Kota itu namanya Manado

Kali ini saya akan berbagi cerita mengenai perjalanan dinas saya ke Manado di tahun 2010. Yes, dinas dari kantor (lama) saya, tepatnya. To be honest, dinas – hampir 2 minggu ini – merupakan salah satu hokinya saya saat masih bekerja disana sebagai education counselor. Hoki karena dari empat orang yang kesana, saya satu-satunya ‘tamu’ dari divisi lain, dan hoki karena ditanggung full 😀

Saat itu, kami menempuh perjalanan dari Jakarta ke Manado selama 3,5 jam lebih. As usual, aktivitas untuk tidur di dalam pesawat sudah masuk dalam list pribadi saya 😀

Hello Manado 🙂

SAM RATULANGI AIRPORT, MANADO – NORTH SULAWESI

Saat itu hari Minggu dan kami berempat tidak ingin cepat-cepat ke hotel karena masih siang hari.

Lantas, kami iseng minta tolong si driver untuk mengantarkan kami ke Bunaken.

Ya iyaloh, jauh-jauh ke Manado masa kami tidak sempatin waktu ke Bunaken? Kan ada istilah, belum lengkap rasanya kalau ke Manado tanpa ke Bunaken 😀 😛

Ketika sampai di dermaga, kami berempat harus menyewa kapal motor atau perahu untuk menyeberang ke Bunaken. Saya lupa berapa harga deal kami saat itu, yang jelas dua orang teman cowo saya yang menjadi “tukang tawarnya” 😀 Kalau tidak salah di angka IDR 300.000 – 400.000. Perjalanan dari Manado ke Bunaken kurang lebih sekitar 45 menit.

bunaken (1)

bunaken (3)

Dalam perjalanan, saya menemukan gunung ini. Namanya Gunung Manado Tua dan masih dikategorikan sebagai salah satu gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Dari kejauhan, tampak jelas jika gunung ini ditutupi oleh hutan lebat.

bunaken (5)

Oh iya, berhubung kami berempat lagi malas “nyemplung” ke dalam air (alias diving) karena tidak bawa baju ganti, jadi kami menyewa kapal yang punya fasilitas untuk melihat pemandangan di bawah laut. Fasilitas tersebut berupa sebuah kotak berwarna biru (lihat foto di bawah).

bunaken (13)

Beberapa hasil ‘penampakan’ bawah laut yang sempat saya foto dengan kamera HP jadoelnya saya ( pemiliknya engga jadoel kog 😛 )

bunaken (4) bunaken (6) bunaken (7) bunaken (8) bunaken (10) bunaken (11) bunaken (12)

And here we were, Taman Laut Bunaken Manado, Sulawesi Utara 🙂

bunaken (18) bunaken (21) bunaken (23) bunaken (17) bunaken (16) bunaken (20) bunaken (15) bunaken (14) bunaken (19) bunaken (22)

Kami berempat tidak menghabiskan waktu berjam-jam (seperti turis lainnya) di Bunaken karena sejujurnya, daya tarik Bunaken ada di dalam lautnya, bukan di pantainya. Pantainya hanya dipenuhi dengan gerai-gerai penjual kelapa, penjual kaos ala Bunaken, ataupun penyewa perlengkapan diving yang tentunya mematok harga cukup tidak wajar (alias mahal) untuk para turis yang bertandang kesana. Anyway, jangan berharap untuk melihat pasir putih disini karena hampir semua pasirnya berwarna cokelat kehitaman.

Sebelum kami turun ke pantainya, kami sempat berpapasan dengan 1 kapal yang isinya bule cowo semua, dan mereka sempat menyuruh kami untuk ikut diving bersama mereka, tapi kami tolak. But to be honest, saya cukup kecewa juga karena kami tidak diving saat itu, apalagi setelah melihat pemandangan bawah lautnya – dari kotak biru di dalam kapal – yang ternyata sangat indah karena coralnya masih terjaga dengan baik. Penyesalan selalu datang terlambat yah 😦

Sepulangnya dari Bunaken, kami bertolak ke hotel di daerah Sam Ratulangi. Jangan tanyakan nama hotelnya lagi karena saya sudah lupa 😀 😀 Hotelnya bukan hotel mewah, sekelas bintang dua atau tiga karena kami menyesuaikan budget yang diberikan oleh kantor. Tapi sejujurnya yah, saya dan teman cewe saya sempat parno ketika mau tidur di malam hari karena suasana hotelnya cukup mencekam dan banyak menggunakan lampu berwarna kuning, hahaha..

Suasana selanjutnya diisi dengan aktivitas kami berempat sebagai education counselor, jadi engga ada lagi yang namanya jalan-jalan yah, haha.. Tapi kami berusaha mencari waktu senggang di sela-sela kesibukan kami, dan waktu senggang tersebut dimanfaatkan dengan sedikit jalan-jalan ke beberapa tempat. Anyway, saat itu saya belum punya kamera pribadi, jadi hanya bisa motret sedikit objek dengan kamera HP jadoel saya ( sekali lagi, pemiliknya engga jadoel kog 😛 )

Foto ini saya ambil di salah satu hall sekolah swasta favorit disana

Eben Haezar

Kami berempat sempat ke area Monumen Patung Yesus Memberkati di daerah perumahan Citraland Manado. Sesuai dengan nama perumahannya, ide pembuatan monumen ini berasal dari Ir. Ciputra. Monumen ini terletak di bukit tertinggi di daerah perumahan tersebut dan menjadi salah satu ikon Kota Manado saat ini yang notabene mayoritas penduduknya beragama Kristen atau Katolik. Katanya biaya pembuatan monumen ini menghabiskan dana sekitar 5 M, dan monumen ini merupakan monumen kedua tertinggi di Asia *plokplokplok*

Image0156

Pernah dengar tentang Gunung Lokon di Manado? Nah, foto di bawah ini saya ambil saat saya berada di salah satu sekolah swasta favorit di Kota Tomohon. Dari halaman sekolah yang begitu luas, kami berempat bisa melihat kecantikan Gunung Lokon yang cukup terkenal ini. Seru yah kalau sekolah di daerah sejuk dan indah seperti ini. Anyway, jarak dari Manado ke Tomohon kurang lebih sekitar 20 km dengan kontur jalanan yang berkelok-kelok seperti jalanan dari Bogor ke Puncak 😀

SMA Lokon Tomohon

Di hari terakhir dinas, saya menyempatkan diri untuk membeli jam tangan ini karena bentuknya unik (seperti gelang) dan harganya tidak mahal, hanya sekitar IDR 30.000.

cnw (158)

Sebenarnya masih banyak hal lain yang saya alami di kota ini, hanya saja saya tidak sempat (atau lupa) mengambil fotonya saat itu, misalnya ;

1. Cuaca disana sejuk sekali. Terik mataharinya masih bisa ditolerir oleh saya.

2. Penduduk disana (baik cowo ataupun cewe) memiliki kulit putih serta good looking face, dan kebanyakan masih ada garis keturunan orang Belanda dari pihak kakek-nenek atau orangtua, jadi engga heran kalau nama mereka banyak yang kebarat-baratan disini.

3. Banyak gereja dimana-mana. Sejak turun dari airport, kami sudah menemukan banyak gereja Kristen dan Katolik di sepanjang jalan, dan hebatnya semua gereja tersebut selalu penuh.

4. Kami berempat sempat naik angkot disana, dan posisi duduknya sama seperti mobil, yaitu menghadap ke depan, bukan saling berhadap-hadapan seperti posisi duduk angkot di Jakarta, dan kebanyakan angkot memutar lagu rohani Nasrani.

5. Saya suka klapertaart yang dijual di Manado karena menggunakan daging kelapa muda dan ada kandungan rhum-nya. Teksturnya juga sangat lembut dan biasanya disajikan dingin.

6. Penduduk Manado gemar makan makanan yang terdengar asing di telinga kami, misalnya RW (Rintek Wuuk = daging anjing 😥 ), paniki (kelelawar), tinutuan (bubur), ikan nike, dan kawok (tikus). Ada satu teman saya yang asli dari Manado mengatakan bahwa kuantitas anjing di Manado akan berkurang menjelang hari raya Natal atau Tahun Baru, entah itu guyonan saja atau fakta. Nah, paniki itu kelelawar yang dibakar (supaya bulunya hilang) dan dimasak dalam santan. Sedangkan tinutuan adalah bubur yang terdiri dari sayur-sayuran, tidak ada daging, dan disajikan dengan perkedel ikan nike, ikan cakalang, perkedel jagung, dan sambal ikan roa. Kalau yang terdengar tidak asing di telinga ya seperti ayam rica, biba rica, biba kecap, ikan cakalang, dan ikan roa. Dari sekian banyak makanan asing itu, saya pribadi hanya mencoba tinutuan. Kog engga coba makanan lain? Yoh, jangankan dicoba, mendengar artinya saja sudah bikin saya geli. Geli bercampur kasihan dengan hewan-hewan tersebut, terutama si anjing 😦

7. Saya tidak mengerti dengan bahasa daerahnya 😀 😀 😀

Sebenarnya kami masih memiliki jadwal ke Tondano dan Bitung tapi tidak terlaksana sebab waktu kami sangat terbatas. Setelah hampir 2 minggu berada disana, kami berempat pun pulang ke Jakarta 🙂

Au revoir, Manado.

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

2 Comments

  1. Halo salam kenal,,,
    Lihat postingan ini jadi kangen Manado. Kedua orang tua saya asli sana tapi terakhir kesana sudah hampir 15 tahun yang lalu. Bahkan ke Bunaken belum pernah sama sekali. 😀
    Bagaimana Tinutuan nya setelah di coba?? 🙂

    Like

    1. Hai Sandrine, salam kenal juga. Thanks yah sudah lihat, baca, like, dan comment postnya 🙂
      Wah, sudah lama juga yah. Sekali-kali boleh balik kampung ni 😀
      Saya pribadi suka dengan tinutuannya karena saya gemar makan sayur dan ikan. Teksturnya juga pas di lidah, apalagi kalau masih hangat. Hehe.

      Like

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s