikan. Sampai ada joke yang mengatakan bahwa sekarang dunia hanya sepanjang telunjukmu. Aku beberapa waktu ini sudah mengurangi social media. Aku deactive FB (entah sampai kapan, sedang berpikir untuk mendelete), sudah beberapa hari tidak menengok IG. Sekarang hanya twitter dan blog. 2 itu sudah cukup untuk sekarang.

    Like

    1. Hai mba Deny, salam kenal juga, thank you sudah baca and comment disini, aku sering baca-baca blognya mba juga, hehe..
      Iya mba, teknologi sebenarnya dibuat untuk membantu manusia, tetapi manusia seringkali lupa dengan efek enak dari teknologi tsb, seringkali kebablasan dan lupa kalau mereka adalah manusia yang butuh interaksi dengan manusia lain juga.
      Nah, ada beberapa temanku yang deactivate account FBnya juga, katanya sedang “detox” supaya engga “addicted”, haha.. Aku pribadi hanya punya IG, blog, Twitter, dan Facebook.

      Like

  4. Kalau dilihat dari gambar-gambar di sana, dan kalau dijadikan indikator, saya sih kayaknya mulai terjangkit juga tapi masih dalam batas yang wajar :hehe. Nggak yang fakir wifi banget, cuma sehari mestilah ada cek WA atau sosial media. Yah kalau menurut saya sih kita membentengi diri sendiri ya, membatasi diri sampai sejauh mana mau terlibat dengan socmed. Yang ditampilkan oleh Mas Ajit itu (:haha) menurut saya masih contoh ekstrim sih, yang meski bukan tidak mungkin, tapi bisa jadi pagar supaya tidak kebablasan jadi generasi sosial media.

    Paling nggak, saya kalau whatsapp-an masih panjang-panjang banget :haha (apalagi kalau ngomongin orang :haha *salahfokus*).

    Like

    1. Ciyeh, comment pertama dari rumah baru yah Bli, hahaha 😛
      Semua yang Mas Ajit (Bro keles, hahaha) ilustrasikan itu memang bukan tidak mungkin terjadi karena beberapa hal sudah dialami oleh orang terdekatnya saya. Misalnya soal gadget ke baby. Ada beberapa anaknya teman yang engga mau playing with dolls dan lego karena sudah ketagihan dengan iPad papanya, padahal masih 2 tahun.
      Kog engga WhatsAppan sama saya si? (*salahfokusjuga*) 😀

      Liked by 1 person

  5. Anakku udah dibatesin banget pake gadget. Sempet beberapa bulan yang lalu dia kecanduan main tablet n smartphone. Aku pikir dengan install games khusus toddler aja di 2 gadget itu bakal bikin dia pinter, ya. Tapi ternyata malah bikin kecanduan, sampe kalo dipanggil kepalanya nengok tapi pandangannya gak lepas dari gadget. Akhirnya mulai beberapa minggu ini gadget disembunyiin. Anaknya sempet cranky nyariin, tapi lama-lama bisa lupa dan nyari kesibukan lain. Sekarang suka diputerin lagu anak-anak dan lagu daerah, tau-tau vocabnya nambah banyak banget. Langkah tepat banget nih nyembunyiin gadget dari toddler.. 🙂

    Like

    1. Hai mba Mey, thanks sudah mampir, hehe.. Kalau menurut saya dan teman-teman, sebenarnya engga masalah jika anak dikenalkan pada gadget selama ortu bisa membuat batasannya, soalnya ada penelitian kalau anak yang terlalu adiktif dengan gadget cenderung antipati dengan lingkungan dan bisa autisme. Syukurlah jika si kecil sudah tidak cranky yah mba.

      Liked by 1 person

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s