Review The Crossing

Film “The Crossing” menarik di mata saya sebab disutradarai oleh John Woo dan dimainkan oleh beberapa artis/aktor terkenal, misalnya Takeshi Kaneshiro, Zhang Zi Yi, Song Hye Kyo, Huang Xiaoming, dan Tong Dawei. Selain itu, film ini juga didasarkan pada kejadian nyata tenggelamnya Kapal Uap “Taiping” pada tanggal 27 Januari 1949 yang menewaskan lebih dari 1.500 penumpang dan awaknya. That’s why ketika sudah diputar di Indonesia, saya menyempatkan waktu untuk menonton sekuel pertama film ini.

johnwoo
Song Hae Kyo, Huang Xiaoming, Takeshi Kaneshiro, dan Zhang Zi Yi (via google)

Sudah nonton “Mission Impossible II”, Reign of Assassins, “Red Cliff I”, dan “Red Cliff II”? Nah, film-film tersebut disutradarai oleh John Woo. Kalau para pemainnya sudah pasti tahu kan ya? Masa iya belum tahu Zhang Zi Yi, Song Hye Kyo, dan Takeshi Kaneshiro? 😛 Kalau Huang Xiaoming dan Tong Dawei mungkin banyak yang belum tahu ya, tapi keduanya lumayan terkenal kog, hehe.. Huang Xiaoming itu main di film “The Last Tycoon” dan “Ip Man 2”, sedangkan Tong Dawei main di film “Red Cliff II” dan “Flowers of War”. Nah, di “Flowers of War” ada aa’ ganteng Christian Bale 😛

Film ini menceritakan tentang tiga pasangan yang hidup di jaman revolusi rakyat China di tahun 1949. Pasangan pertama adalah seorang jenderal hebat Yi Fang (Huang Xiaoming) dengan anak seorang bankir yang berprofesi sebagai guru piano Yun Fen (Song Hye Kyo). Pasangan kedua adalah seorang dokter kelahiran Taiwan Ze Kun (Takeshi Kaneshiro) dengan seorang wanita kelahiran Jepang Masako (Magami Nagasawa). Pasangan ketiga adalah seorang tentara bernama Tong (Tong Dawei) dengan seorang wanita buta huruf Yu Zhen (Zhang Zi Yi). Ketiga pasangan tersebut memiliki ceritanya masing-masing, dan sejujurnya saya salut dengan John Woo yang dapat menyatukan tiga pasang ini menjadi sebuah cerita yang sambung menyambung.

Dalam sebuah acara pengumpulan dana, si jenderal dan si guru piano jatuh cinta pada pandangan pertama. Si jenderal yang kakinya agak cacat dan si guru piano yang tidak mau mengenakan heels – karena nomornya terlalu kecil – berdansa tanpa peduli dengan siapapun yang hadir di acara tersebut, termasuk orangtua si guru piano. Tidak lama setelah itu, mereka memutuskan untuk menikah.

Via Google
Si jenderal dan si guru piano (via google)

Dalam sebuah kelas, si (calon) dokter mencoba melukis mata si wanita Jepang yang duduk di depannya, namun tidak berhasil sebab guru lukis mereka datang menghampiri si (calon) dokter sehingga lukisannya berubah dari sepasang mata manusia menjadi sepasang burung. Si dokter berasal dari Taiwan, sempat sekolah di Jepang, dan sempat menjadi sukarelawan dokter selama Perang Dunia II. Tidak tahan dengan kondisi di China, si dokter memutuskan pulang ke rumahnya di Taiwan. Pertemuannya dengan si guru piano – yang telah menjadi istri si jenderal – membuatnya teringat kembali akan kenangannya terhadap si wanita Jepang yang sangat dia cintai. Namun, si dokter tahu, cintanya tidak akan pernah disetujui oleh keluarganya, terutama sang ibu.

Via Google
Si dokter dan si wanita Jepang (via google)

Demi mendapatkan jatah makanan dan penyewaan kamar, si wanita buta huruf berfoto bersama si tentara yang sudah dijadwalkan untuk kembali ke medan perang. Tipe foto mereka adalah foto keluarga, lengkap dengan seorang bayi hasil pinjaman. Di jaman perang saat itu, wanita yang masih single tidak bisa mendapatkan jatah makanan dari pemerintah dan tidak boleh menyewa kamar. Sehabis foto bersama, si wanita buta huruf menyantap mie bersama si tentara, dan si tentara jatuh cinta dengan si wanita sebab si wanita mengelap sumpit dengan kain bersih sebelum digunakan oleh si tentara. Sewaktu menaiki truk, si tentara berjanji akan menulis dan mengirimkan surat kepada si wanita buta huruf. Di dalam truk, si tentara menunjukkan foto ‘keluarganya’ ke teman-teman sesama tentara, dan mereka mengatakan bahwa ‘istri’ si tentara sangat cantik ( ya iyalah cantik, Zhang Zi Yi gitu 😛 ) Nantinya, si wanita buta huruf memang mendapatkan surat dari si tentara, tapi suratnya sudah telat 4 bulan, dan dia minta tolong temannya untuk membacakan isi surat tersebut. Si wanita buta huruf mencoba berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup, mulai menjadi sukarelawan perawat (karena mendapatkan makan dua kali dalam sehari) sampai menjadi pekerja seks komersial.

the crossing3
Si tentara, si wanita buta huruf, si bayi pinjaman (via google)
the crossing1
Si wanita buta huruf menuangkan garam ke mangkuk mie si tentara (via google)
the crossing2
Roti hasil menjadi sukarelawan perawat (via google)

Di medan peperangan, si jenderal memiliki hubungan yang cukup akrab dengan si tentara. Nantinya, si jenderal minta tolong si tentara untuk menyerahkan buku diarynya kepada si istri. Si jenderal memiliki hati yang baik; dia selalu mengedepankan kepentingan anak buahnya, mulai dari menyemangati mereka untuk bertahan hidup di cuaca dingin sampai mengorbankan 3 ekor kuda sebagai bahan makanan bersama, termasuk kuda kesayangannya. Demi cintanya kepada negara, si jenderal rela mati di medan perang meskipun sebenarnya dia sangat mencintai istri dan calon buah hatinya.

Sambil menunggu kepulangan si jenderal, si guru piano – yang diungsikan oleh si jenderal ke Taiwan – memutuskan untuk membuat sebuah lagu. Dalam proses pembuatannya, si guru piano menemukan sebuah buku not lagu yang ditulis oleh si wanita Jepang. Si guru piano menyukai not lagu tersebut, walaupun belum ditulis sampai selesai. Pada akhirnya, si guru piano minta tolong si dokter untuk menceritakan kenangannya dengan si wanita Jepang tersebut supaya proses pembuatan lagunya cepat selesai.

Oleh karena film ini masih merupakan sekuel pertama, akhir ceritanya masih menggantung, dan masih banyak adegan perang yang ditampilkan. Tragedi tenggelamnya kapal yang mereka naiki pun belum ditampilkan. Menurut saya, jalan ceritanya diatur sedemikian rapi dan – memang sengaja – ditampilkan saling berhubungan satu sama lain. Ciri khas John Woo sekali. Dulu di film “Red Cliff”, John Woo mampu menampilkan tautan yang bagus antara film pertama dan film keduanya. Terlepas dengan masih banyaknya adegan perang, saya menyukai cara John Woo untuk menonjolkan pribadi dari setiap karakter di film ini, jadinya tidak tumpang tindih.

Pasangan yang paling saya suka ya si jenderal dan si guru piano. Soalnya Huang Xiaomingnya lebih ganteng daripada Takeshi Kaneshiro (di film ini), dan Song Hye Kyo memang cantik rupawan yah 😀 ( kayaknya habis nonton film ini, saya mesti pakai produk L****** seperti Ci Dewi, yang brand ambassadornya adalah Song Hye Kyo 😛 ) Tapi lebih dari itu, chemistry yang dibangun antara mereka berdua benar-benar ‘klik’ sekali. Saya selalu tersepona (iya tersepona bukan terpesona) dengan pasangan yang mampu menampilkan romantisme hubungan mereka, mulai dari chemistrynya, perilakunya, sampai kata-kata yang digunakan.

Via Google
Three couples in “The Crossing” (via google)

Oya, satu lagi, film ini full drama semua. Ada si adegan di medan perangnya, ada juga adegan lucunya, tapi mostly semuanya drama. Saya tidak menyarankan film ini untuk kalian yang tidak kuat / tidak suka menonton film drama. Namun, jika kalian menyukai film historical drama, film ini layak untuk ditonton.

So, saya sudah tidak sabar menunggu sekuel keduanya! 🙂

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

30 Comments

  1. Pemainnya semua keren yaaa.. udah lamaaaa banget ga ngeliat Takeshi Kaneshiro di tipi.
    Btw Wien.. aku mungkin kelewat.. filmnya pakai bahasa apa ya? abis bintangnya campur sari gitu

    Liked by 1 person

    1. Hai Kak Bebe. Iya ni, semua pemainnya keren-keren, haha.. Filmnya pakai bahasa Mandarin, Kak. Ada campuran bahasa Hokkiannya juga. Tapi di adegan Takeshi mengenang si wanita Jepang, bahasanya pakai bahasa Jepang.

      Like

  2. Drama perasaan yang… intertwined banget. Eksekusi premis cerita yang memerlukan ensemble begini agak rumit kalau menurut saya, dan apabila si sutradara berhasil, karyanya bisa jadi masterpiece :hehe.
    Salut ya, ini bintangnya dari beberapa negara tapi bahasa tidak menjadi kendala. Jadi penasaran filmnya pakai bahasa apa :hehe.

    Like

    1. Hai Bli! Iya ni, dramanya very intertwined sekali. Tapi sejujurnya, saya tidak menyangka plot ceritanya seperti itu, hehe..
      Betul Bli, kalau John Woo berhasil membuat klimaks yang apik, pasti bisa jadi masterpiece, cuma ya filmnya memang drama habis si..
      Mostly, bahasanya pakai Mandarin dan Hokkian, tapi ada juga adegan yang menggunakan bahasa Jepang, waktu si dokter mengenang si wanita Jepangnya.
      Hehehe..

      Liked by 1 person

  3. mendengar nama gue dibawa2 nii, hahahahaha..
    sekuelnya kapan muncul win? gue nonton kalo sekuelnya uda aja dink, biar ga kelupaan sama cerita pertama, hahahaha

    Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s