Kartini Day

Sesampainya di kantor pagi ini, seorang teman bertanya : “Wien, kamu engga pakai kebaya hari ini?” Dahi saya berkerut. “Memangnya hari ini ada acara apa di kantor sampai saya harus pakai kebaya?” Teman saya tertawa kecil. “Just kidding, hari ini Hari Kartini. Kamu lupa ya? Haha”. Iya yah, hari ini tanggal 21 April, Hari Kartini 😀

Sewaktu masih duduk di bangku SD, saya kurang suka dengan tanggal 21 April. Ini jujur loh, haha. Bukannya saya malas pergi ke sekolah (saya lebih malas pergi ke kantor daripada ke sekolah), tapi saya malas dipaksa bangun pagi hanya demi make-up dan hair-do. 

Yes, tanggal 21 April selalu dirayakan secara “khusus” di sekolah saya. “Khusus” itu artinya para pengajar dan para murid diminta untuk mengenakan kebaya atau baju daerah. Biasanya baju daerah akan dikenakan oleh murid yang mengikuti lomba, and I have felt it, masa-masa ketika harus merelakan jadwal tidur cantik saya dikurangi demi make-up dan hair-do gaya Bali di pagi hari (FYI, saya masuk sekolah jam 06.40, kebayang donk saya mesti bangun jam berapa).

Entah kenapa, saya merasa lebih mirip ondel-ondel saat itu. Forgive me, haha. And that’s why, saya selalu berusaha untuk menghindari segala bentuk aneka perlombaan di tanggal 21 April.

Lain ceritanya sewaktu duduk di bangku SMP. Walaupun tanggal 21 April dirayakan secara “khusus” juga, tetapi para murid masih boleh mengenakan seragam sekolah jika si murid tidak mengikuti lomba.

Sewaktu duduk di bangku SMA, kebaya modern mulai menjadi trend di kalangan saya dan teman-teman, dan saya pernah mengenakannya di salah satu tanggal 21 April (antara 2003-2006) karena saya dipilih menjadi peserta lomba English Speech antar kelas. Kenapa saya tidak mengenakan baju daerah? Sebab tema speech saat itu adalah “Kartini Modern”, jadi saya rasa kebaya modern memang cocok untuk tema tersebut. Nah, kali ini saya merasa (sedikit) lebih anggun, tidak merasa mirip ondel-ondel 😀

Terlepas dari cerita pribadi saya di atas, saya menyimpan kebanggaan tersendiri terhadap sosok Ibu Kartini. Menurut saya, beliau adalah sosok wanita hebat yang open-minded di masanya. Beliau memang bukan pahlawan yang pernah memanggul senjata melawan para penjajah, tapi usaha dan pola pikirnya untuk mengangkat derajat para wanita Indonesia bisa digolongkan sebagai salah satu tindakan besar.

Kebayang engga kalau para wanita masih harus stay at home, tidak boleh bekerja di kantor, dan tidak boleh lanjut studi ke jenjang yang lebih tinggi? Tanpa sosok dan usaha beliau, mungkin Indonesia tidak memiliki dokter wanita, boss wanita, polisi wanita, dll.

Saya tidak mendiskreditkan kaum pria yah, hanya saja bagi saya pribadi, posisi pria dan wanita memang seharusnya sejajar dan seimbang 🙂

Selamat Hari Kartini, temans. Ada yang masih ingat lirik “Ibu Kita Kartini”?

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

19 Comments

  1. Selamat hati Kartini. Kebayang sih berapa lama dibutuhkan untuk dandan padahal mending tidur. Hihihi. Saya masih ingat liriknya meskipun gak sempurna! Hihihi

    Like

    1. “Hari” Mas, bukan “hati” 😛
      Mana saya hobinya tidur lagi Mas, jadi kebayang donk gimana tersiksanya saya saat itu, hahaha..
      Sok atuh dinyanyikan dengan lantang 😀

      Like

  2. Melalui surat-surat Kartini dengan Nyonya Abendanon dan teman-teman lain, terang pun terbit dalam masa pengarusutamaan gender dan emansipasi. Semoga emansipasinya tetap lestari :amin.

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s