meNYEPI di BALI ( 3B )

Setelah menghabiskan sebagian besar energi dengan rafting di Sungai Ayung (read this), cacing-cacing di dalam perut saya pun mulai menabuh gendang. Oke sodara-sodara, saya lafaaaar sekali…..

Dan sampailah kami disini 😀

100_1703

Saya ini bukan pecinta bebek, makan bebek peking pun jarang sekali.

Tapi saya tidak akan pernah menolak untuk diajak ke Bebek Tepi Sawah (BTS) atau Bebek Bengil (BB) di Bali. I’ve heard from friends, both of the restaurants have a very good taste for duck, and I didn’t have any reason to say ‘no’ 🙂

Sambil menunggu Bli Wayan memesan makanan kami, saya pun ‘memanjakan’ mata dengan segala sesuatu di area BTS.

100_1699

100_1726 100_1735 100_1736 100_1737 100_1738 100_1723

100_1707 100_1708 100_1713 100_1715 100_1716And here’s our lunch 🙂

100_1717
Veggie soup and garlic bread for appetizer
100_1718
Our sambal. I prefer the left ones.
100_1721
Our main course, BTS’ fried duck
100_1722
Our dessert

😀 Bebek gorengnya enak banget! Benaran enak! Dagingnya empuk dan engga berminyak! 😀

For further information about BTS, please click here

Kami pun melanjutkan perjalanan. Kali ini Bli Wayan membawa kami ke Kintamani di daerah Bangli 🙂

100_1760
Mount Batur, Lake Batur
100_1747
Mount Batur
100_1742
Kintamani Puppy, IDR 400.000

Sebelum turun dari mobil, Bli Wayan mengingatkan kami untuk tidak menanggapi tawaran dari para penjual barang di sekitar wilayah Kintamani. Jika memang ingin membeli barang, Bli menyarankan kami untuk langsung membelinya tanpa menawar dengan si penjual. Setelah turun dari mobil, kami baru mengerti dengan maksud perkataan Bli tersebut. Para penjual barang di wilayah Kintamani memiliki sikap yang sangat agresif kepada setiap orang yang datang kesana, baik turis domestik maupun internasional.

Sejujurnya, saya sempat merasa terusik dengan kehadiran para penjual – menurut Bli bukan penduduk asli Bali – yang mendatangi kami tanpa henti, padahal kami sudah mengatakan ‘tidak’ sambil tersenyum kecil, tapi para penjual tersebut tetap saja mendatangi kami. Untungnya cuaca di Kintamani cukup dingin jadi kepala saya pun tetap dingin walaupun diusik seperti itu.

Haha.. Ya iya donk, masa jauh-jauh ke Kintamani untuk melihat pesona Gunung dan Danau Batur disana harus terusik hanya karena para penjual tersebut? 🙂

Kami tidak terlalu lama di Kintamani karena cuaca disana mulai mendung. Saat memasuki mobil, salah satu partner-in-crime saya didatangi oleh seorang penjual baju dan kain yang – entah mengapa – melemparkan bajunya ke dalam mobil, padahal partner-in-crime saya sudah menolaknya. Ketika partner-in-crime saya hendak mengembalikan baju dan kain kepada si penjual, eh si penjualnya tidak mau menerima kembali. Namun setelah dipaksa, penjualnya mau menerima kembali sambil menggerutu keras-keras. Haha.. Ada-ada saja..

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Tampak Siring yang dikenal dengan Tirtha Empulnya 🙂

100_1764
The entrance pathway
100_1804
The symbol is called as “swastika” too, but it’s different with the Nazi’s swastika

100_1830 100_1767 100_1769 100_1770 100_1771 100_1772 100_1775 100_1780 100_1782 100_1784 100_1786 100_1797 100_1800 100_1814

100_1813

100_1819 100_1820 100_1824

Kami sangat beruntung karena sedang ada upacara di Tampak Siring saat itu. Kami bisa melihatnya ( dan mengambil foto ) selama tidak membuat keributan disana. Satu hal yang cukup saya sesalkan adalah saya tidak membawa baju ganti lebih dari satu stel sehingga saya tidak bisa ‘nyemplung’ ke dalam kolam suci di Tirtha Empul 😦 😥

Awalnya Tampak Siring masuk ke itinerary di hari kelima, tetapi schedulenya berubah – di dalam perjalanan – sesuai dengan sikon waktu itu, jadinya saya tidak kepikiran untuk membawa baju lebih dari satu stel, hikssss…

Puas berkeliling lebih dari satu jam, kami pun memutuskan untuk pulang ke Denpasar. Kami punya dinner schedule di Ikan Bakar Cianjur (IBC). Baterai kamera saya sudah habis sehingga saya tidak bisa mengambil foto di perjalanan pulang dari Tampak Siring ke Denpasar 😦

By the way, IBC merupakan salah satu resto favorit saya di Jakarta. Saya suka gurame pesmolnya, tumis pucuk labunya, dan (tentu) nasi liwetnya 😀

Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk ke Krisna dulu baru pulang ke hotel. Cape? Tentu saja. Tapi saya tidak berniat untuk stayed lama-lama di hotel 😀

Rgds,

Ws 😉

Advertisements

Thank you for your comments

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s