Cerita Dua Bulan

Off 2 bulan dari blog, saya melewati hari-hari dengan begitu banyak aktivitas dan peristiwa. Serius, banyak banget, dari yang bisa membuat saya tertawa bahagia, tertawa geli, tersenyum miris, tepuk jidat jenong, khawatir cukup berlebihan, tidur tidak nyenyak, sampai menitikkan air mata. Tetapi bukankah semua hal itu yang (sebenarnya) membuat hidup kita lebih berwarna? 😛

So well, saya akan berbagi beberapa cerita di post kali ini. Selamat membaca 🙂

Teman minggat. Kog bisa? Jadi ceritanya ada teman (cowo) yang minggat dari rumahnya karena dia tidak diijinkan oleh papa mamanya untuk melanjutkan studi di Eropa. Ini serius, teman saya benaran minggat 1 minggu tanpa bisa dihubungi oleh siapapun.

Dia berencana melanjutkan studi S2 di Eropa, tetapi kedua orangtuanya merasa bahwa umur 27 tahun itu sudah terlalu tua untuk studi (oh om dan tante, umur saya juga segitu, dan saya belum tua kog *membeladiri*). Beliau berdua berpikir lebih baik teman saya meneruskan usaha keluarga atau kerja dengan orang lain sambil mencari istri karena dia belum mempunyai pacar. IMHO, tidak ada yang perlu disalahkan disini, it’s all about communication without ego and emotion.

via www.health.liputan6.com
via http://www.health.liputan6.com

Minta Hadiah Spesifik. Ada temannya teman saya yang mau married sebentar lagi. Sebut saja namanya A. Enam bulan sebelum hari H itu, si A sudah minta 7 orang temannya untuk membelikan hadiah ini dan itu. Awalnya 7 orang itu merasa fine karena A dianggap dekat dengan mereka, tapi pada akhirnya 6 dari 7 orang itu semakin merasa risih sebab permintaan si A terlalu spesifik.

Misalnya ni, si A minta si B beli tas. Tasnya itu harus Fossil engga boleh Charles and Keith. Awalnya si B sudah oke dengan permintaan si A, tapi pada akhirnya si B menjadi kesal sendiri setelah si A minta dibelikan Fossil item ini dan warna itu. Si B dan teman-temannya semakin bertambah kesal ketika si C (1 dari 7 orang yang tidak merasa risih) menyetujui semua yang diminta oleh si A. Well, this is real, it’s happening. Apakah kalian pernah mengalami kejadian serupa seperti ini? 😛

via www.huffingtonpost.com
via http://www.huffingtonpost.com

Makanan Sehat vs Gorengan. Saya bukan pecinta gorengan. Saya hanya suka tempe dan bakwan goreng, itupun yang minyaknya sedikit. Saya selalu berusaha untuk makan sebersih dan sesehat mungkin. Definisi “sehat” di mata saya adalah air hangat, teh hangat, madu, rebusan, kukusan, tim, sayur, buah, organik, herbal, rempah, no susu, no gula, kurangi lemak, kurangi minyak, kurangi goreng, no mentega, no es kecuali es krim, apa lagi yah?

Saya tidak diet, masih chubby begini juga, tapi saya hanya berusaha hidup sehat. Setidaknya waktu ke internist, dokternya mengatakan organ dalam saya baik semua, tidak ada jejak bolongan atau batu, permukaannya mulus. Saya juga tidak perlu beli berbagai jenis perawatan muka dan tubuh. Pencernaan juga lancar jaya setiap pagi hari. Dengan asuhan seperti itu sejak kecil, saya kerap kali dianggap aneh oleh orang banyak.

Banyak yang tidak terbiasa melihat saya minum jus tanpa gula, susu, dan es. Banyak juga yang tidak terbiasa melihat saya makan roti gandum hampir setiap hari. Jadi ketika saya sedang ingin makan gorengan tempe, banyak orang yang langsung merasa surprise dan langsung membicarakan saya, hahaha.. Bahkan ada teman yang mengatakan kalimat seperti ini : “noh, lu lagi diomongin sama mereka gara-gara beli tempe tadi, jadi trending topic dah” 😀

via www.santeaja.com
via http://www.santeaja.com

Sekian ceritanya, guys. Stay tune for the next post. Jika mau berbagi pendapat, silahkan ketik di kolom komentar yah.

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

26 Comments

  1. Bikin wishlist wajar sih emang, tapi kalo sampe spesifik banget belom umum memang ya. Hihihi. Kami sih pernah bikin buat waktu lahiran. Spesifik stroller merek ini. Tapi warna diserahkan ke yang kasih dan itupun buat temen seangkatan. Buat temen yang kabur.. Well itu emang masalah komunikasi sih. Kalo soal makanan: salut! 😀

    Like

    1. Kalau menurut saya dan teman saya, hal seperti ini bisa jadi umum seiring dengan semakin sulitnya mencari penghasilan. Jadi kesannya seperti mencari kesempatan (dapat barang bagus) di dalam kesempitan (dompetnya orang lain). Hahahaha…
      Teman seangkatannya berapa orang mas? Kalau semakin banyak yang patungan sebenarnya engga apa-apa, jadi tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
      Yuh, jangan salut dulu mas, masih chubby banget ini. Hahahaha

      Like

  2. Yg soal hadiah itu agak aneh sih ya sebenarnya haha. Kecuali yg mau kasih hadiah nanya ya mau dikadoin apa. Aku belon pernah punya temen kayak gt sih.

    Hidup sehat emang penting koq, sesekali bakwan bolehlah ya 👍

    Like

  3. Ya hidup sehat kan demi kebaikan diri sendiri, jadi masa bodoh sih yang lain mau bilang apa, badan kan badan sendiri ini. Kalau mereka mau beli gorengan ya belilah, kalau tak mau makan ya jangan makan, gitu saja kan tak usah repot yah :hehe.
    Cuma… drama memang banyak dan terjadi di mana-mana yah. Kalau saya sih ogah banget dengan orang yang demanding kayak begitu–semacam belum berpikir bagaimana kalau dirinya ada di posisi yang dimintain ini itu. Soal pemberian kan tergantung yang memberi, kalau saya masih syukur ada yang mau memberi :hehe.

    Like

    1. Iya Bli. Untungnya saya tipikal orang yang cuek. Justru saya berterimakasih karena masih ada yang mau bicarain saya. Artinya otak mereka sedang memikirkan saya. *kipasrambut* Hahaha..
      Seharusnya memang seperti itu Bli tetapi sepertinya orang-orang jaman sekarang sudah tidak (mau) peduli dengan hal posisi orang lain apalagi soal rasa syukur.

      Liked by 1 person

      1. Haha iya, bersyukur banget masih ada yang peduli, ketimbang tak ada yang mau melihat apa yang kita lakukan?
        Dan, mari tidak menjadi orang-orang seperti itu :)).

        Like

  4. Welcome back! Kalau temen ada yg kabur karena gak dikasih kuliah sih ga ada. Tapi kalau ngambek dan sampai berantem sama orang tua, itu ada banget. Especially krn temen ini kokonya udah sekolah di LN duluan, terus adiknya ini maksa minta sekolah di LN juga padahal ortunya bilang kalau nggak kuat untuk support dua-duanya. Nah, dalam kasus temanmu ini, ortunya ada keberatan biaya gak? Kalau ngga sih menurutku kasih aja lah anaknya sekolah lagi. Emangnya gak bs ketemu jodoh di LN?

    Kalau hadiah, saya gak pernah minta sama org. Tapi kalau org mau insist kasih saya hadiah, saya akan milih yang spesifik, or else mentahnya aja. Sekarang, yang bikin gak rela itu, karena terlalu spesifik, atau karena harganya mahal? Kalau karena harganya mahal, ya bilang dari awal kalau gak masuk budget. Kalau kelewat spesifik dan gak masalah soal biaya, menurut saya malah bagus, daripada beli tapi gak disukain temennya.

    Like

    1. Hai Ci Leony! Apa kabar?
      Teman saya mau coba apply beasiswa supaya tidak memberatkan ortunya, tapi memang si ortu punya mindset kalau anak cowo 27 tahun seharusnya sudah berkeluarga dan tidak studi lagi.
      Kalau soal hadiah, kata teman saya soal duitnya ci, soalnya teman-temannya yang lain merasa barang yang diinginkan si A itu jauh lebih mahal harganya, bedanya hampir 2 jeti, haha..

      Like

    1. Hai Kak Christa! Apa kabar?
      Iya kak, sebisa mungkin belajar makan dan hidup sehat, bukan demi diet tapi demi kebaikan kita sendiri.
      Kalau saya memang engga doyan makanan manis kak. Kalau kakak kurangin gula karena apa?

      Like

      1. Baikk Wien, kamu gimana?

        Iya bener buat kesehatan yah hehe kalau sehat bawaannya enak dan badan pasti jd seger 😀

        Aku doyan bangeet dan akhir2 ini baru belajar kalau kebanyakan gula buatan itu jahat efeknya buat badan 😦 misalnya bikin hormon ngga seimbang, perut buncit, dll.. jadi aku menghindari gula buatan.. Yaa mengurangi lah hehe

        Like

        1. Puji Tuhan baik kak. Oh iya kak, gula buatan itu salah satu pemicu sakit paling cepat. Engga makanin gula saja perutku ini masih buncit lo kak, hahaha 😛
          Minuman kemasan juga sebaiknya dihindari karena mengandung banyak gula buatan.

          Like

  5. Pantas kamu komen hidup sehat. Hehehehe. Ternyata.
    OMG soal temanmu yang minggat itu Wien. Sampai segitunya. kalau ada uang sih mau aja lanjutkan ke sana. Yang soal hadiah, saya sih lebih suka kalau ada yang spesifik gitu. pengalaman bikin males nyari kado buat temen. Ujung2nya gak dipake sama orangnya.

    Like

    1. Dia mau apply beasiswa ko tapi sayangnya keinginan itu engga didukung oleh ortunya 😦
      Iya si ko, ada + dan – nya yah soal kado itu. Kalau engga spesifik, engga dipakai sama orangnya. Kalau terlalu spesifik, harganya mungkin memberatkan orang lain juga.

      Liked by 1 person

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s