Kecanduan Pete

Judulnya engga banget yah, hahaha.. Tapi memang saya mau bercerita tentang pete 😀

Saya sangat menyukai pete, baik pete yang direbus, digoreng, ataupun dicampur dengan masakan lainnya. Rasanya sulit dideskripsikan dengan kata-kata, pokoknya maknyuuus, hahaha..
Saya mulai mengenal tumbuhan ini lewat papa sebab beliau juga seorang penggemar pete, sedangkan mama saya tidak terlalu menyukai pete. Saya masih ingat, dulu si papa suka minta tolong saya membelikan nasi goreng pete udang di rumah makan yang lokasinya cukup dekat dengan rumah kami. Harga nasi gorengnya Rp 10.000,- per kotak. Itu tahun 2000, if I’m not mistaken. Katanya teman, harga nasi gorengnya sekarang sudah naik menjadi Rp 40.000,- per kotak 😀

Pete kan bau, Wien! Saya ralat. Pete memiliki aroma khas, bukan bau. Seperti jengkol (saya juga menyukai tumbuhan satu ini), jika pete dicuci sampai bersih dan diolah dengan benar, aromanya tersebut bisa berkurang sedikit. Hanya saja, aroma khasnya itu memang biasanya akan lebih tercium melalui urin atau feses kita. Tapi coba tanya ke penggemar pete, bukankah aroma khas itu yang sebenarnya menggoda? 😛

Saya sempat traktir dua teman waktu ultah kemarin, namanya Albert dan Gio. Kami bertiga punya satu kegemaran yang sama, yaitu pete! Haha.. Kami juga memiliki satu lokasi favorit, yaitu pecel ayam di daerah Sunter Hijau yang hanya buka menjelang malam. Saya rasa si pemilik pecel akan happy jika kami datang, mengingat porsi makannya Albert jauh melebihi saya dan Gio, hahaha.. Sebelum turun dari mobil, kami bertiga sudah sepakat untuk melihat keberadaan pete yang biasa digantung di tiang. Kami juga sudah sepakat untuk turun dari mobil sekadar untuk bertanya soal pete jika tumbuhan favorit kami tersebut tidak digantung seperti biasa 😀

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Si pete tergantung dengan indahnya di tiang. Asyik!! Hahaha..

4 papan pete goreng ludes dalam sekejap
4 papan pete goreng ludes dalam sekejap

Harga 1 papan pete goreng di atas adalah Rp 13.000,-. Kami memesan 4 papan jadi totalnya Rp 52.000,-. Harga tersebut cukup worth it mengingat pete sedang jarang dijual di pasar saat ini. Kualitas pete yang kami makan juga bagus dan bersih. Saya sempat post foto tersebut ke IG dan Facebook dengan caption : “Pete goreng. Ini yang menyatukan kami –> @halassar, @vanianggasta. Maaf, kami orang Indonesia, mencintai makanan Indonesia, semakin ‘ndeso’ semakin enak”. Di luar dugaan, foto tersebut mendapatkan banyak hati dan jempol. Hidup pete! Hahaha..

Ternyata foto tersebut cukup menggoda banyak orang, dua di antaranya adalah Ana, teman saya di Pontianak, dan Buddy, teman saya di kantor lama. Ana membuat cumi cah pete dan Buddy memakan pete goreng dalam perjalanan pulang ke Jakarta 😀 Ana lupa memfoto hasil masakannya sehingga saya hanya bisa menampilkan foto pete goreng milik Buddy 😛

Lingkaran biru = pete goreng yang dipesan Buddy
Lingkaran biru = pete goreng yang dipesan Buddy

Cerita si pete tidak berhenti sampai disitu. Minggu lalu saya mendapatkan berkat karena ada seseorang yang membuatkan saya nasi goreng pete telur.

Pete sedang ditumis dengan bawang putih, bawang merah, bawang bombay, dan cabe keriting
Pete sedang ditumis dengan bawang putih, bawang merah, bawang bombay, dan cabe keriting

Penampakannya seperti berikut

Nasi goreng pete telur
Nasi goreng pete telur

Meskipun penampakan nasi gorengnya biasa-biasa saja, tapi saya benar-benar suka dengan rasanya! Tidak manis, tidak berminyak, pedasnya pas, gurihnya pas, kematangan telurnya pas, kulit telurnya garing, and petenya mantap! (untung saya sedang tidak lapar ketika membuat post ini, hahaha..)

Saya sempat post foto pete yang sedang ditumis ke IG dan Facebook dengan caption : Happy lunch. Happy tummy. Hidup pete! Selamat makan!”, dan ternyata foto tersebut kembali menggoda teman saya yang lain. Kali ini Diana, teman di kantor sekarang yang membuat rendang pete 😀

Rendang Pete
Rendang pete buatan Diana

Rasanya wuenaaaaak sekali, apalagi jika masih hangat. Saya sempat mencicipi masakannya itu. Petenya dicampur dengan daging dan kentang yang dibentuk bulat. FYI, Diana menggunakan daging biba disini, dan jenis dagingnya bisa diganti sesuai dengan selera 🙂

Selain olahan di atas, saya juga cukup sering makan pete yang dicah dengan tomat, udang, dan telur. Rasanya tetap nikmat, apalagi jika dimakan dengan nasi hangat 😛

Btw, saya ada link khusus untuk membuat masakan menggunakan pete. Silahkan dibuka disini. Siapa tahu ada yang mau minta saya jadi food tester dari olahan petenya, hahaha..

So, selamat berburu pete! Hidup pete! 😀

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

21 Comments

  1. Haishhhhh… apa sih enaknya pete… itu saat blom pernah ngrasain
    Kalo udah pernah ngrasain mah beda lg ngomongnya… apa sih enaknya makan tanpa pete
    Masalahnya cuma gimana membalikkan paradigma masyarakat dari bau menjadi khas, itu aja sih.. gak ada bedanya sengan durian, cempedak, dll. Yang suka akan bilang khas, yang gsk suka akan bilang bau.
    #antimainstream

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s