Mulut vs Kata

Pernah mendengar istilah verbal abuse, name callingdan bullying?

Atau mungkin pernah dengar kalimat-kalimat di bawah ini?

– Ih, dia gendut banget ya, pantesan saja sakit-sakitan terus.

– Badan lu terlalu pendek, engga usah ikutan main basket, team kita butuh orang tinggi bukan orang pendek.

– Masa dia bercita-cita jadi pilot padahal matanya juling gede gitu? Please deh….

– Dia kan bodoh, masuk top ten saja engga pernah, kog bisa sih pacaran sama ketua OSIS kita?

Saya sudah sering dengar kalimat-kalimat seperti itu (baca ya, bukan sekali dua kali, tapi sudah sering), entah itu keluar dari mulutnya lawan bicara saya ataupun dari mulut orang lain. Apa reaksi saya? Well, kalau kalimat seperti itu keluar dari mulutnya lawan bicara saya, biasanya saya akan menegur pelan. Tetapi jika kalimat seperti itu keluar dari mulut orang lain (yang saya tidak kenal), yowis nengke wae.

Sebelum saya lanjut lebih jauh, saya mau info jika tujuan saya membuat post ini semata-mata untuk sharing saja. Tidak ada maksud untuk memberi khotbah atau menjelek-jelekkan pihak lain. Sharing only. Titik. 🙂

Nah, saya tergelitik membuat post ini karena hari ini mengalami kejadian serupa di kantor. Ceritanya ada orangtua teman dari divisi lain (sebut saja A) yang meninggal dunia kemarin, dan – sesuai kebiasaan disini – salah seorang staff divisi personalia (sebut saja B) ditugaskan untuk mengumpulkan sumbangan dana.

Sebelum sampai di ruangan divisi saya, ada anak kantor yang bertanya ke si B : “Si A yang lu maksud itu yang mana yah orangnya? Gw engga kenal“. Si B langsung menjawab : “Aduh, masa lu ga kenal sih? Itu loh, si gendut. Masa lu ga kenal?” Si anak kantor yang bertanya itu kaget dengan jawaban si B. “Jahat bener si lu ngomong begitu. Lebih baik lu bilang kalau badannya besar, bukan si gendut. Gw juga engga pernah dengar dia dipanggil si gendut.” Nah, si B ngeles“Lah, dia kan emang gendut, apalagi kalau dibandingkan dengan gw, gendut banget”.

verbal-bullying-words

Sewaktu si B ke ruangan divisi saya, saya memutuskan untuk tidak memberikan sumbangan melalui dia. Saya memilih memberikan sumbangan untuk si A melalui teman saya yang lain. Sejujurnya saya merasa si B tidak pantas mengeluarkan kata-kata seperti itu meskipun nada bicaranya bercanda. Yah, mau bercanda atau bukan, tetap saja kurang pantas untuk diucapkan. Selain karena posisinya adalah staff divisi personalia, memang si A juga tidak pernah dipanggil “si gendut” (seperti percakapan di atas).

Hal seperti ini membuat saya teringat akan percakapan saya dengan teman saya tempo hari. Jadi ceritanya teman saya mempunyai anak laki-laki berusia 6 tahunan yang sedang mogok ke sekolah. Awalnya saya sempat berpikir wah hebat banget anak jaman sekarang, baru 6 tahun saja sudah mogok ke sekolah.

Coba saya dulu begitu, pasti mama saya sudah berdiri di depan kamar sambil bawa rotan, haha.. Setelah diusut oleh mommynya, ternyata si anak tidak suka dipanggil “si gendut sipit” oleh teman-teman sekelasnya. Melalui sambungan telepon, si anak mengatakan : “My friends always bully me, auntie Wiwien. They like to call me gendut and sipit. I’m sad. I don’t like them, auntie. I don’t want to go to school. I don’t want to meet them, auntie.” Saya jadi ikutan merasa sedih setelah si anak berbicara seperti itu.

Berkaca dalam aktivitas kita sehari-hari, masih banyak pihak yang menganggap hal-hal seperti ini adalah hal kecil dan sepele, tetapi sebenarnya hal seperti inilah yang bisa berdampak besar. Contohnya ya kasus anaknya teman saya di atas, dia tidak mau ke sekolah hanya karena sering dipanggil “si gendut sipit”.

Padahal dia baru berusia 6 tahun, usia yang dianggap masih kecil oleh kita semua, tapi dia sudah merasa ‘diganggu’ (baca : diejek) oleh teman-temannya, dan bahkan dia sudah mengetahui arti kata bully itu sendiri.

words-can-hurt-20avn8s

Saya juga sering dipanggil “si pendek/endut/tembem/jenong/pesek/sipit” (you name it) sejak masih kecil, tapi saya berusaha cuek dengan panggilan-panggilan seperti itu. Sama seperti anaknya teman saya, saya juga sempat merasa kesal dan berusaha menghindari orang-orang yang memanggil saya seperti itu, tapi lama-kelamaan semua itu menjadi sebuah hal yang biasa karena saya berusaha melihatnya dari sisi lain.

Saya beranggapan kalau saya diperhatikan oleh orang lain sehingga saya dipanggil seperti itu. Jika mereka memberi perhatian, itu artinya mereka masih memikirkan saya di otaknya mereka. Nah, kalau itu kan saya. Bagaimana dengan anak teman saya atau orang lain?

Satu hal yang harus kita ingat, manusia berbeda satu dengan yang lain, jadi belum tentu orang lain akan bersikap seperti saya. Anaknya teman saya saja bersikeras mau pindah sekolah karena dia merasa teman-temannya tidak akan menghentikan aksinya meskipun mereka sudah minta maaf nanti (anggap dia mengalami trauma), bahkan ada anak remaja yang bunuh diri karena dibully terus.

Seperti yang sudah saya tulis di atas, post ini hanya bersifat sebagai personal sharing saya. Syukur-syukur dibaca, apalagi dikomentari dan dilikePost ini juga berfungsi sebagai media pengingatnya saya supaya saya jangan sampai mengucapkan kata-kata seperti itu juga.

Sebesar atau sekecil apapun itu pasti mengena di hati orang yang mendengarnya. Kalau sakit fisik masih ada obatnya. Kalau sakit hati, mau cari obatnya kemana? Wong kita dikasih mulut dalam kondisi normal, masa kita pakai mulut itu untuk mengucapkan kata-kata kasar? Hehe.. Thanks for reading! 🙂

stay-strong-and-stop-bullying

Note : semua image diambil dari Google.com

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

27 Comments

  1. Wahh postingan kamu kok pas banget wien..aku juga lagi sebel sama orang di kantor yang suka komen2 in hidup aku yang dia sendiri gak tau sebenernya gimana. Masa dia lebih tau dari aku sihh? sotoy banget…hahhaa, mau di tulis di blog juga kapan2…KZL!

    Like

    1. Hahaha.. Lihat dari segi positifnya saja ci, artinya cici masih dipikirin sama orang itu 😀
      Sayang kalau cici buang waktu hanya untuk kesal sama dia, haha..

      Like

  2. Kalau cuma ngatain gendut doang sih gpp, tp kalau udah ada embel-embel “lo gak takut apa kalau lo gendut terus ky gini trus laki lo bakal kabur?” bahahahhahaa (ini pengalaman gw pribadi loh). Gak mikir dulu apa kata-katanya bakal nyakitin org apa gak, toh jg suami sendiri gak pernah protes sama berat badan yg udh gede begini hihihihi..
    Salam kenal ya, sorry udh curcol aja disini :p

    Like

  3. Memang tidak boleh itu bullying, tapi kok masih saja ya kejadian di sekitar kita, yang dampaknya itu kadang fatal. Apa para pem-bully itu tidak sadar? Dulu saya juga sering di-bully sih, dan salahnya dulu saya cuma berdiam diri karena tidak tahu mau ngapain. Untungnya sekarang saya sudah sadar, dan jadinya malah kejam ya, soalnya kalau saya di-bully, ya sudah, bully balik :haha (bukan hal yang pantas ditiru :hehe).

    Like

      1. Er… dikata-katain sih, terus pakaian olahraga saya suka disembunyikan dan ditukar, terus di penghapus saya dimasukkan isi pensil, jadi kalau saya menghapus bukannya tambah bersih, tapi tambah kotor :haha.

        Like

          1. Ketawa sih Wien, cuma agak miris… lha wong baju olahraga saya dulu ditaruhnya di atas Garuda Pancasila di depan kelas itu, lho :haha.
            Diambilnya pakai sapu, dah :hihi.

            Like

  4. Dulu saya suka cela-celaan sama teman. Tapi sekarang berusaha untuk tidak membulli.
    Itu gurunya sianak gak menegur, gak menasehati atau tidak memberi “pelajaran” ke anak yang suka membullli itu barangkali. Yah kasian juga sianak yang kena bulli.

    Like

  5. Kadang saking biasanya komen2 sembarangan ada aja loh orang2 yang ga sadar kalau lagi ngebully.. Kayak komen “babynya lucu ya kayak tuyul, botak” (based on personal experience). Biar niatnya becanda tetep aja nyesek dengernya.. Jadi emang harus kitanya juga yang harus berani bales atau negur..

    Like

    1. Walah, Jo dikomentari seperti itu mba? Iya, seringkali memang orang tidak sadar dengan ucapan yang keluar dari mulutnya, so that’s why lebih baik kita berpikir dulu sebelum berbicara, benar ga mba?

      Like

  6. duh telat bgt deh gue buat komen wien, hahahaha..
    gue juga ga suka sama mulut yang kasar en seenak udel ngatain org2, gimana kalo orang lain berlaku sama ke dia (pelaku) pasti rasanya ga enak kan.
    buat korban ada yang bisa cuek walo dlm ati gondok tapi ada juga yang jadi meng-amin-i sebutan yang diberikan terus lama2 jadi pesimis en minder, nah ini yang gawat bgt.
    bully lwt kata2 kliatannya simple ya tapi dampaknya tuh besar ngarah negatif 😦 semoga banyak orang (pelaku) yang bisa sadar dink buat stop bullying 🙂

    Like

    1. Iya ci, seperti kata pepatah, lidah lebih tajam daripada pedang.
      Semoga kita bisa menjadi pribadi yang menggunakan mulut kita sebaik mungkin ya ci 🙂

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s