HBD Pontianak!

Biarpun kate orang ini kote panas, ae’ ledeng sering payau, listrik suke mate, tol sering macet, jalan kote belobang dimane-mane, saye tetap cinte Pontianak.

Selamat Ulang Tahun Kote Pontianak ke-243! Moga kau makin balak ye! 

Bandar Udara Supadio Pontianak
Bandar Udara Supadio Pontianak

Sebelum memutuskan untuk melanjutkan studi di Jakarta, saya lahir dan besar di Kota Pontianak yang merupakan ibukota dari Provinsi Kalimantan Barat. Hari ini tanggal 23 Oktober 2014, itu artinya hometown saya ini sedang merayakan ulang tahunnya, dan kali ini saya mencoba untuk membuat post mengenai kota ini.

Kata “Pontianak” berasal dari bahasa Melayu, dan dipercaya memiliki kaitan dengan kisah Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie (pendiri dan sultan pertama Kerajaan Pontianak) yang diganggu oleh hantu Kuntilanak ( cari sendiri gambarnya ya 😛 ) dalam perjalanannya menyusuri Sungai Kapuas.

Nama lain dari Pontianak adalah Khuntien (坤甸, pinyin : Kūn diān) yang sering diucapkan oleh etnis Tionghoa di kota ini.ptk

Kota ini terletak di perlintasan garis Khatulistiwa dan dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Sungai-sungai tersebut disimbolkan di dalam logo Kota Pontianak. FYI, Sungai Kapuas merupakan sungai terpanjang di Pulau Kalimantan dan juga merupakan sungai terpanjang di Indonesia 🙂

Terdapat tiga etnis besar di kota ini, yaitu Dayak, Melayu, dan Tionghoa, dan oleh karenanya kota ini memiliki beberapa bahasa ibu yang umum digunakan – sebagai media komunikasi antar masyarakat – daripada bahasa Indonesia, antara lain bahasa Melayu, bahasa Teochew (seperti bahasa Hokkian), dan bahasa Khek (Hakka). Nah, kalimat pembuka post ini merupakan contoh bahasa Melayu yang digunakan di kota ini.

Walaupun kota ini diisi oleh etnis-etnis yang berbeda-beda, namun kami semua dapat hidup berdampingan satu sama lain, bahkan dapat mengembangkan ragam kebudayaan kami. Misalnya saja pesta Gawai (pesta syukur untuk hasil panen) di etnis Dayak, pesta tahun baru Imlek/Sincia, Capgomeh, dan Cengbeng di etnis Tionghoa, serta festival Meriam Karbit di etnis Melayu. Walaupun kota ini belum semaju kota Jakarta dan belum sekaya kota Balikpapan, saya tetap bangga karena sudah lahir dan dibesarkan di kota ini 🙂

CAP GO MEH DI PONTIANAK (via google)
images
FESTIVAL MERIAM KARBIT (via google)
PESTA GAWAI DAYAK (via google)

Kota ini belum memiliki banyak tempat rekreasi yang dirawat ataupun dikembangkan oleh pemerintah daerahnya, seperti yang dimiliki oleh kota-kota di Pulau Jawa. Mau ke pantai atau kebun binatang saja butuh waktu lebih dari 3,5 jam karena berada diluar kota Pontianak. And to be honest, jangan bandingkan kota ini dengan kota-kota yang ada di pulau Jawa sebab semakin dibandingkan, perasaan miris di dalam hati pun seringkali datang dengan sendirinya.

Saya ingat, waktu masih duduk di bangku SLTP, saya sudah pernah mendengar wacana tentang “kereta api Trans Kalimantan”. Lima belas tahun berlalu, dan wacana itupun entah kapan akan menjadi kenyataan. Jadi jangan heran, untuk ke Balikpapan via jalur udara saja, kami harus transit dulu di Jakarta, padahal satu pulau loh 😀 Dulu pun jika mau ke Bandung atau Jogja, kami harus transit dulu di Jakarta. Beruntungnya saat ini sudah ada maskapai yang melayani penerbangan dari Pontianak ke Bandung dan Pontianak ke Jogja, directly.

Miris keduanya, jalanan antarkota belum sebaik jalanan yang ada di pulau Jawa. Ambil contoh dari kota Pontianak ke kota Singkawang. Saat ini, jalanannya memang sudah mulai diaspal, namun coba deh sekali-kali kesana di sore hari di atas jam 18.30 sore, saya pastikan kamu pasti melewati jalanan aspal yang penerangan jalanannya minim sekali. Di kanan kiri jalan masih banyak hutan hijau ( bukan hutan beton yah 😀 ), lampu jalanannya sedikit sekali, dan kontur jalanannya berkelok-kelok. Kadangkala, saya dan teman suka iseng guyon, jangan sampai kami – terpaksa – melihat harimau yang keluar dari hutan itu, hahaha *tooimaginative* 😛
Itu baru soal jalanan antarkota. Bagaimana dengan jalanan di kabupaten atau desa lainnya? Well, saya pastikan kamu pasti melewati jalanan minim aspal seperti yang dialami oleh Kak Tesyas. Kalau suatu hari nanti kamu melewati jalanan tersebut, anggap saja kamu sedang off-road 😀
Anyway, kota ini punya jalan tol, tapi jangan membayangkan jalan tolnya berbayar seperti di Jakarta ya. Jalan tol ini biasanya berfungsi untuk menghubungkan jalan A dan jalan B yang dipisahkan oleh sungai, entah itu Sungai Kapuas atau Sungai Landak, and it’s free of charge 🙂
SUNSET DARI ATAS TOL SUNGAI KAPUAS
SUNSET, TAKEN ON TOL SUNGAI KAPUAS

Miris ketiga adalah soal kebun binatang (bunbin). Waktu masih kecil, saya ingat pernah dibawa ortu ke bunbin yang masih ada di kota ini, namun bunbin itu sudah tutup karena manajemennya dianggap tidak mampu mengurus hewan-hewannya. Akibatnya hewan-hewan tersebut sakit atau mati. Sisa hewan yang masih hidup dipindahkan ke Sinka, sebuah konservasi di kota Singkawang. Nah, saya sempat mengunjungi bunbin Sinka ini, namun ternyata bunbin konservasi ini membuat saya kecewa. Yes, saya kecewa sekali, kecewa karena hewan-hewan disini tidak dipelihara dengan baik. Banyak kandang yang kosong dan hanya menyisakan nama hewan di luar kandang. Hal yang membuat saya paling miris adalah ketika saya melihat dua ekor harimau yang kelaparan, dan harimau tersebut hanya menggigit botol plastik kosong saking laparnya. Harimaunya sudah besar tetapi badannya kurus sekali 😦

Hal miris lainnya tidak jauh dari empat kata ini –> listrik, kabut asap, mall, dan bandara.

Sampai saat ini, walaupun katanya PLN sudah berusaha menerapkan budaya anti korupsi, namun entah kenapa listrik di kota ini masih sering mendadak padam/mati, dan padamnya itu bisa sampai berjam-jam. Soal kabut asap, well, ini sudah seperti ‘bencana’ tahunan di kota ini. Terlepas dari keyakinan masyarakat bahwa tanah gambut yang dibakar akan menjadi lebih subur, dan terlepas dari kenyataan bahwa banyak pengusaha ilegal yang ingin untung banyak, tetap saja pemerintah belum bisa mengatasi ‘bencana’ ini 100%. Hal yang paling menyakitkan adalah kabut asap tebal memasuki rumah di kala listrik rumah sedang padam dan air ledeng asin sekali 😐

AYANI MEGA MALL
AYANI MEGA MALL (via google)

Jangan bandingkan sederetan mall beken di Jakarta dengan mall terbesar di kota ini. Salah satu teman saya pernah mengatakan bahwa mall terbesar di kota ini jauh lebih kecil 10 kali lipat daripada salah satu mall di wilayah Pluit, Jakarta Utara. Bandara pun jangan dibandingkan dengan Soetta yah karena memang tidak bisa dibandingkan, hehe.. Satu hal yang pasti, maskapai Air Asia belum masuk di kota ini 😦 😥

Terlepas dari berbagai macam kemirisan yang saya alami dan lihat sendiri sejak kecil, saya masih menyimpan harapan bahwa kota ini masih bisa jauh lebih berkembang daripada saat ini. Kondisi saat ini saja sudah cukup berkembang daripada 15 tahun yang lalu, dan kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi 15 tahun ke depan.

Sebenarnya kota ini merupakan kota yang besar, baik secara geografis maupun manusia dan kultur di dalamnya. Belum lagi alamnya masih banyak yang hijau dan ‘perawan’. Walaupun tingkat pendidikan kota ini belum sebaik di pulau Jawa, tetapi manusianya memiliki kualitas mumpuni yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Saya pribadi pernah mewakili provinsi di kompetisi nasional dan saya juga mempunyai cukup banyak teman yang berhasil mendapatkan beasiswa Master dan Doktoral di USA dan Eropa. Semoga saja pemerintah baru nanti dapat lebih memperhatikan provinsi lainnya di luar Pulau Jawa. Jangan sampai wacana pemisahan diri dari NKRI mencuat kembali sebab saya sudah cukup sering mendengar hal tersebut sejak masih kecil dulu.

Akan tetapi, seperti prologue saya di atas, saya tetap menyimpan kecintaan terhadap kota ini. Anyway, selain dikenal dengan Tugu Khatulistiwanya, kota ini juga dikenal sebagai salah satu kota yang memiliki banyak makanan enak 😀 Saya akan membuat postnya, tapi tolong, nanti jangan ngeces yah, hehehehe 😀

So, once again, happy birthday to my beloved hometown.

I’ve missed you, missing you, and will miss you!

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s