Review Still Alice

Sebenarnya review film ini mau saya publish pada tanggal 21 September 2015 yang bertepatan dengan World Alzheimer Day atau Hari Alzheimer Sedunia. Tetapi karena saya off selama 2 bulan, review ini pun ikutan menjadi salah satu draft. So well, let me finish it. It’s better late than never, isn’t it? 😉 

Film ini dibuat berdasarkan novel dengan judul yang sama. Saya sempat mencari bukunya di beberapa toko buku tetapi belum berhasil menemukannya, jadi saya tidak tahu apakah alur film ini sesuai dengan isi novelnya atau tidak. Ada yang sudah punya bukunya? Anyway, sutradara dan penulis skenario film ini adalah suami istri bernama Richard Glatzer dan Wash Westmoreland.

Film dimulai dengan acara ulang tahun ke-50nya Alice Howland (Julianne Moore), seorang doktor linguistik dari Universitas ColumbiaAcara makan-makan itu dihadiri oleh suaminya (Alec Baldwin), anak pertamanya Anna (Kate Bosworth) dan suaminya, anak laki-lakinya Tom (Hunter Parrish), minus kehadiran Lydia (Kristen Stewart) yang tinggal di LA.

Situasi yang awalnya baik-baik saja mulai mengalami perubahan ketika Alice merasakan ada yang berbeda dengan dirinya. Ketika memberikan seminar di kampus, dia lupa dengan kata yang harus dia sebutkan, seolah-olah kata tsb tidak terlintas di otak. Di hari yang sama, Alice menyempatkan ke LA untuk bertemu dengan Lydia, dan  masih menyempatkan diri untuk jogging di sore harinya. Akan tetapi, Alice lupa arah untuk pulang ke rumahnya, pandangannya menjadi tidak jelas (kabur), dan dia mulai susah bernafas normal.

wk-still0116 Alice lupa arah pulang (www.washingtonpost.com)

Dengan kondisi seperti itu, Alice memutuskan berobat ke dokter neurologist. Dokter sempat bertanya apakah Alice mengonsumsi suplemen khusus. Alice menjawab hanya minum vitamin, kalsium, iron, minyak flaxseed, serta pil tidur selama travelling. Dokter juga menanyakan apakah Alice mempunyai luka di kepala dan mengalami stress. Alice menjawab tidak. Selanjutnya, dokter minta Alice untuk mengingat dan mengulang nama serta alamat yang disebutkan, mengeja “water” dan “retaw”, dan menyebutkan benda yang ditunjukkan. Alice lolos tes.

Alice mulai melatih mengingat kata-kata. Dia menuliskan beberapa kata di papan tulis, menutupnya dengan kertas, dan mencoba mengingatnya selama beberapa menit. Ketika alarm berbunyi, dia akan mencocokkan jawabannya dengan kata-kata yang ditulis. Jika benar, dia akan menghapus kata-kata tsb dari papan tulis.

Alice masih mampu mengingat kata-kata tetapi  dia mulai melupakan beberapa hal lain, misalnya resep bread pudding favorit keluarganya, dan mulai lupa jika dia sudah berkenalan dengan seseorang.

alice4 Alice sedang googling resep bread pudding ( www.indiewire.com)

Atas saran dokter, Alice menjalani MRI. Hasil MRInya baik tetapi dokter tidak cukup yakin dengan hasil memorinya sehingga dokter menyarankan Alice untuk mengambil PET untuk mengetahui apakah Alice menderita Alzheimer dini. Alice memang masih muda untuk penyakit ini, tetapi kriteria Alice mengarah ke penyakit tsb. Pada akhirnya, dokter mengatakan bahwa Alice menderita serangan awal Azheimer.

Alice mulai merasa tertekan, mulai merasa tidak berguna, mulai merasa otaknya tidak berfungsi, dan mulai merasa bahwa segala sesuatu yang dia raih selama ini akan sirna dalam sekejap. Dia mulai kesulitan mengajar di kelas, mulai kesulitan menemukan silabus di laptop, mulai lupa dengan appointment, dan mulai berharap untuk menderita kanker daripada Alzheimer.

Alice semakin tertekan ketika mengetahui bahwa penyakitnya merupakan penyakit turunan dari orangtua, dan dia berpotensi “mewariskan” penyakit tsb kepada anak-anaknya. Lewat hasil tes diketahui bahwa Anna positif dengan penyakit ini, Tom negatif, dan Lydia tidak mau tes karena takut dengan hasil positifnya. Anna sedang mengandung bayi kembar, dan menurut dokter bayi Anna tidak berpotensi untuk Alzheimer.

alice6
Alice tidak fokus mengajar di kelas (www.theskinny.co.uk)

Alzheimer membuat Alice harus rela kehilangan pekerjaannya sebagai dosen. Banyak mahasiswa memberikan kritik kepada pihak kampus bahwa mereka mulai risih dengan gaya mengajar Alice. Alice dianggap sering tidak masuk kelas dan tidak fokus ketika mengajar.

Meskipun Alice sudah tahu tentang penyakit yang menyerangnya, dia tetap berusaha untuk melawan penyakit tsb dengan rutin berolahraga dan membuat pertanyaan sederhana di HP, misalnya nama anak-anaknya, alamat rumah, dan bulan kelahirannya. Hanya saja Alice sempat membuat video yang intinya jika Alice nantinya sudah tidak mampu mengingat semua jawaban dari pertanyaan tsb, Alice dapat minum obat yang terletak di laci mejanya. Obat tsb akan membuat Alice tidak bernafas lagi. Di finishing plot diceritakan bahwa Alice tidak minum obat-obatan tsb.

Alice sempat menjadi pembicara dalam sebuah acara untuk penderita Alzheimer. Dalam acara tsb, Alice membaca pidato yang dia buat selama 3 hari. Alice mencetak isi pidatonya dan membacanya dengan menggunakan bantuan stabilo. Terdapat kalimat yang menyentuh dari isi pidato tsb. “And please, do not think that I’m suffering. I’m not suffering. I’m struggling. Struggling to be a part of things, to stay connected to who I once was. So, ‘live in the moment’, I tell myself. It’s really all I can do. Live in the moment, and not beat myself up too much for mastering the art of losing.”

alice2       Alice berpidato di acara Alzheimer (www.post-gazette.com)

Seiring berjalannya waktu, Alice mulai dikuasai oleh penyakit ini. Dia mulai melupakan banyak hal rutin seperti ke toilet, penurunan daya ingat, lupa menyimpan HPnya dimana, lupa cara mengikat sepatu, lupa cara mengganti pakaian sendiri, lupa dengan kampus Columbia, lupa dengan rasa es krim yang dia suka, dan lupa dengan orang lain termasuk anggota keluarganya sendiri.

Meskipun seluruh anggota keluarganya mendukung proses yang dilalui Alice, namun suami Alice sulit menerima kenyataan bahwa Alzheimer sudah merubah istrinya secara keseluruhan. Dokter mengatakan kepada suami Alice untuk tidak kehilangan harapan (“don’t lose hope”). Suaminya menerima job offer dari Mayo Clinic di Minnesota dan dia bersikeras untuk pindah kesana, meskipun Alice ingin suaminya menunda hal tsb.

alice3 Lydia merawat Alice (www.indiewire.com)

Ketika suaminya memutuskan untuk pindah, Lydia datang dari LA untuk tinggal di rumah Alice dan merawat Alice bersama pembantu mereka yang bernama Elena. Di ending plot, ada sebuah adegan yang menyentuh. Lydia membacakan cerita untuk Alice dari sebuah buku. Sebenarnya Alice tidak mendengarkan cerita tsb dengan jelas, namun ketika Lydia menanyakan Alice mengenai intisari dari cerita tsb, Alice menjawab : love”.

I have watched this movie for times! Saya suka dengan alur ceritanya, dengan gaya para pemainnya, dengan suasana yang diciptakan dalam film ini, bahkan dengan lagu penutupnya “If I Had A Boat” yang dinyanyikan oleh Karen Elson. Saya tersentuh dengan isi pidato Alice di acara Alzheimer. Saya juga tersentuh dengan keakraban antara Alice dan Lydia. Lydia memang tidak dekat dengan Anna dan Tom, tetapi dia memiliki “romantisme ibu dan anak” bersama Alice. Lydia mampu menjadi sahabat Alice. Alice mampu menjadi ibu sekaligus sahabat Lydia.

Saya salut dengan peran Julianne Moore. Dia mampu memerankan gaya seorang akademisi yang menderita Alzheimer dengan sangat baik. Dikatakan disini, “she spent four months training for the film, by watching documentaries on the disease and interacting with patients at the Alzheimer’s Association.” Tidak mengherankan jika dia menerima banyak penghargaan lewat film ini. Sebut saja Academy Award, BAFTA, dan Golden Globe.

Untuk info lainnya mengenai Alzheimer, kamu bisa klik disini.

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

12 Comments

  1. Gw dari awal udah ragu mau nonton film ini karena takut sedih banget. Karena buat gw paling sedih itu melupakan dan dilupakan. Hiks. Dan baca ini mengonfirmasi kalo gw ga akan nonton.. Makasih ya Wien 🙂

    Like

    1. Sepertinya bukan berdasarkan kisah nyata Ge. Bukunya hanya novel biasa tapi respon penjualan bukunya luar biasa. Kalau ditelusuri lebih lanjut, authornya memang seorang neuroscientist.
      Iya Ge, Alzheimer memang salah satu penyakit dementia yang menakutkan karena menyerang secara perlahan namun akibatnya sangat fatal.

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s