Jakarta? Hmm…

Siang tadi saya mendapat BBM dari salah satu teman.

“Wien, aku nak balek. Nda tahan di Jakarta. Stress kali aku. Mungkin aku emang nda cocok disini.”

And he isn’t the first person at all..

Ketika masih kecil, saya tidak pernah bercita-cita untuk tinggal di Jakarta, tetapi Tuhan memiliki rencana lain, and I have lived at here for 9 years.. Jakarta di masa kecil saya hanya menjadi sebuah kota persinggahan dalam rangka mengisi liburan sekolah. Beberapa tahun kemudian, saya memutuskan untuk ‘pindah’ ke kota ini karena faktor ketidaksengajaan.

Sebenarnya saya suka tinggal di Pontianak. Ya iyalah suka, lahir dan besar kan disana. Saya bisa dekat dengan si mami, kemana-mana serba dekat, udaranya masih cukup bersih, engga perlu pakai masker kalau lagi naik motor, engga perlu kangen dengan masakan mami juga, feel so safe deh pokoknya. Tetapi ketika menjelang kelulusan SMP, saya berpikir bahwa sepertinya saya tidak dapat stay terlalu lama di Pontianak.

Ada banyak hal yang menjadi tanggung jawab saya, semacam family matters gitu, dan saya harus berani mengambil keputusan untuk banyaknya tujuan hidup yang menjadi cita-cita saya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk melanjutkan studi saya di SMA negeri di saat teman-teman seangkatan saya memutuskan untuk melanjutkan studi di SMA swasta.

Alasannya sederhana. Saya ingin mencoba luck saya di Hubungan Internasionalnya UI melalui jalur PMDK 🙂

Si mami senang sekali dan mendukung keinginan saya waktu itu, meskipun saya tahu mami harus menjadi korban celaan teman-temannya. Singkat cerita, saya berhasil melanjutkan studi di salah satu SMA negeri favorit tapiiiii si mami akhirnya engga mengijinkan saya untuk ikut PMDK UI 😥 *mewekmewek* Alasannya sepele. Saya engga punya famili di daerah Depok. Hiks hiks. Goodbye UI. Goodbye Hubungan Internasional. Goodbye Kemenlu. 😥 😥

Gara-gara hal tersebut, saya sempat bergumul dalam waktu yang cukup lama. Saya mau kuliah tapi engga mau di Pontianak, dan saya juga sadar kalau saya engga bisa lanjut kuliah di luar negeri karena finansial orangtua saya tidak mendukung saat itu.

Satu-satunya cara yah saya harus dapat beasiswa di kota yang ada familinya saya atau setidaknya di kota yang dianggap aman oleh orangtua saya. Saat itu, akses dan informasi tentang beasiswa tidak sebanyak dan semudah saat ini so saya harus aktif di kegiatan sekolah. Sempat mencoba applied ke Singapura tetapi gagal karena ada 1 nilai di rapor yang tidak memenuhi persyaratan. ( Coba tebak nilainya itu nilai pelajaran apa, tar saya kasih 1 permen deh 😀 )

I was lucky, saya ikut dalam ekskul English Study Club dan mulai mencari prestasi disitu. Hasilnya lumayan, saya dapat beasiswa di Jakarta dan Semarang. Tapiii karena saya engga ada famili di Semarang jugaaa, jadilah saya hanya boleh memilih Jakarta. Sebelum berangkat ke Jakarta, saya diingatkan oleh teman mami, “Jakarta itu jauh lebih kejam daripada ibu tiri”.

Yah, namanya juga Wiwien, engga akan langsung serta merta nelan petuah seperti itu sebelum mengalaminya sendiri, walaupun petuah itu sepertinya sudah menjadi rahasia umum dimana-mana.

Apakah benar Jakarta lebih kejam daripada ibu tiri? Well, saya pribadi merasa lebih cocok menggunakan kata ‘keras’ daripada ‘kejam’ karena toh saya masih bisa hidup dengan (cukup) baik di kota ini 🙂

To be honest, saya belajar banyak hal sejak saya tinggal di kota (yang katanya) metropolitan ini, mulai dari belajar untuk tidak mengandalkan orang lain, belajar untuk lebih menghargai orang lain, belajar untuk cepat tanggap dengan kondisi sekitar, belajar untuk cepat menyesuaikan diri, belajar untuk lebih mengendalikan emosi dan perkataan, belajar untuk lebih pintar mengatur waktu, belajar untuk lebih cermat mengatur isi dompet, dan masih banyak lagi. Sebenarnya hal-hal di atas dapat dipelajari dimana saja, entah itu di dalam rumah atau di kota lain, tidak harus di Jakarta. Akan tetapi, Jakarta memiliki sebuah ‘nilai’ yang mungkin tidak dimiliki oleh kota lain, dan masyarakat disini sudah mulai ‘membiasakan diri untuk menghidupkan nilai tersebut’.

Waktu saya masih kuliah, salah satu dosen pernah mengatakan bahwa ‘nilai sosial di Jakarta membentuk sebuah mental dan budaya di dalam masyarakat itu sendiri’, sehingga tidak mengherankan ada perspektif ‘harus punya mental untuk hidup (tidak sekadar tinggal) di Jakarta’. Ambil contoh yang paling sederhana, penggunaan kata “gue-lu” dan “aku/saya-kamu”. Orang dari daerah lain belum tentu terbiasa mendengar kata “gue” dan “lu”, sedangkan kata-kata itu sudah biasa digunakan di Jakarta, bahkan antara bos dan karyawan saja bisa menggunakan dua kata tersebut.

Belum lagi dengan waktu kerjanya orang Jakarta yang kadang-kadang dianggap absurd oleh orang dari daerah lain. Saya pernah bertemu dengan orang daerah lain yang mengatakan bahwa orang Jakarta seperti tidak punya jam karena bisa kerja dari jam 9 pagi sampai jam 1 subuh. Belum lagi life after work di Jakarta. So, tidak heran kalau Jakarta sudah seperti magnet untuk banyak pihak karena Jakarta memang menawarkan banyak hal yang tidak dimiliki kota lain, tetapi lebih tidak mengherankan lagi kalau ada orang yang rasanya sudah tidak kuat tinggal di Jakarta.

Banyak orang yang bertanya mengapa saya tidak berencana pulang ke Pontianak atau apakah saya sudah kerasan di Jakarta. Kalau saya boleh jujur, saya selalu berusaha kerasan disini karena saya mencoba untuk bersikap realistis. As I have said before, ada banyak hal yang menjadi tanggung jawab saya, dan sejauh ini saya bisa mendapatkannya di Jakarta. Belum tentu saya bisa mendapatkan hal serupa di Pontianak, dan saya tidak mau mengorbankan semua itu karena dampaknya akan sangat besar.

Untungnya saya ini orangnya cuek yah, jadi engga terlalu peduli dengan apa kata orang selama saya melakukan sesuatu di jalan yang benar dan tidak mengganggu apalagi merugikan pihak lain. Engga sedikit yang bilang kalau saya maunya main safety saja. Yah engga apa-apa kog, itu hak orang lain untuk berpendapat, karena mereka tidak menjalani kehidupan yang saya jalani. Saya main safe juga karena tidak mau mengorbankan orang lain yang saya cintai. As simple as that 🙂

Hidup di Jakarta memang tidak mudah, tapi sebenarnya tidak akan benar-benar susah juga jika kita bisa hidup di jalan yang positif dan berusaha mengontrol diri. Bagi saya, mengontrol diri itu sifatnya penting dan bermanfaat, apalagi untuk saya yang saat ini masih tinggal sendiri dan berusaha untuk mandiri tanpa bantuan orangtua dan famili disini. Engga, saya bukan sok jadi Miss Independent kog, suwer tekewer kewer deh.. Saya cuma kurang suka merepotkan orang lain, rasanya gimana gitu, padahal saya masih bisa melakukannya sendiri. Haha 😀

Hal lain yang membuat hidup saya menjadi agak ‘berwarna’ di Jakarta (ceilah..) yah karena kehadiran seseorang yang dipanggil “koko” oleh saya. Lah, kamu sudah engga kangen sama mamimu, Wien? Huss, kangen tauk! Banget malah! Mamiku memang cukup bawel tapi baikkkkkk banget, dan saya selalu kangen dengan masakannya yang (katanya) selalu dimasak dengan memakai bumbu cinta. Tapi sepertinya saya juga bakalan kangen sama si “koko” itu kalau saya meninggalkan Jakarta. Dia juga bawel kayak si mami, tapi baikkkkkk juga seperti si mami, dan sifat afektifnya juga seperti si mami. Apa mamiku saja yang pindah ke Jakarta? Hahaha..

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

2 Comments

  1. Pertamax! Yeaaayyy 😀

    Haahh sedikit-banyak aku bersyukur lahir dan besar di Jkt Ci, Jakarta keras mameeenn.. Kalo ga punya kualitas jadi gampang tersingkirkan. Tinggal di Bali yang pace-nya lambat bikin hidup agak santai haha makanya musti pinter2 cari kegiatan jg

    Like

    1. Hahaha pertamax yah. Thanks for comment Ge.
      Iya, stay di Jakarta harus pintar pintar, kalau tidak ya akan tergerus dengan waktu. Aku kepingin loh tinggal di Bali. Hahahaha

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s