Lanjut Studi

Saya bersyukur mempunyai seorang ibu yang menganggap pendidikan adalah hal terpenting dalam kehidupan seseorang. Entah itu adalah pandangan pribadinya atau ungkapan kekesalannya karena tidak diijinkan (alm) kakek untuk “mencicipi” bangku kuliah, yang jelas mami ingin anak-anaknya bisa mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya.

Ketika saya mengutarakan impian untuk melanjutkan studi ke jenjang Magister, mami sangat mendukung. Mami bahkan mengijinkan jika saya melanjutkan studi ke jenjang Doktoral, setidaknya saya tidak perlu minggat :p

As I’ve posted in heresaya tidak pernah bercita-cita untuk tinggal di Jakarta dan tidak berencana untuk kuliah di kampus swasta. Saya memilih SMA negeri supaya bisa tembus jalur PMDK UI. Mami yang awalnya setuju berubah menjadi tidak setuju dengan alasan saya tidak punya famili di Depok. Meskipun awalnya berdebat dengan mami tetapi saya manut juga sebab – katanya – saya belum menjadi seorang ibu 🙂

Toh saya tetap bisa kuliah di Jakarta dengan beasiswa yang saya dapat di SMA. Apakah saya menyesal? Not at all. Saya selalu percaya Tuhan selalu memberikan jalan terbaik untuk kita. In His way, of course. Pada akhirnya, saya bisa menyelesaikan jenjang Sarjana saya dalam waktu 3,4 tahun dengan IPK memuaskan. Sebelum sidang skripsi, saya ditawarkan pihak kampus untuk lanjut ke jenjang Magister yang akan dimulai 2 bulan setelah saya lulus sidang skripsi.

Saya ditawarkan 2 jenis beasiswa, full scholarship tetapi ada ikatan dinasnya atau half scholarship tanpa ikatan dinas. As the decision, I took the half scholarship program supaya tidak ada ikatan apapun, dan mengajukan sisa pembayaran kuliahnya dengan cicilan. Puji Tuhan semua diterima oleh pihak kampus.

Saya sempat ditawarkan untuk masuk ke Magister Ilmu Komputer tapi saya langsung menolaknya. Selain karena dunia komputer bukan jiwanya saya, saya juga kurang menyukai eksakta meskipun saya bisa. Alasan ini juga yang membuat saya mengambil IPS waktu SMA dulu, dan saya bangga jadi anak IPS! Ada anak IPS disini? 😀

Keputusan untuk melanjutkan studi ke jenjang Magister hanya didukung oleh mami saya. Anggota keluarga dan teman-teman dekat mami sangat ragu saya bisa menyelesaikan studi itu dengan baik. Saya dianggap masih terlalu muda untuk S2, terlalu kecil untuk menguasai ilmunya, S2 itu sulit, S2 itu “makan” biaya besar, harusnya saya ini fokus dengan karir, fokus dengan calon suami, napain kuliah tinggi-tinggi kalau hanya kerja di dapur dan mengasuh anak di rumah nantinya, and bla bla bla…

Kamu kesal engga, Wien? Jujur, saya sempat kesal maklum masih muda waktu itu. Saya kesal karena orang-orang yang saya anggap dekat dengan saya selama ini justru meremehkan saya. Di sisi lain, saya kesal karena mereka tidak bisa berpikiran lebih positifSaya paling engga suka kalau ada yang bilang “napain kuliah tinggi-tinggi kalau hanya kerja di dapur dan ngasuh anak nantinya”. Tapi di balik semua ini, saya bersyukur punya mami yang selalu mendukung anak-anaknya.

1b_MM - Copy
Sesi lempar topi wisuda S2

Saya sempat kesal tetapi tidak peduli dengan semua pendapat tsb. Orang lain memang boleh berpendapat tetapi tidak berarti hidup kita dikendalikan oleh pendapat mereka. Pada akhirnya, saya bisa lulus tepat pada waktunya dengan IPK lebih memuaskan daripada IPK S1.

And for your information, orang-orang yang awalnya meremehkan saya berbalik menggunakan “status S2 saya” ketika berbicara dengan orang lain yang mengenal saya. Contohnya : “Eh, si Wien baru lulus S2 loh. Nilainya sempurna, di Jakarta pula. Hebat yeh keluarga gue. Wien kan masih masuk keluarga jauh gue dari pihak papa, generasi keberapaaa gitu”.

Saya hanya bisa ketawa miris ketika mendapat laporan semacam itu. Kasarnya saya dicemooh (selama S2) sekaligus dipuji juga (sesudah S2). But honestly, I don’t need their recognition. Melihat mami bangga sudah lebih dari cukup 🙂

Ada kalimat yang sering mami bilang sejak dulu, dan saya sangat menyukainya. Let me share it to you. “Meskipun seorang wanita dikodratkan Tuhan untuk menjadi pendamping pria dan ibu dari anak-anaknya, tetapi pendidikan itu hal utama, terutama untuk wanita. Itu modal kamu untuk hidup. Kamu harus ingat, meskipun kamu akan sibuk masak di dapur, nyetrika pakaian suami, nyapu rumahmu, tetapi kamu yang akan lebih banyak berinteraksi dengan anakmu nanti. Mami tidak mengatakan wanita yang tidak sekolah itu bodoh, tetapi jangan lewatkan kesempatan untuk sekolah tinggi-tinggi supaya kamu bisa menjadi wanita dan ibu yang cerdas”.

aristotle

http://www.thequotepedia.com

Akses beasiswa untuk berbagai jenjang dan jurusan lebih mudah didapatkan saat ini. Saya sendiri sempat ditawarkan jenjang Doktoral oleh salah satu kenalan, tangan saya juga sempat gatel banget mau apply di Erasmus atau LPDP, tapi saya memutuskan untuk fokus di karir dulu saat ini, meskipun mami masih mendukung saya untuk lanjut studi.

Tapi buat kamu yang sedang galau mau lanjut studi atau tidak, jangan kelamaan galau yah. Percaya deh, pendidikan itu akan membuat hidup kita lebih baik dari banyak sisi. Good luck! 🙂

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

14 Comments

  1. Makasih buat couragement-nya Mbak. Pendidikan mah buat siapa saja, laki-laki atau wanita sama saja, semua orang bisa dan berhak buat berprestasi kan :hehe. Tapi memang ya, orang baru mengaku-ngaku keluarga kalau kita punya prestasi, giliran sudah punya aib tak ada yang mau mengakui, bahkan orang dengan hubungan darah terdekat. Semangat terus Mbak, kejar ilmu sampai ke langit!

    Like

  2. wahh hebatt euy wien…..masih muda semangat tinggi yaa..btw, saya anak IPS dan kagak nyesel ambil IPS ( lhaa, emang otaknya gak cocok eksakta ..hihihihi). congrats yaaa anyways udah S2 nihh yee…

    Like

  3. Wien jurusannya apa pas kuliah? Kalau jurusan akuntansi, temen-temen saya yang masuk UI dan excel di bidang akuntansi itu justru anak IPA loh, bukan anak IPS. Dan saya juga anak IPA pas sekolah dulu tapi masuk akuntasi pas di kuliah hehe. S1 atau S2 itu in the end nanti pas kerja baru ketauan kualitasnya, dan ke depannya pengalaman kerja itu yang bakalan jadi resume kamu bener-bener untuk meniti karir. Good luck untuk ke depannya ya.

    Like

    1. Iya ci, anak-anak IPA (entah kenapa) banyak yang nyasar ke Akuntansi, haha.. Wah cici malah kebalikannya yah 😀
      S1 saya Corporate IS ci, S2nya MM. Iya ci, kualitasnya baru teruji ketika masuk di dunia kerja, ’cause that’s the real life.. Thank you for your support ci :*

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s